Langsung ke konten utama

Dehumanisasi Kompetensi Pendidik dan Krisis Karakter

 


Oleh Silahudin

Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung


MENJUAL HARAPAN RUANG publik seringkali menjadi laboratorium kejujuran yang lebih akurat daripada ruang kelas. Insiden peludahan oleh seorang pendidik terhadap seorang karyawan swalayan baru-baru ini menunjukkan betapa rapuhnya narasi karakter yang selama ini kita agungkan di institusi pendidikan.

Ada paradoks yang menyakitkan di sini. Di saat tuntutan profesionalisme dosen semakin diperketat dengan berbagai capaian literasi dan publikasi, kita justru menyaksikan dehumanisasi kompetensi yang akut.

Pendidikan yang seharusnya menjadi instrumen transformasi karakter justru tampak melahirkan "intelektual arogan" yang memandang status sosial sebagai imunitas untuk merendahkan sesama.

Peristiwa ini merupakan cermin retak bagi wajah pendidikan kita, sebuah peringatan keras bahwa kita sedang berada di tengah krisis karakter yang tak bisa lagi disembuhkan hanya dengan sertifikasi formal.

Secara optik sosiologis, fenomena ini sebagai bentuk kekerasan simbolik (symbolic violence) yang nyata. Meminjam pemikiran Pierre Bourdieu, gelar akademik dan jabatan fungsional telah bertransformasi menjadi modal budaya yang disalahgunakan untuk menegaskan dominasi kelas. Ketika sang pendidik merasa terhina karena ditegur oleh seorang kasir--yang secara stratifikasi ekonomi diposisikan sebagai "pelayan", terjadi guncangan pada ego hierarkisnya.

Peludahan itu bukanlah sekadar residu emosi, melainkan mekanisme primitif untuk menundukkan subjek yang dianggap berada di strata bawah. Di sini, kompetensi sosial sang dosen mengalami dehumanisasi; ia gagal mengenali kemanusiaan yang setara di balik seragam kerja orang lain.

Lebih jauh lagi, dalam kacamata antropologi melihat ini sebagai kegagalan enkulturasi adab dalam proses panjang pendidikan kita. Kita terjebak dalam "fetisisme administratif" di mana kompetensi pendidik direduksi menjadi deretan skor kognitif.

Institusi pendidikan tinggi cenderung memberikan panggung megah pada kompetensi profesional, seperti publikasi jurnal bereputasi, namun menempatkan kompetensi kepribadian di lorong-lorong gelap yang sunyi. Akibatnya, lahir profil intelektual dengan ketajaman kognitif luar biasa, namun tumpul secara empati dan gagap menghadapi gesekan sosial di dunia nyata.

Paulo Freire dalam mahakaryanya, Pedagogy of the Oppressed (1970), mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses humanisasi. "Pendidikan adalah kebebasan," tulisnya. Jika seorang pendidik gagal memanusiakan sesamanya di ruang publik, maka seluruh ornamen gelar di belakang namanya hanyalah aksesori kosong yang tak memiliki daya ubah bagi peradaban.

Kompetensi kepribadian seharusnya menjadi jangkar dari seluruh aktivitas akademik, bukan sekadar pelengkap yang divalidasi melalui kuesioner formalitas yang superfisial.

Kejadian tersebut, memaksa kita meninjau ulang kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) dalam institusi kita. Thomas Lickona (1991) menekankan bahwa karakter sejati adalah nilai-nilai dalam tindakan. Seseorang bisa saja mengetahui apa yang benar, namun tanpa perasaan moral dan kebiasaan bertindak baik, pengetahuan tersebut tidak akan berguna.

Kasus di Makassar adalah bukti autentik adanya disconnect antara penilaian moral dan perilaku nyata pada diri seorang pendidik yang seharusnya menjadi mercusuar moralitas.

Tampaknya, kita membutuhkan reformasi radikal. Kompetensi pendidik tidak boleh lagi diukur hanya dari seberapa banyak ia menulis di jurnal internasional (misalnya), melainkan dari bagaimana ia mempraktikkan etika dalam ruang sosial.

Keputusan institusi untuk menjatuhkan sanksi tegas adalah langkah awal yang perlu diapresiasi, kendati itu baru menyentuh gejala. Akar penyakitnya, yakni normalisasi kesombongan intelektual dan feodalisme akademik, harus dibongkar hingga ke fondasinya.

