Langsung ke konten utama

Jangan Perkosa Hak Politik Rakyat di Pilkada

 


Pilkada langsung merupakan instrumen krusial untuk menjaga akuntabilitas eksekutif dan kedaulatan rakyat. Penarikan mandat pilih dari rakyat ke DPRD dinilai sebagai bentuk "kartelisasi politik" yang berisiko menciptakan pemerintahan quasi-parlementer yang tidak stabil di tingkat lokal.


Oleh Silahudin

Pemerhati Sosial Politik, Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung

 

MENJUAL HARAPAN WACANA pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) kepada DPRD tengah membayangi ruang publik. Di tengah dominasi koalisi mayoritas di parlemen, kekhawatiran akan terjadinya "kartelisasi politik" yang mencerabut hak konstitusional warga negara menjadi sangat nyata.

Memilih pemimpin secara langsung bukan sekadar seremoni elektoral lima tahunan, melainkan jantung dari kedaulatan rakyat (Pasal 1 UUD NRI 1945) yang tidak boleh ditawar dengan alasan efisiensi biaya maupun stabilitas politik semu. Oleh karena itu, upaya menarik kembali mandat rakyat ke tangan segelintir elite di DPRD, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat reformasi yang menginginkan kekuasaan kembali ke pangkuan pemilik aslinya.

Secara teoritis, Pilkada langsung merupakan konsekuensi logis dari sistem pemerintahan presidensial yang kita anut. Dalam sistem presidensial, eksekutif harus memiliki legitimasi yang kuat dan mandiri dari legislatif. Sebagaimana ditegaskan oleh Mainwaring dan Shugart (1997), kekuatan utama sistem presidensial terletak pada akuntabilitas langsung kepada pemilih, yang memberikan stabilitas karena masa jabatan eksekutif tidak bergantung pada dukungan harian mayoritas parlemen.

Menarik Pilkada ke DPRD akan mengubah watak presidensialisme lokal menjadi quasi-parlementer. Kepala daerah yang lahir dari rahim DPRD akan menghabiskan lebih banyak energi untuk melakukan "transaksi politik" demi menjaga dukungan fraksi-fraksi, ketimbang mengeksekusi program pembangunan bagi rakyat. Hal ini berisiko menciptakan kebuntuan pemerintahan (gridlock) jika hubungan personal antara kepala daerah dan pimpinan DPRD merenggang. Akibatnya, kebijakan publik tidak lagi didasarkan pada kebutuhan masyarakat, melainkan hasil kompromi meja makan para elite partai.

Dalam bingkai otonomi daerah, desentralisasi politik bertujuan untuk mendekatkan pelayanan publik dan memperkuat partisipasi warga. Pilkada langsung merupakan instrumen utama untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan memilih langsung, rakyat memiliki ikatan batin dan kontrak sosial yang tegas dengan pemimpinnya. Menurut Diamond (1999), partisipasi politik yang bermakna dalam level lokal adalah sekolah demokrasi bagi warga negara. Menghapus Pilkada langsung berarti menutup sekolah tersebut dan membiarkan rakyat menjadi penonton pasif dalam menentukan nasib daerahnya sendiri.

Argumentasi bahwa Pilkada langsung menyebabkan biaya tinggi dan korupsi, sesungguhnya adalah logika yang keliru. Korupsi tidak bermuara pada metode pemilihan, melainkan pada lemahnya penegakan hukum dan transparansi dana kampanye. Memindahkan pemilihan ke DPRD justru berpotensi menyuburkan "politik uang di ruang gelap" yang jauh lebih sulit dipantau oleh publik. Jika dalam Pilkada langsung politisi harus menyuap jutaan rakyat (yang secara logistik mustahil dilakukan secara menyeluruh), maka dalam Pilkada DPRD, mereka hanya perlu "meyakinkan" puluhan anggota dewan untuk memenangkan kursi kekuasaan.

Selanjutnya, secara hukum, hak untuk memilih dan dipilih adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Mahkamah Konstitusi dalam berbagai putusannya telah menekankan pentingnya kedaulatan rakyat dalam proses pengisian jabatan publik. Menyerahkan mandat tersebut kepada DPRD adalah bentuk delegitimasi terhadap suara rakyat. Seperti yang diungkapkan oleh Huntington (1991) dalam teori gelombang demokratisasinya, kemunduran demokrasi (democratic backsliding) seringkali dimulai dari pengikisan prosedur elektoral yang paling fundamental.

Kita harus mewaspadai apa yang disebut sebagai "tirani mayoritas" di parlemen. Ketika sebuah koalisi besar menguasai legislatif, terdapat godaan besar untuk menyeragamkan kekuasaan hingga ke tingkat daerah melalui penunjukan atau pemilihan lewat DPRD. Hal ini berbahaya karena akan menghilangkan mekanisme checks and balances. Kepala daerah yang dipilih oleh koalisi mayoritas DPRD tidak akan memiliki daya tawar untuk menolak keinginan partai-partai pendukungnya, sekalipun keinginan tersebut bertentangan dengan kepentingan publik daerah.

