Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

RUU Masyarakat Adat, Antara Kepastian Hukum dan Keseimbangan Kepentingan

MENJUAL HARAPAN – RUU Masyarakat Adat yang tengah digodok di Baleg DPR RI bukan sekadar produk hukum baru, melainkan sebuah ujian bagi negara dalam menegakkan prinsip keadilan sosial. Dua rapat dengar pendapat terakhir memperlihatkan arah yang jelas: regulasi ini harus mampu menjembatani kepentingan masyarakat adat dengan kebutuhan investasi. Di satu sisi, Benny K. Harman menekankan bahwa undang-undang ini mesti dibangun di atas tiga fondasi: kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan. Ia mengingatkan agar regulasi tidak terjebak pada pendekatan lama yang berorientasi keamanan, melainkan harus beralih pada pendekatan dialogis yang menghormati hak komunitas adat. Pandangan ini menegaskan bahwa perlindungan masyarakat adat bukanlah penghalang pembangunan, melainkan syarat bagi pembangunan yang berkelanjutan. Di sisi lain, Iman Sukri menyoroti pentingnya melibatkan pelaku usaha dalam proses legislasi. Kehadiran perusahaan perkebunan dan industri dalam RDPU menunjukkan kesadaran bahw...

Rembun Merayap di Hulu Citarum

Hulu Sungai Citarum di Situ Cisanti (Foto hasil tangkapan layar dari Tempo.co)   MENJUAL HARAPAN - Rembun pagi itu turun dengan laku yang amat santun, merayap perlahan dari puncak-puncak Gunung Wayang seakan takut membangunkan mata air yang sedang terlelap. Di hulu Citarum, ia bertindak sebagai selimut sutra perak yang memeluk lekuk-lekuk tebing, menjaga rahasia kesucian alam yang belum terjamah oleh ketamakan. Air yang lahir dari rahim batu mengalir bening bagai air mata malaikat, meliuk bebas tanpa beban, menyapa akar-akar pohon besar yang meminumnya dengan rasa hormat. Dahulu kala, sungai ini merupakan sebuah altar peribadatan suci bagi kehidupan. Arusnya menyanyikan tembang purba tentang kesetiaan bumi kepada manusia, sebuah simfoni alam yang dideru oleh kepak sayap elang dan kecipak ikan-ikan yang menari riang di dasar lubuk. Setiap tetes airnya adalah darah kehidupan yang memberi napas pada hamparan sawah di hilir, menyuburkan peradaban yang tunduk pada hukum semesta. Manusi...

Retorika ‘Bebas Padam’ versus Realitas ‘Menyala Bergilir’: Menyoal Keadilan Energi di Luar Jawa

MENJUAL HARAPAN — Ruang Rapat Komisi XII DPR RI di Gedung Nusantara I, Senayan, mendadak senyap ketika sebuah eufemisme baru dilemparkan ke udara. Di hadapan Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo , frasa " menyala bergilir " hadir bukan sebagai lelucon, melainkan sebagai tamparan realitas atas klaim-klaim keberhasilan yang dinilai terlalu berpusat pada Pulau Jawa. Kamis, 2 Juli 2026, menjadi panggung konfrontasi antara angka-angka di atas kertas dengan jeritan harian masyarakat di daerah. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dipimpin oleh Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, PLN memaparkan laporan yang di atas kertas tampak impresif. Tiga agenda krusial dibahas: progres program listrik desa, ketahanan dan keandalan pasokan listrik nasional, serta realisasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Dalam paparannya, Dirut PLN menegaskan bahwa sejak 21 Juni 2026, sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) berada dalam kondisi aman. Intervensi...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Ketika Piala Dunia 2026 Menjadi Rumah Bagi Semua Bangsa

Oleh Silahudin*) MENJUAL HARAPAN - LAGA sepak bola tingkat dunia 2026 yang dikenal dengan FIFA Wolrd Cup 2026 tengah berlangsung di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dalam pergulatan sepak bola tersebut, tidak hanya tentang sebelas orang yang mengejar bola kulit di atas lapangan. Justru lebih dari itu. Sepak bola merupakan sebuah bahasa universal yang tidak membuthkan kamus untuk dipahami. Karenanya, kita tidak sekadar menyaksikan turnamen olahraga. Kita sedang berdiri di episentrum sebuah titik temu kebudayaan umat manusia yang paling kolosal abad ini. Turnamen menjadi 48 negara bukan sekadar angka di atas kertas kerja FIFA, melainkan sebuah undangan terbuka bagi etnis-etnis yang sebelumnya jarang terdengar di panggung utama. Dari sudut-sudut kecil Afrika, kepulauan Karibia yang eksotis, hingga pegunungan Balkan, semua membawa warna mereka masing-masing. Stadion tidak lagi sekadar menjadi arena tanding fisik, melainkan sebuah ruang inkubasi di mana berbaga...

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

"Kontrak Sosial" Delapan Pilar dalam RUU Polri

MENJUAL HARAPAN - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) baru saja memasuki babak baru. Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Ketiga atas UU Nomor 2 Tahun 2002, telah disahkan dalam Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (9/6/2026). Tentu, dokumen setebal ratusan halaman, menjanjikan transformasi besar. Akan tetapi, pertanyaannya tetap sama: apakah ini benar-benar revolusi mental institusional, atau sekadar tambal sulam birokrasi? RUU tersebut, bukan sekadar revisi pasal-pasal mati. Hal ini merupakan "kontrak sosial" baru antara polisi dan rakyat. Setidaknya ada delapan pilar yang menjadi tulang punggung perubahan ini, mulai dari usia pensiun yang lebih adaptif, hingga internalisasi kurikulum yang humanis. Delapan Fokus Pembaruan Poin pertama hingga kedelapan dalam revisi ini, sejatinya sedang mencoba melakukan "operasi jantung" terhadap kultur Polri. Dengan menegaskan arah transformasi yang transparan dan profesional, Polri ingin keluar dari bayang-bayang...

Arsitektur Tim di Grup K-L: Ujian Bagi Inggris, Portugal, dan Kroasia

  MENJUAL HARAPAN – Tampak pada dua grup terakhir, yaitu Grup K dan L Piala Dunia 2026 , tak kalah sengit. Inilah tim-tim pada grup K dan L TIM GRUP K TIM GRUP L 1.       Portugal 2.       RD Kongo 3.       Uzbekistan 4.       Kolombia 1.       Inggris 2.       Kroasia 3.       Ghana 4.       Panama Grup K: Pertemuan Bakat Individu dan Kekuatan Kolektif Grup K menyajikan perpaduan menarik antara tim yang sarat pengalaman dan tim yang sedang menanjak kekuatannya. Portugal , hadir dengan kedalaman skuad yang luar biasa dan bakat individu kelas dunia yang mampu memenangkan pertandingan melalui aksi magis di lapangan. Mereka selalu menjadi tim yang difavoritkan untuk mendominasi permainan dengan penguasaan bola y...