Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label politik internasional

IMPERIALISME BERKEDOK PERDAMAIAN

Oleh Silahudin MENJUAL HARAPAN - GEMPURAN Amerika Serikat dan Israel terhadap negara berdaulat Iran pada tanggal 28 Februari 2026, tidak dapat disebut sebagai misi perdamaian kawasan, akan tetapi justru bersifat imperialisme.   Deru mesin jet tempur dan dentuman rudal di Timur Tengah, seolah merobek narasi stabilitas yang selama ini diagungkan di tribune- tribune PBB.   Memang, selama ini Amerika Serikat dan Israel acapkali menyebutnya sebagai ‘tindakan pengamanan preventif demi perdamaian global’.   Namun, bagi mereka yang jeli membaca peta kekuatan, istilah tersebut hanyalah eufemisme ultramodern dari sebuah konsep kuno Imperialisme.   Diplomasi dalam Wajah Agresi   Imperialisme abad ke- 21, tidak lagi datang dengan kapal- kapal VOC atau klaim kolonialisme fisik yang kasar.   Ia datang dengan jubah  " P hilanthropic Intervention"  atau  "Regional Stabilization."   Serangan AS dan Israel pada 28 Februari itu, bukti nyata menunjukka...

PEMBAJAKAN KEDAULATAN

Serangan AS ke Venezuela (Foto hasil tangkapan layar dari https://www.kbknews.id/) MENJUAL HARAPAN - Sejarah hubungan internasional , baru saja mencatat tinta hitam yang paling kelam di awal tahun 2026. Tindakan pemerintahan Donald Trump yang menginstruksikan operasi militer untuk menangkap kepala negara berdaulat di tanahnya sendiri , bukan lagi sekadar kebijakan luar negeri yang keras, melainkan sebuah anarkisme global. Apa yang terjadi di Caracas bukanlah sebuah pembebasan, melainkan "pembajakan kedaulatan" secara terang-terangan yang merobek paksa Piagam PBB dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Narasi yang dibangun Washington sangatlah klasik: penegakan hukum terhadap narko-terorisme dan perlindungan hak asasi manusia. Akan tetapi, d i balik tuduhan hukum tersebut, terdapat nafsu lama untuk mengamankan cadangan minyak terbesar di dunia. Trump tidak sedang bertindak sebagai polisi dunia, melainkan sebagai eksekutor kepentingan korporasi yang menggunakan kekuatan militer ...

Simbolisme Diplomatik Sebagai Bahasa Etik Antarbangsa

  “A handshake is not just a gesture—it is a performance of trust.” — Fahed Syauqi , peneliti simbolisme diplomatik modern   ( https://kumparan.com/ogi-cheetah/jabat-tangan-bicara-simbol-dan-nada-dalam-diplomasi-modern-254ZWuHoBQu ) MENJUAL HARAPAN - Dalam dunia diplomasi, tidak semua yang penting diucapkan. Seba gian besar justru ditampilkan—dalam gestur, dalam diam, dalam simbol. Tangan yang terulur dalam jabat erat, senyum yang tertahan, bahkan pilihan warna dasi atau urutan duduk dalam jamuan makan malam—semuanya adalah bagian dari bahasa diplomasi  yang tak tertulis, namun sarat makna. Simbolisme dalam diplomasi bukan sekadar ornamen. Ia adalah substansi yang dibungkus dalam bentuk . Dalam pendekatan konstruktivisme hubungan internasional, simbol-simbol ini membentuk norma, identitas, dan persepsi yang kemudian memengaruhi kebijakan luar negeri  (lihat: Substansi diplomasi modern kutipan pakar - Search ) . Seperti yang ditunjukkan dalam pertemuan antara Preside...

Membaca Dominasi dan Ketakutan dalam Arsitektur Internasional

“Power is not only what you have, but what the others think you have.” — Saul Alinsky , Rules for Radicals MENJUAL HARAPAN - Dalam sejarah hubungan internasional, kekuasaan tidak hanya dibangun dari militer dan ekonomi, melainkan juga dari persepsi. Ketika suatu bangsa dianggap berbahaya, dominan, atau tak terbendung, maka arsitektur global pun menyusun diri berdasarkan ketakutan. Ketakutan ini menciptakan aliansi, zona pengaruh, dan narasi ancaman yang membentuk kebijakan luar negeri hingga sistem keamanan regional. Kita hidup di dunia di mana epistemologi kekuasaan didominasi oleh asumsi tentang aktor yang berpotensi mengguncang tatanan. Dari “ancaman nuklir” Korea Utara hingga “pengaruh ekspansif” Tiongkok, narasi ini seringkali tidak sepenuhnya faktual—tetapi sangat menentukan arah geopolitik dunia. “To understand global power, one must first study its grammar: what is feared, who is framed, and how history is remembered.” — Shahrbanou Tadjbakhsh , Security as Emancipation Epistem...

Munculnya Paradigma Baru Dari Reruntuhan Dunia Lama

  “The future is not what it used to be.” — Paul Valéry , penyair dan filsuf Prancis   “Kita hidup di dunia yang penuh gejolak, di mana kepercayaan terhadap tatanan berbasis aturan semakin goyah.” — Susilo Bambang Yudhoyono, Tokyo Conference 2025  ( (lihat: Memotret Selatan Sebagai Gerakan Global - Universitas Gadjah Mada )   MENJUAL HARAPAN - Dunia hari ini berdiri di atas reruntuhan tatanan yang dulu diyakini stabil. Multilateralisme melemah, lembaga-lembaga internasional kehilangan legitimasi, dan krisis kepercayaan terhadap tata kelola global kian dalam. Pandemi, konflik bersenjata, perubahan iklim, dan disinformasi telah memperlihatkan bahwa sistem yang dibangun pasca-Perang Dunia II tak lagi mampu menjawab tantangan zaman.   (Lihat; Apa itu ‘Global South’ – kubu geopolitik yang sedang naik daun?   Apa itu ‘Global South’ – kubu geopolitik yang sedang naik daun? ) “Ketika satu negara menarik diri, harus ada negara lain yang siap melangkah maju. Dunia sa...