MENJUAL HARAPAN - Pada suatu senja yang tampak lebih tua dari biasanya, seorang penukar uang bernama Wira duduk di depan kios kecilnya di tepi alun-alun. Di atas papan elektronik yang menggantung miring, angka merah menyala seperti luka yang belum mengering: Rp17.896 untuk satu dolar . Orang-orang berlalu-lalang di depannya, tetapi tak seorang pun benar-benar berjalan; mereka seolah sedang diseret oleh angka itu menuju suatu tempat yang tak mereka kenal. Wira memperhatikan wajah-wajah yang datang silih berganti. Seorang ibu menggenggam daftar belanja yang semakin pendek setiap pekan. Seorang mahasiswa menghitung sisa uang kuliahnya dengan jari gemetar. Seorang pedagang menatap layar ponselnya seperti menatap surat kematian. Mereka semua membawa cerita yang berbeda, tetapi memiliki musuh yang sama: angka yang terus tumbuh tanpa pernah kenyang. Di tengah kota itu berdiri sebuah menara tinggi bernama Menara Dolar . Tidak ada yang tahu kapan ia dibangun. Sebagian orang percaya menara...
MENJUAL HARAPAN - Pagi tanggal 1 Juni datang tanpa suara. Matahari terbit seperti biasa, kendaraan tetap memenuhi jalan raya, dan layar-layar telepon tetap memancarkan berita yang berganti setiap detik. Akan tetapi, nun jauh di atas awan, seekor Garuda, terbang perlahan mengelilingi negeri yang pernah ia jaga dengan bangga. Garuda itu tampak gelisah. Ketika ia mengepakkan sayapnya, ia menyadari ada sesuatu yang hilang. Lima helai bulu emas yang dahulu berada di dadanya, tak lagi terlihat. Bulu-bulu itu bukan sembarang bulu. Masing-masing merupakan penyangga keseimbangan yang membuatnya mampu terbang tegak di tengah badai zaman. Hari itu, adalah hari lahir sebuah janji. Bertahun-tahun silam, di tengah pergolakan dan mimpi tentang kemerdekaan, lima bulu emas itu diberikan kepada Garuda sebagai bekal menjaga sebuah negeri bernama Indonesia . Sejak saat itu, negeri tersebut berdiri bukan hanya di atas tanah dan lautan, melainkan juga di atas nilai-nilai yang disepakati bersama. Gar...