Sebagai refleksi bagi kita semua, adalah menyadari bahwa kompetensi sejati seorang dosen tidak diuji di podium wisuda, melainkan saat ia mampu menundukkan egonya di bawah panji kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika pendidik kehilangan kemampuan untuk menghormati manusia lain, maka ia telah kehilangan hak moralnya untuk mengajar. Intelektualitas tanpa moralitas bukanlah sebuah kemajuan, melainkan ancaman nyata bagi struktur sosial masyarakat kita.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selat Hormuz: Lautan Berubah Menjadi Tol Termahal di Dunia

  Selat Hormuz (foto hasil tangkapan layar dari https://www.kompas.com) MENJUAL HARAPAN - Ketegangan di Timur Tengah, utamanya akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke negara berdaulat Iran, tidak menyelesaikan persoalan, justru membawa rantai panjang bagi kepentingan dunia. Selat Hormuz , kini bukan lagi sekadar jalur perdagangan, melainkan "gerbang mahal" yang menentukan hidup-mati ekonomi global. D inamika kawasan ini selama dekade terakhir, eskalasi nya bukan lagi sekadar gertakan politik, melainkan pergeseran geopolitik yang memaksa dunia bertekuk lutut pada aturan baru Tehran.  Dan Selat Hormuz, kini merupakan selat paling krusial di dunia. Ketika Keamanan Menjelma Menjadi Komoditas Mahal Tak terbayangkan, sebuah kemacetan raksasa di tengah laut, dimana hampir 2.000 kapal tangker raksasa terombang-ambing tanpa kepastian.   Di sebelah utara, berdiri tebing-tebing kokoh Iran, sementara di selatan membentang pesisir Oman dan Uni Emirat Arab. Di celah sempit i...

Manchester United Raih Kemenangan Lawan Aston Villa, Nottingham Forest Imbang Vs Fulham

MENJUAL HARAPAN - Manchester United sukses kalahkan Aston Villa pada pekan ke-30 Premier League 2025-2026 yang diselenggarakan langsung di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris pada Minggu (15/3/2026). Manchester United membobol gawang kiper Aston Villa hingga 3 gol yang maisng-masing dicetak oleh  Cesemro pada menit ke-53, Matheus Cunha di menti ke-71 dan Benjamin Sesko pada menit ke-81.  Sedangkan satu gol Aston Villa terjadi di menit ke-64 yang dicetak oleh Ross Barkey. Aston Villa sempat menyamakan gol 1-1, namun setelah itu, tampak pemain Manchester United jauh mendominasi laga ini, sehingga Aston Villa kembali kebobolan di menit-menit berikutnya. Baca juga:  West Ham Vs Man City, Berskor Imbang, Chelsea Dikalahkan Newcastle Akhirnya hingga pertandingan, Aston Villa di markas MU harus menerima kekalahan 1-3 dari tuan rumah. Hasil tiga poin untuk Manchester United ini kini berada di posisi ke-3 dengan mengoleksi 54, sedangkan urutan berikutnya no ke-4 Aston Villa ...

Imbang Persija Jakarta Vs Dewa United, dan Borneo FC Akhirnya Menyamakan Kedudukan Gol Vs Persib

MENJUAL HARAPAN - Persija Jakarta ditahan imbang saat menjamu Dewa United pada pekan ke-25 BRI Super League 2025-2026. Skor gol 1-1 antara Persija Jakarta versus Dewa United, dimana lebih dulu tuan rumah membobol gawang lawannya pada menit ke-45+4 yang dicetak Marwell Souze. Keadaan kedudukan gol tuan rumah unggul lebih dahulu 1-0 itu hingga jeda. Akan tetapi, usai jeda, Dewa United pada menit ke-55 melalui Alexis Messidoro berhaisl menggetarkan gawang kiper Persija Jakarta, dan kedudukan menjadi sama 1-1. Hasil seri duel Persija Jakarta kontra Dewa United ini yang digelar langusng di Jakarta International Stadium (JIS) pada Minggu (15/3/2026). Berkat berbagi poin ini, Persija Jakarta kini berada di urutan ke-3 dengan mengoleksi 52 poin, sedangkan Dewa United menduduki posisi ke-9 dengan 34 poin klasemen BRI Super League 2025-2026 pekan ini. Adapun pada pertandingan lain di hari yang sama Minggu (15/3/2026), Borneo FC menjamu Persib Bandung. Duel dua papan atas ini, Persib Bandung yang...