Langsung ke konten utama

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin*)

MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP).

Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih.

Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis?

Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik

Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kendali mutlak atas panggung formal pengambilan keputusan. Akan tetapi, dalam lanskap politik kontemporer, kekuatan tidak lagi sekadar urusan jumlah kursi di parlemen, melainkan tentang penguasaan narasi di ruang publik (Legitimasi Diskursif).

Tampaknya, di sinilah letak kegelisahan koalisi. Ketika PDIP memilih mengambil jarak dan secara konsisten menelanjangi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak populis atau cacat secara substansi, PDIP tidak sedang sekadar menyerang. Mereka sedang menyuarakan public distrust (ketidakpercayaan publik) yang selama ini tersumbat.

Kekritisan PDIP menjadi berbahaya bagi koalisi, oleh karena ia bertindak sebagai konduktor bagi kejenuhan masyarakat. Akibatnya, reaksi yang muncul dari partai-partai pendukung pemerintah cenderung emosional, dan defensif.

Sindiran yang terus-menerus dialamatkan kepada PDIP justru menjadi konfirmasi kasat mata bahwa kritik tersebut tepat sasaran dan berhasil mengganggu kenyamanan zona kekuasaan.

Ketakutan akan Delegitimasi

Dengan demikian, upaya partai koalisi untuk terus menyindir posisi PDIP sebagai partai penyeimbang sesungguhnya merupakan strategi framing untuk mendegradasi motif kritik tersebut.

Mereka ingin mengonstruksikan citra bahwa kritik PDIP hanyalah bentuk "sakit hati politik" atau sekadar manuver oportunis demi elektoral 2029.

Namun demikian, secara teoretis, dalam sistem presidensial dengan multipartai ekstrem seperti di Indonesia, keberadaan partai penyeimbang yang kuat merupakan oksigen bagi demokrasi itu sendiri. Tanpa adanya kekuatan penyeimbang, checks and balances akan lumpuh, dan pemerintahan akan terjebak dalam delusi infalibilitas—merasa selalu benar karena tidak ada yang berani menyalahkan.

Dalam tataran tersebut, gerahnya partai koalisi menunjukkan adanya gagasan keliru yang menganggap bahwa stabilitas politik hanya bisa dicapai melalui monolitisisme atau keseragaman sikap.

Ketika ada satu aktor besar yang menolak masuk dalam barisan "pemuja kebijakan", stabilitas semu yang mereka bangun mulai retak. Ketakutan terbesar koalisi bukanlah pada kejatuhan pemerintahan, melainkan pada rontoknya narasi keberhasilan yang selama ini mereka fabrikasi di media.

Catatan penutup

Ketegangan belakangan ini, niscaya perlu dibaca melampaui sekadar perseteruan antar-elite atau perebutan konsesi kekuasaan. Ini merupakan ujian bagi kedewasaan demokrasi kita.

Jika setiap kritik substantif dibalas dengan sinisme politik, dan setiap pandangan berbeda dianggap sebagai gangguan stabilitas, maka kita sedang bergerak mundur menuju otoritarianisme berbaju demokrasi.

Partai koalisi pemerintah seharusnya menyadari bahwa obat terbaik dari sebuah kritik adalah pembuktian kinerja, dan perbaikan kebijakan, bukan balik menyindir.

Menyerang balik pengkritik hanya memperlihatkan kekosongan argumen substantif di dalam internal koalisi itu sendiri.

Dengan demikian, riuh rendah atmosfer politik ini adalah hal yang sehat, sepanjang koridornya tetap pada perdebatan isi kebijakan, bukan pembunuhan karakter.

PDIP dengan pilihan politiknya saat ini tengah menjalankan fungsi alamiah parpol yang absen di mayoritas lini, menjadi penyambung lidah bagi kegelisahan rakyat.

Bagi koalisi pemerintah, pilihannya hanya dua: terus "kebakaran jenggot" dan terlihat antikritik, atau mulai membuka diri, berkaca, dan memperbaiki tata kelola pemerintahan yang tengah disorot tajam.*

*) Silahudin, Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung

Ikuti artikel lainnya disini



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Presiden Prabowo Subianto Lantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional

  Presiden Prabowo Subianto lantik Sudaryono sebagai BGNdi Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 22 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Cahyo   MENJUAL HARAPAN — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (22/7/2026) sore . Pelantikan ini menandai dimulainya kepemimpinan baru di lingkungan BGN untuk memperkuat akselerasi dan pelaksanaan program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG) . Pengangkatan Sudaryono tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional . Dalam prosesi tersebut, Presiden Prabowo memandu langsung pengambilan sumpah jabatan yang diucapkannya secara khidmat oleh pejabat terlantik . “Bahwa saya, akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Repub lik Indonesia tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi...

Mengabdi di Cangkuang, Mahasiswa Universitas Nurtanio Akselerasi Program "Desa Cerdas dan Masyarakat Berdaya"

  Sekdes Cangkuang, dalam memberikan sambutan penerimaan KKNMT Universitas Unnur Bandung dan didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (kiri), Selasa, 28/7/2026 BANDUNG, MENJUAL HARAPAN  – Dalam upaya mereduksi kesenjangan teknologi serta mendorong kemandirian masyarakat perdesaan, mahasiswa Universitas Nurtanio (Unnur) menggelar program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Terintegrasi (KKNMT) 2026 di Desa Cangkuang, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Mengusung tema besar "Desa Cerdas, Masyarakat Berdaya: Digitalisasi, Literasi Menuju Desa Mandiri Berkelanjutan" , kehadiran puluhan mahasiswa berjaket almamater biru ini disambut hangat oleh pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat dalam acara pembukaan dan sosialisasi program yang berlangsung di Aula Desa Cangkuang. Sinergi Mahasiswa KKNMT Universitas Nurtanio 2026 bersama Perangkat Desa dan Warga Cangkuang di Aula Desa Transformasi Digital hingga Pemberdayaan Ekonomi Program KKNMT kali ini berfokus pada penerjemahan konsep ...

Donny Ernawan dan Yos Sunitiyoso Dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia

Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Donny Ermawan dan Yos Sunitiyoso sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI) di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 22 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr MENJUAL HARAPAN JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi melantik Donny Ermawan Taufanto dan Yos Sunitiyoso masing-masing sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI) . Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (22/7/2026) sore . Pengangkatan kedua pimpinan perguruan tinggi tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia . Dalam prosesi pengucapan sumpah jabatan yang dipandu langsung oleh Presiden Prabowo, kedua pejabat yang dilantik menegaskan komitmen mereka untuk menjalankan amanah dengan penuh integri tas dan tanggung jawab . “Bahwa saya ...