Foto hasil tangkapan layar dari tirto.id MENJUAL HARAPAN - Dua puluh delapan tahun silam, pekik "Reformasi" bukan sekadar teriakan di atas aspal panas, melainkan sebuah kontrak sosial baru yang lahir dari rahim kegelisahan. Kita membayangkan Indonesia pasca-1998 sebagai sebuah taman demokrasi yang subur, di mana transparansi menjadi pupuk dan keadilan menjadi peneduhnya. Akan tetapi, berdiri di ambang pertengahan Mei 2026 ini, kita dipaksa untuk menatap cermin retak dari cita-cita tersebut. Apakah geliat itu masih ada, ataukah ia kini hanya menjadi artefak sejarah yang dipajang di museum narasi politik demi melegitimasi kekuasaan? Secara prosedural, kita memang telah "lulus" menjadi negara demokrasi. Seperti di antaranya ada pemilu yang terjaga dengan lima tahunan. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke dasar samudera politik kita, tampak jelas bahwa substansi demokrasi kita sedang mengalami dehidrasi hebat. Institusi-institusi yang dulu lahir sebagai...
Oleh: Sutisna Sj MENJUAL HARAPAN — Malam di ibu kota Arab Saudi itu bukanlah sekadar gulita gurun yang berselimut angin biasa. Jumat dini hari WIB (22/5/2026), atmosfer kota Riyadh menjelma menjadi teater megah tempat ribuan pasang mata menjadi saksi dari babak akhir sebuah penantian panjang. Al Nassr resmi mengunci mahkota juara Saudi Pro League musim ini setelah melumat Damac FC dengan skor mencolok 4-1. Di balik gemuruh perayaan tersebut, ada satu nama yang kembali menegaskan statusnya sebagai protagonis utama jagat sepak bola: Cristiano Ronaldo . Sejak peluit pertama ditiupkan oleh pengadil lapangan, aroma ketegangan begitu pekat terasa di udara. Ini adalah laga penentuan, sebuah duel di mana sejarah menuntut untuk ditulis. Beban ekspektasi publik Riyadh menggelayut di pundak para pemain Al Nassr. Namun, kematangan mental skuad asuhan taktik modern ini perlahan mencairkan kecemasan. Menit ke-34, kebuntuan itu akhirnya pecah. Berawal dari skema sepak pojok melengkung ya...