Langsung ke konten utama

Populisme Fiskal Vs Rasionalitas Teknis: Pelajaran dari Jawa Barat

Gedung Satu (Foto hasil tangkapan layar dari https://koran.pikiran-rakyat.com)

Krisis fiskal Jawa Barat akibat gaya kepemimpinan populis menunjukkan pentingnya keseimbangan antara populisme dan teknokratisme. Populisme memberi legitimasi politik, dan kedekatan dengan rakyat, sementara teknokratisme menjaga rasionalitas, akuntabilitas, dan keberlanjutan kebijakan. Tanpa sintesis keduanya, populisme berisiko jatuh pada janji berlebihan tanpa realisasi, sedangkan teknokratisme murni bisa kehilangan dukungan rakyat. Kepala daerah idealnya merangkul rakyat sekaligus disiplin fiskal agar kebijakan tetap populer, efektif, dan berkelanjutan.


Oleh: Silahudin

Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung

 

MENJUAL HARAPAN - KEGAGALAN Pemerintah Provinsi Jawa Barat membayar kontraktor sebesar Rp 621 miliar pada akhir tahun anggaran 2025, bukan sekadar angka di neraca keuangan. Hal ini, cermin besar yang memperlihatkan bagaimana gaya kepemimpinan populis, meski mampu membangun kedekatan emosional dengan rakyat, ternyata tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan fiskal.

Populisme dalam pemerintahan memang punya daya tarik. Ia menghadirkan program-program yang “terlihat” secara langsung, menumbuhkan legitimasi politik, dan memperlihatkan keberpihakan pada rakyat kecil. Namun populisme yang berdiri sendiri tanpa dukungan teknokratisme sering jatuh pada jebakan klasik: over-promising dan under-delivering. Janji besar, realisasi kecil.

Sebaliknya, kepemimpinan teknokratis yang berorientasi pada data, prosedur, dan disiplin fiskal, sering dianggap dingin, kaku, dan kurang responsif terhadap aspirasi rakyat. Padahal, teknokratisme menyediakan fondasi rasional yang menjaga keberlanjutan kebijakan publik. Osborne & Gaebler (1992) pernah mengingatkan bahwa birokrasi modern harus mampu “steer rather than row”--mengendalikan arah pembangunan dengan efisiensi, bukan sekadar mengerjakan semua tuntutan politik.

Dalam konteks pemerintahan daerah, sintesis antara populisme dan teknokratisme menjadi kunci. Populisme diperlukan untuk menjaga legitimasi politik dan memastikan kebijakan tidak tercerabut dari kebutuhan rakyat. Sementara teknokratisme diperlukan untuk memastikan kebijakan tersebut realistis, berkelanjutan, dan akuntabel. Denhardt & Denhardt (2003) menekankan bahwa New Public Service menuntut keseimbangan antara responsiveness (melayani rakyat) dan responsibility (menjaga akuntabilitas fiskal).

Kasus Jawa Barat menunjukkan betapa ekstrem populisme tanpa teknokratisme berujung pada krisis fiskal. Saldo kas daerah yang hanya tersisa Rp 500.000 adalah bukti nyata bahwa energi politik tanpa kerangka rasional bisa berbahaya. Akan tetapi, ekstrem teknokratisme tanpa populisme juga berisiko, yaitu kehilangan dukungan rakyat dan legitimasi politik.

Oleh karena itu, kepemimpinan daerah idealnya mengintegrasikan keduanya. Populisme sebagai energi politik, teknokratisme sebagai kerangka rasional. Dengan sintesis ini, pemerintah daerah bisa menghadirkan kebijakan yang sekaligus populer, efektif, dan berkelanjutan.

Krisis fiskal Jawa Barat seharusnya menjadi alarm keras bagi semua kepala daerah di Indonesia. Jangan terjebak dalam romantisme populisme semata, tetapi juga jangan tenggelam dalam dinginnya teknokratisme. Jalan tengah adalah kepemimpinan yang mampu merangkul rakyat sekaligus menjaga disiplin fiskal.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Polytron Surabaya International Challenge 2026: Kejutan Salsabila Tumbangkan Unggulan Utama, Wakil Indonesia Melenggang dari Babak 32 Besar

  Salsabila Amiradana (Foto dok pbsi.id) MENJUAL HARAPAN — Kejutan besar mewarnai gelaran Polytron Surabaya International Challenge 2026 di babak 32 besar (R32) yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026) . Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Salsabila Amiradana, sukses mencuri perhatian usai menumbangkan unggulan pertama asal Thailand, Passa-Orn Phannachet, dua gim langsung . Kemenangan mengejutkan Salsabila ini melengkapi raihan positif sejumlah wakil Merah Putih lainnya yang juga berhasil mengamankan tiket ke babak berikutnya . Kejutan Manis Salsabila Amiradana Tampil tanpa beban, Salsabila tampil memukau saat menghadapi unggulan teratas Passa-Orn Phannachet . Ia menyegel kemenangan 21-14, 21-18 dalam laga yang berlangsung disiplin . "Alhamdulillah hari ini bisa bermain sesuai rencana dan dijauhkan dari cedera. Di gim pertama saya langsung masuk mainnya dan lawan pun kurang panas," ungkap Salsabila usai laga . Kunci keberhasilannya mengunci gim kedua—meski sempat tertingga...

Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres, Pratikno Jadi Ketua

Presiden Prabowo Subianto resmi menangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Istana Negara, Jakarta. Foto: BPMI Setpres/Kris MENJUAL HARAPAN — Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Dalam susunan baru tersebut, Pratikno ditetapkan sebagai Ketua merangkap anggota, Muhammad Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua merangkap anggota, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris merangkap anggota. Pengangkatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia . Pelantikan 26 anggota Wantimpres itu menandai terbentuknya susunan baru lembaga yang memiliki posisi sebagai bagian dari mekanisme pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan. 26 Nama dalam Susunan Wantimpres Berdasarka...

Anomali Tata Kelola dan Paradoks Kebijakan: Menagih Kehadiran Negara dalam Dialektika Hukum, Agraria, dan Pendidikan

Ringkasan Esai 1.       Pendahuluan: Membingkai perdebatan hukum, agraria, dan pendidikan dalam kerangka sosiologi politik dan tata kelola pemerintahan ( good governance ). 2.       Bedah Isu 1 (RUU Perampasan Aset): Mengkritik penyelewengan barang rampasan oleh oknum aparat dan menagih transparansi digital. 3.       Bedah Isu 2 (Uji Materiil KUHAP 2025): Menganalisis potensi hegemoni Polri atas PPNS serta risiko diskresi penggeledahan tanpa izin ( due process of law ). 4.       Bedah Isu 3 (Reforma Agraria): Menganalisis efektivitas kelembagaan LPRA langsung di bawah Presiden dalam meredistribusi tanah dan menyelesaikan konflik. 5.       Bedah Isu 4 (Dekolonisasi RUU Sisdiknas): Mengulas pemikiran Bonnie Triyana mengenai pentingnya menghapus bias kolonial terhadap penganut kepercayaan. 6.       Bedah Isu 5 (KIP Kuliah & Pagu Angg...