Otonomi daerah seharusnya memberikan ruang bagi keberagaman politik. Setiap daerah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang unik yang hanya dipahami oleh warga setempat. Dengan Pilkada langsung, warga daerah memiliki otonomi penuh untuk menentukan siapa yang paling layak memimpin mereka tanpa intervensi kepentingan nasional yang seringkali tidak relevan dengan isu lokal.

Memaksakan Pilkada lewat DPRD berarti menyeragamkan politik daerah di bawah kendali struktur partai pusat melalui perpanjangan tangannya di daerah.

Itu sebabnya, mempertahankan Pilkada langsung adalah harga mati bagi keberlangsungan demokrasi Indonesia. Kita tidak boleh membiarkan hak politik rakyat "diperkosa" oleh syahwat kekuasaan yang dibungkus dengan alasan efisiensi biaya. Demokrasi memang mahal, namun biaya kemunduran demokrasi jauh lebih mahal karena harus dibayar dengan hilangnya kedaulatan dan kesejahteraan rakyat.

Jangan biarkan suara rakyat dibungkam di balik pintu-pintu rapat DPRD yang tertutup. Jika Pilkada ditarik kembali ke DPRD, maka kita sedang berjalan mundur menuju era kegelapan otoritarianisme yang berbaju demokrasi prosedural. Mari kita jaga bersama marwah kedaulatan ini, karena sejatinya, pemimpin yang hebat adalah mereka yang lahir dari cinta dan kepercayaan rakyat, bukan dari hasil transaksi di lorong-lorong parlemen.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tatang Sudrajat, Dosen USB YPKP Terpilih Jadi Ketua Umum IDoKPI

BANDUNG, MENJUAL HARAPAN  - Bandung kembali mengukir sejarah dalam dinamika keilmuan pendidikan tinggi. Sabtu 9 Mei  2026, bertempat di Politeknik STIA LAN Bandung , para dosen kebijakan publik dari 114 perguruan tinggi se Indonesia, mendeklarasikan berdirinya Ikatan Dosen Kebijakan Publik Indonesia (IDoKPI). Dalam forum itu, Dr. Tatang Sudrajat, yang pernah jadi Dekan FISIP Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung, secara aklamasi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IDoKPI, sekaligus sebagai formatur pengurus tahun 2026-2030.        Menurut Tatang, latar belakang terbentuknya organisasi intelektual level nasional ini berkaitan dengan tuntutan terhadap peran aktif dosen kebijakan publik dalam merespon berbagai permasalahan publik. Hal ini termasuk dalam kaitan dengan beragam kebijakan pembangunan nasional pada berbagai bidang saat ini. Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini, dihadiri oleh 195 dari 252 dosen anggota IDoKPI ...

Semifinal Leg Kedua Liga Champions UEFA 2025/2026: Bayern Muenchen 1 – 1 Paris Saint-Germain

MENJUAL HARAPAN - Allianz Arena, Kamis dini hari WIB (7/5/2026), menjadi panggung drama penuh emosi. Bayern Muenchen dan Paris Saint-Germain saling beradu strategi dalam duel penentuan tiket ke final Liga Champions. Babak Pertama: Kejutan Cepat PSG   Pertandingan baru berjalan beberapa menit, Ousmane Dembélé memecah kebuntuan  berhasil membobol gawang kiper Bayern . Umpan terukur dari lini tengah PSG disambut dengan penyelesaian klinis, membuat publik Allianz Arena terdiam. Bayern yang tertinggal langsung meningkatkan intensitas serangan, namun kokohnya barisan pertahanan PSG membuat peluang demi peluang kandas.   Babak Kedua: Bayern Mengejar Waktu   Bayern tampil lebih agresif di paruh kedua. Serangan sayap, umpan silang, hingga tembakan jarak jauh dilancarkan, tetapi Gianluigi Donnarumma tampil gemilang di bawah mistar PSG. Waktu terus bergulir, dan seolah tiket final semakin menjauh dari genggaman Die Roten. Detik-Detik Menegangkan: Gol Kane di Ujung Laga   ...

Pekan ke-31 BRI Super League 2025/2026, Persib dan Borneo FC Pacuan Dua Kuda Yang Menegangkan

MENJUAL HARAPAN  - Melihat pekan ke-31 BRI Super League 2025/2026 ini bukan sekadar rutinitas jadwal, melainkan "pekan penegasan" . Persaing an menuju takhta juara kini telah mengerucut menjadi pacuan dua kuda ( two-horse race ) yang sangat menegangkan, sementara di papan bawah, nafas kehidupan mulai berembus bagi mereka yang sempat tercekik zona degradasi. Dualisme Takhta: Persib dan Borneo FC Tak Terbendung Puncak klasemen saat ini adalah cermin dari konsistensi yang luar biasa. Baik Persib Bandung  maupun Borneo FC Samarinda  sama-sama mengoleksi 72 poin . Persib (Menang 1-0 vs PSIM):  Pasukan Maung Bandung menunjukkan mentalitas juara yang pragmatis. Gol cepat Patricio Matricardi di menit ke-2 sudah cukup untuk mengamankan poin penuh. Meskipun Thom Haye menyebut mereka seharusnya bisa menang lebih besar, namun di fase krusial seperti ini, tiga poin lebih berharga daripada permainan cantik yang berisiko. Borneo FC (Menang 2-0 vs Persita):  Pesut Etam menjaw...