Langsung ke konten utama

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kepuasan Publik Merosot Tajam ke Angka 44,5 Persen


Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN)di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 17/9/2026 (Foto hasil tangkapan layar dari presidenri.go.id)

MENJUAL HARAPAN — Memasuki dua tahun masa jajaran kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja pemerintah mengalami penurunan yang signifikan. Berdasarkan hasil survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 1 hingga 10 Oktober 2026, mayoritas publik kini menyatakan kurang atau tidak puas dengan kinerja presiden.

Survei yang melibatkan 1.213 responden dari seluruh Indonesia dengan metode double sampling dan stratified multistage random sampling ini mencatat margin of error sekitar 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.

Tren Penurunan Kepuasan Publik

Dalam temuan SMRC, warga yang merasa sangat atau cukup puas dengan kinerja Presiden Prabowo berada di angka 44,5% (terdiri dari 4,4% sangat puas dan 40,1% cukup puas). Sebaliknya, kelompok yang merasa kurang puas atau tidak puas sama sekali mencapai 53,4%, sementara 2,1% lainnya tidak menjawab atau tidak tahu.

Angka ini menunjukkan kemerosotan tajam jika dibandingkan dengan periode awal pemerintahan. Pada survei November 2025, tingkat kepuasan publik sempat menyentuh angka 81,2%, yang kemudian melandai ke 51,1% pada Juli 2026, hingga titik terendahnya di Oktober 2026 ini. Dalam kurun waktu satu tahun, angka kepuasan anjlok hingga 36,7%, sementara warga yang tidak puas membengkak dari 16% menjadi 53,4%.

Sentimen Negatif Ekonomi, Politik, dan Hukum

Analis SMRC menilai penurunan tajam ini erat kaitannya dengan memburuknya penilaian publik terhadap kondisi makro, baik di bidang ekonomi, politik, maupun penegakan hukum:

  • Ekonomi Nasional: Sebanyak 50,8% warga menilai kondisi ekonomi nasional saat ini dalam keadaan buruk atau sangat buruk, berbanding terbalik dengan 17,4% yang menilai baik.
  • Politik Nasional: Mayoritas publik (44,1%) menilai kondisi politik nasional dalam kategori buruk atau sangat buruk, sedangkan yang menilai baik hanya 17,6%.
  • Penegakan Hukum: Penilaian negatif terhadap penegakan hukum juga mendominasi di angka 40,6%, sementara yang menyatakan baik berada di tingkat 28,1%.

Sorotan Terhadap Masalah Mendesak dan Program Unggulan

Survei juga memotret isu-isu mendesak yang menjadi beban utama di tengah masyarakat. Masalah utama yang paling banyak dikeluhkan adalah mahalnya harga-harga kebutuhan pokok (30%), disusul oleh pemberantasan KKN (26,8%), dan pengurangan kemiskinan (14,7%).

Kinerja pemerintah dalam merespons isu-isu ini dinilai semakin memburuk oleh sebagian besar masyarakat:

Sebanyak 50,6% warga menilai kerja pemerintah dalam menjaga keterjangkauan harga pangan semakin buruk dibanding tahun lalu.

Terkait program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG), meskipun tingkat pengenalan (awareness) publik sangat tinggi mencapai 95,2%, tingkat kepuasan pelaksanaannya justru rendah. Sebanyak 61,4% dari warga yang tahu menyatakan kurang atau tidak puas dengan pelaksanaan MBG.

Demikian pula pada program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), kendati dikenal oleh 80,3% warga, sekitar 71% dari mereka merasa kurang atau tidak yakin program tersebut akan berkembang dan maju di daerah mereka.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, dua tahun perjalanan pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai oleh tantangan berat akibat persepsi negatif publik terhadap kestabilan ekonomi dan efektivitas penanganan masalah krusial di tingkat akar rumput.

Evaluasi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan ekonomi kerakyatan dan efektivitas program-program prioritas nasional ke depan. (***_267) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polytron Surabaya International Challenge 2026: Kejutan Salsabila Tumbangkan Unggulan Utama, Wakil Indonesia Melenggang dari Babak 32 Besar

  Salsabila Amiradana (Foto dok pbsi.id) MENJUAL HARAPAN — Kejutan besar mewarnai gelaran Polytron Surabaya International Challenge 2026 di babak 32 besar (R32) yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026) . Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Salsabila Amiradana, sukses mencuri perhatian usai menumbangkan unggulan pertama asal Thailand, Passa-Orn Phannachet, dua gim langsung . Kemenangan mengejutkan Salsabila ini melengkapi raihan positif sejumlah wakil Merah Putih lainnya yang juga berhasil mengamankan tiket ke babak berikutnya . Kejutan Manis Salsabila Amiradana Tampil tanpa beban, Salsabila tampil memukau saat menghadapi unggulan teratas Passa-Orn Phannachet . Ia menyegel kemenangan 21-14, 21-18 dalam laga yang berlangsung disiplin . "Alhamdulillah hari ini bisa bermain sesuai rencana dan dijauhkan dari cedera. Di gim pertama saya langsung masuk mainnya dan lawan pun kurang panas," ungkap Salsabila usai laga . Kunci keberhasilannya mengunci gim kedua—meski sempat tertingga...

Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres, Pratikno Jadi Ketua

Presiden Prabowo Subianto resmi menangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Istana Negara, Jakarta. Foto: BPMI Setpres/Kris MENJUAL HARAPAN — Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Dalam susunan baru tersebut, Pratikno ditetapkan sebagai Ketua merangkap anggota, Muhammad Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua merangkap anggota, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris merangkap anggota. Pengangkatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia . Pelantikan 26 anggota Wantimpres itu menandai terbentuknya susunan baru lembaga yang memiliki posisi sebagai bagian dari mekanisme pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan. 26 Nama dalam Susunan Wantimpres Berdasarka...

Anomali Tata Kelola dan Paradoks Kebijakan: Menagih Kehadiran Negara dalam Dialektika Hukum, Agraria, dan Pendidikan

Ringkasan Esai 1.       Pendahuluan: Membingkai perdebatan hukum, agraria, dan pendidikan dalam kerangka sosiologi politik dan tata kelola pemerintahan ( good governance ). 2.       Bedah Isu 1 (RUU Perampasan Aset): Mengkritik penyelewengan barang rampasan oleh oknum aparat dan menagih transparansi digital. 3.       Bedah Isu 2 (Uji Materiil KUHAP 2025): Menganalisis potensi hegemoni Polri atas PPNS serta risiko diskresi penggeledahan tanpa izin ( due process of law ). 4.       Bedah Isu 3 (Reforma Agraria): Menganalisis efektivitas kelembagaan LPRA langsung di bawah Presiden dalam meredistribusi tanah dan menyelesaikan konflik. 5.       Bedah Isu 4 (Dekolonisasi RUU Sisdiknas): Mengulas pemikiran Bonnie Triyana mengenai pentingnya menghapus bias kolonial terhadap penganut kepercayaan. 6.       Bedah Isu 5 (KIP Kuliah & Pagu Angg...