Langsung ke konten utama

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi


Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com

MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik.

Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga.

Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat.

“Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek produktivitas masyarakat dan keberlangsungan ekonomi keluarga,” ujar Puan dalam keterangan tertulisnya, dikutif dari parlementaria, Senin (22/6/2026).

Rantai Pasokan Terganggu, Dapur Umum Terpukul

PLN sendiri telah menyampaikan permohonan maaf dan mengungkapkan bahwa krisis setrum ini dipicu oleh gangguan pasokan batu bara berkalori menengah (medium range coal) serta kendala teknis pada dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) besar milik swasta (Independent Power Producer/IPP). Walau Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo telah menghadap Presiden Prabowo Subianto dan menyatakan sistem kelistrikan berangsur membaik, proses evaluasi total tidak boleh berhenti.

Sebab di lapangan, dampak ketiadaan energi ini melampaui sekadar padamnya lampu. Di balik layar gawai dan media sosial, keluhan warga bergulir bak bola salju:

·         Sektor Kuliner Mikro: Pedagang soto di Pasar Legi Solo kehilangan kesempatan berjualan. Penjual es di Bekasi dihantui kerugian karena dagangannya mencair, hingga pelaku usaha bakery rumahan yang terpaksa membuang bahan roti setengah jadi karena mesin adonan tak bisa berputar.

·         Ruang Domestik Ibu dan Anak: Jerit histeris anak-anak yang kepanasan di dalam rumah berpadu dengan kecemasan para ibu menyusui yang terpaksa membuang stok ASI perah (ASIP) mereka karena mencair akibat freezer mati.

·         Pekerja Era Digital: Para pekerja jarak jauh (remote workers) yang menggantungkan hidup pada jaringan internet rumah terpaksa gigit jari dan menghentikan aktivitasnya.

Ketimpangan Sosial dalam Akses Energi

Sorotan tajam diarahkan pada aspek keadilan sosial dalam pelayanan publik. Saat pemadaman terjadi, kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dan sektor informal menjadi pihak yang paling ringkih karena tidak memiliki kapital untuk sistem kelistrikan alternatif. Bagi mereka, listrik dari PLN adalah satu-satunya urat nadi.

“Dalam konteks ekonomi nasional yang masih menghadapi tekanan daya beli, setiap jam pemadaman listrik bagi pedagang kecil berarti kehilangan pendapatan. Sektor-sektor inilah yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian kita,” tegas Puan.

Catatan: Menguji Ketahanan Nasional dari Sebuah Saklar

Insiden mati lampu massal ini menjadi alarm keras bagi tata kelola energi nasional. Ketahanan energi bukan lagi sekadar angka di atas kertas seminar atau laporan korporasi; ia adalah fondasi layanan kesehatan di rumah sakit, jalannya pendidikan, komunikasi, hingga urusan perut jutaan pelaku UMKM.

Transparansi mengenai akar masalah harus dibuka lebar ke publik. Di tengah ambisi pertumbuhan ekonomi, pemadaman berkala ini menjadi pengingat pahit bahwa infrastruktur dasar kita masih rapuh. Evaluasi besar-besaran adalah harga mati agar ke depan, rakyat kecil tidak lagi harus menanggung rugi akibat saklar yang mendadak padam. (S_267)

 

Sumber berita: dpr.go.id “Puan Tegaskan PLN Harus Mitigasi Dampak Pemadaman Listrik Bergilir" (diakses, 22/6/2026)


Baca juga:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Derby della Mole Berakhir Dramatis: Torino Paksa Juventus Berbagi Angka di Laga Penutup

MENJUAL HARAPAN — Pertarungan bertajuk Derby della Mole pada pekan ke-38 Serie A musim 2025-2026 menyajikan drama yang menguras emosi. Bermain di Stadion Grande Torino , Senin dini hari WIB (25/5/2026), tuan rumah Torino sukses melakukan comeback heroik untuk memaksakan hasil imbang 2-2 atas raksasa kota, Juventus. Dominasi Dusan Vlahovic dan Respon Berani Tuan Rumah Juventus, yang datang dengan ambisi menutup musim di papan atas, langsung tampil menekan sejak menit awal. Bianconeri berhasil membuka keunggulan lebih dulu melalui aksi sang bomber, Dusan Vlahovic , pada menit ke-23. Skor 1-0 untuk keunggulan tim tamu bertahan hingga turun minum. Memasuki babak kedua, Juventus kembali melebarkan jarak. Vlahovic, yang tampil klinis, mencatatkan brace alias gol keduanya pada menit ke-53. Situasi tampak genting bagi Torino, namun skuad asuhan tuan rumah justru menunjukkan mentalitas pantang menyerah. Hanya berselang enam menit setelah gol kedua Juventus, Torino memberikan ...

Final Liga Champions UEFA: PSG Taklukkan Arsenal Lewat Drama Adu Penalti

MENJUAL HARAPAN – Arena Puskas, Budapest , Minggu (31/5/2026) dini hari WIB, menjadi saksi bisu pecahnya kebuntuan panjang Paris Saint-Germain (PSG) di kancah Eropa. Dalam laga final Liga Champions 2025-2026 yang menguras emosi, raksasa Prancis tersebut akhirnya sukses mengangkat trofi "Si Kuping Besar" setelah menundukkan perlawanan sengit Arsenal lewat drama adu penalti yang menegangkan. Bagi Arsenal, malam ini adalah mimpi yang tertunda. The Gunners sejatinya memulai laga dengan sempurna. Belum genap lima menit peluit dibunyikan, pendukung Arsenal sudah bergemuruh. Kai Havertz , dengan ketenangan kelas dunia, berhasil membungkam pertahanan PSG dan membuka keunggulan. Gol cepat tersebut seolah menjadi sinyal bahwa trofi Liga Champions akan segera mendarat di London Utara. Hingga turun minum, disiplin taktik Arsenal mampu meredam setiap upaya serangan dari lini depan PSG. Namun, sepak bola adalah permainan dua babak, dan PSG tidak berniat pulang dengan tangan hampa. Memas...