MENJUAL
HARAPAN — Di tengah
kompleksitas pembangunan daerah, Kota Salatiga berhasil membuktikan bahwa
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat tidak melulu soal angka dan
infrastruktur fisik. Fondasi utama kemajuan justru tertanam kuat pada modal
sosialnya: kerukunan dan toleransi antarwarga.
Apresiasi tinggi ini disampaikan oleh Anggota Badan
Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Cellica Nurrachadiana, dalam kunjungan
kerjanya di Salatiga, Minggu (21/6/2026). Ia
menggarisbawahi keberhasilan Salatiga yang sukses menduduki peringkat teratas
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Jawa Tengah.
Angka IPM di Atas 86: Sebuah
Pencapaian Langka
Bukan
rahasia lagi di kalangan pengamat kebijakan publik bahwa mendongkrak angka IPM
adalah tantangan yang teramat berat. Parameter yang diukur
sangat kompleks, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, fasilitas
infrastruktur, hingga pendapatan per kapita.
"Naik satu digit saja itu sangat sulit sekali
karena parameternya multidimensi. Jadi, melihat Salatiga kini mencatatkan angka
IPM di atas 86, ini adalah keberhasilan yang luar biasa untuk sebuah
daerah," ujar Cellica.
Hebatnya lagi, meroketnya angka IPM ini berjalan
beriringan dengan melandainya kurva kemiskinan dan angka pengangguran terbuka
di kota tersebut yang kini tercatat cukup rendah.
Labirin Etnis yang Menyatu dalam Damai
Secara
sosiologis, Salatiga adalah sebuah miniatur Indonesia yang unik. Kota
ini dihuni oleh setidaknya 30 etnis yang berbeda. Namun, alih-alih menjadi pemicu gesekan sosial,
keberagaman ini justru dikelola menjadi energi positif.
Stabilitas keamanan dan kenyamanan lingkungan yang
tercipta dari masyarakat yang guyub (rukun) inilah yang kemudian membuat roda
perekonomian dan program kerja pemerintah daerah dapat berputar tanpa hambatan. Efek
domino positif ini terbukti membawa Salatiga menyabet predikat sebagai Kota
Paling Toleran di Indonesia selama delapan kali berturut-turut.
"Masyarakatnya kompak, konsisten, dan punya
komitmen tinggi untuk menjaga keberagaman. Iklim kondusif inilah yang menjadi
alasan fundamental mengapa capaian-capaian terbaik, termasuk IPM yang tinggi,
bisa diraih oleh Salatiga," tambah legislator tersebut.
Resep Dapur Salatiga: Sinergi Tanpa
Sekat
Ketika
dikulik lebih dalam mengenai resep di balik konsistensi menjaga predikat kota
toleran tersebut, Cellica menegaskan bahwa ini bukan hasil kerja instan,
apalagi klaim sepihak dari kelompok tertentu.
Keberhasilan Salatiga adalah buah dari kerja kolektif dan sinergi total dari akar rumput hingga pemangku kebijakan teratas. Iklim toleransi ini dirawat secara sadar oleh:
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang aktif bergerak.
Tokoh agama dan budayawan yang konsisten menyuarakan kedamaian.
Dukungan penuh pemerintah daerah dalam memfasilitasi ruang-ruang inklusif.
Seluruh lapisan masyarakat Salatiga yang menolak untuk terpecah belah.
"Ini bukan kerja satu-dua kelompok atau satu-dua orang. Ini adalah kerja keras, komitmen, dan konsistensi dari seluruh masyarakat Kota Salatiga. Itulah kunci utamanya," pungkas Cellica.
Salatiga kembali mengirimkan pesan berharga bagi kota-kota lain di Indonesia: bahwa merawat kemanusiaan dan merajut toleransi adalah investasi jangka panjang terbaik untuk membangun sebuah peradaban kota yang sejahtera. (**_267)
Sumber berita: dpr.go.id "Kerukunan dan Toleransi Jadi Kunci Dongkrak IPM Salatiga" (diakses 22/6/2026)
Baca juga:
KPK Diminta Usut Tuntas Dugaan Korupsi Perizinan WNA di Bali
Ikuti berita lainnya
Komentar