Langsung ke konten utama

Atletico Madrid Petik Kemenangan Lawan Espanyol

 

MENJUAL HARAPAN Pekan ke-25 Liga Spanyol 2025-2026 Minggu dini hari WIB (22/2/2026) menyuguhkan pertandingan antara Atletico Madrid versus Espanyol.

Duel kedua tim ini berlangsung digelar di Civitas metropolitano, Madrid, dimana pada pertandingan ini, tuan rumah Atletico Madrid pada menit ke-6 kebobolan lebih dulu gawangnya.

Espanyol unggul sementara pada menit ke-6 melalui tendangan Jofre Carreras.

Akan tetapi, tuan rumah Atletico Madrid berhasil membalasnya pada menit ke-21 lewat tendangan Alexander Sorloth, sehingga kedudukan sama menjadi 1-1.

Kedudukan 1-1 ini tidak terjadi perubahan lagi hingga pertandingan jeda.

Baca juga: Betis Ditahan Rayo, Osasuna Kalahkan Madrid

Usai istirahat, kedua kesebelasan kembali ke lapangan melanjutkan duel babak kedua.

Duel di babak kedua ini, sengit dan menegangkan, saling menekan dan mengancam gawang kiper terjadi.

Berkat serangan yang terurs dijalankan Atletico Madrid, membuhakan gol pada menit ke-49 lewat tendangan Giuliano Simeorie.

Tuan rumah unggul 2-1 ini berlanjut pada menit ke-58, Ademola Lookman berhasil menggetarkan gawang kiper Espanyol, sehingga kedudukan kembali berubah menjadi 3-1.

Tertinggal jauh Espanyol, berusaha melakukan aksi-aksi menyerangnya ke pertahanan Atletico Madrid, namun acapkali buntuk karena hadangan pemain tuan rumah.

Memasuki menit ke-72, serangan pemain tuan rumah kembali membuahkan gol lewat tendangan Alekander Sorloth.

Tuan rumah unggul 4-1, pertandingan makin sengit yang diperagakan oleh kedua kesebelasan ini. Espanyol yang tertinggal cukup jauh berusaha meningkatkan serangannya ke pertahanan Atletico Madrid.

Serangan Espanyol baru membuahkan gol pada menit ke-80 lewat tendangan Edu Expositi, sehingga kedudukan berubah menjadi 2-4.

Akan tetapi, dengan waktu makin menipis, silih berganti menyerang kedua tim ini, tidak menciptakan gol kembali hingga pertandingan berakhir.

Atletico Madrid berhasil memenangkan pertandingan ini dengan 4-2 dari Espanyol, dan Atletico madrid berada di urutan ke-4 dengan 48 poin, sedangkan Espanyol berada di posisi ke-6 dengan mengoleksi 35 poin klasemen La Liga. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...