Langsung ke konten utama

Melankolis OTT: Drama yang Demonstratif

MENJUAL HARAPAN - Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap seorang hakim di Depok pada Februari 2026 ini, melengkapi katalog panjang kegagalan kita dalam memaknai keadilan. Narasi penangkapan yang heroik, pengumuman barang bukti ratusan juta rupiah yang teatrikal, hingga sorot lampu kamera di Gedung Merah Putih kini tak lebih dari sebuah "Melankolis OTT"—sebuah kesedihan yang berulang, namun dirayakan sebagai prestasi.

Kita terjebak dalam drama yang sangat demonstratif, namun secara substantif kosong.

Efek Jera yang Menguap dalam Teater Hukum

Mengapa penangkapan hakim terus terjadi? Jawabannya terletak pada sifat OTT yang kian hari kian kehilangan daya kejutnya.

OTT telah menjadi ritual birokratis. KPK menangkap, publik bersorak, tersangka masuk penjara, lalu beberapa tahun kemudian mendapatkan diskon hukuman melalui remisi atau peninjauan kembali. Drama ini hanya menyasar dahan yang busuk, namun membiarkan akar sistem peradilan tetap lembap oleh air suap.

Bagi para praktisi hukum yang korup, terjaring OTT dianggap sebagai kecelakaan kerja atau "nasib buruk" karena kurang rapi dalam bertransaksi, bukan sebagai konsekuensi mutlak dari kejahatan. Selama hukuman pemiskinan total belum menjadi standar emas, risiko ditangkap hanyalah variabel kecil dalam kalkulasi kekayaan.

Anatomi Kegagalan: Mengapa Korupsi Yudisial Masih Kokoh?

Korupsi di sektor yudisial adalah jenis korupsi paling purba dan paling destruktif. Ketika hakim—yang secara filosofis adalah "wakil Tuhan"—bisa dibeli dengan ratusan juta rupiah, maka hukum bukan lagi tempat mencari keadilan, melainkan pasar malam tempat transaksi kepentingan.

Kegagalan ini berakar pada tiga titik krusial:

Monopoli Kebenaran di Meja Hijau: Hakim memiliki diskresi luar biasa besar tanpa sistem check and balances yang bersifat real-time.

Gaya Hidup yang Melampaui LHKPN: Pengawasan kekayaan pejabat seringkali hanya formalitas administratif di atas kertas, tanpa audit investigatif yang agresif di lapangan.

Budaya Kolegialitas yang Salah Kaprah: Lingkungan peradilan seringkali terperangkap dalam solidaritas korps yang menutup-nutupi borok internal ketimbang melakukan pembersihan mandiri.

Memulai Operasi Senyap Sistemik

Kita harus berhenti terpesona pada kemasan drama OTT yang demonstratif. Pemberantasan korupsi yang sejati tidak berisik; ia bekerja dalam sunyi melalui sistem yang mematikan ruang gerak koruptor.

"Keadilan tidak ditegakkan dengan berapa banyak orang yang kita kirim ke penjara, melainkan dengan seberapa mustahil seseorang bisa mencuri tanpa kehilangan segalanya."

OTT di Depok ini harus menjadi titik balik untuk menanggalkan mentalitas "pemadam kebakaran". Kita membutuhkan mekanisme pemiskinan seketika (lewat UU Perampasan Aset) dan revolusi transparansi yudisial yang tidak menyisakan ruang gelap sedikit pun bagi hakim untuk bernegosiasi dengan pengacara.

Mengakhiri Melankolia

OTT tidak boleh hanya menjadi tontonan publik yang menghibur di tengah dahaga keadilan. Jika negara tetap membiarkan instrumen hukumnya hanya sebatas "menangkap" tanpa "mematikan" sumber daya finansial pelaku, maka kita akan terus terjebak dalam melankolia yang sama di tahun-tahun mendatang: menonton drama penangkapan yang sama, oleh aktor yang berbeda, dengan luka bangsa yang semakin menganga.*



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBAJAKAN KEDAULATAN

Serangan AS ke Venezuela (Foto hasil tangkapan layar dari https://www.kbknews.id/) MENJUAL HARAPAN - Sejarah hubungan internasional , baru saja mencatat tinta hitam yang paling kelam di awal tahun 2026. Tindakan pemerintahan Donald Trump yang menginstruksikan operasi militer untuk menangkap kepala negara berdaulat di tanahnya sendiri , bukan lagi sekadar kebijakan luar negeri yang keras, melainkan sebuah anarkisme global. Apa yang terjadi di Caracas bukanlah sebuah pembebasan, melainkan "pembajakan kedaulatan" secara terang-terangan yang merobek paksa Piagam PBB dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Narasi yang dibangun Washington sangatlah klasik: penegakan hukum terhadap narko-terorisme dan perlindungan hak asasi manusia. Akan tetapi, d i balik tuduhan hukum tersebut, terdapat nafsu lama untuk mengamankan cadangan minyak terbesar di dunia. Trump tidak sedang bertindak sebagai polisi dunia, melainkan sebagai eksekutor kepentingan korporasi yang menggunakan kekuatan militer ...

Tatap Pemilu 2029, PDIP Perluas Struktur Rakernas Jadi 7 Komisi

  Foto dok. DPP PDI Perjuangan JAKARTA , MENJUAL HARAPAN   – Bertepatan dengan peringatan HUT ke-53, PDI Perjuangan resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara. Rakernas kali ini tampil beda dengan membawa format organisasi yang lebih gemuk dan substansial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa forum tertinggi partai ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum krusial untuk melakukan evaluasi total melalui kritik dan otokritik. Hal ini dilakukan guna mempertajam arah perjuangan partai dalam menjawab berbagai persoalan bangsa yang kian kompleks. Fokus pada Persoalan Rakyat Langkah nyata dari penguatan struktur ini terlihat dari pembentukan **tujuh komisi kerja**, melonjak signifikan dari format sebelumnya yang biasanya hanya terdiri dari tiga komisi utama. “Penambahan komisi ini adalah bukti bahwa partai menaruh skala priori...

Populisme Fiskal Vs Rasionalitas Teknis: Pelajaran dari Jawa Barat

Gedung Satu (Foto hasil tangkapan layar dari  https://koran.pikiran-rakyat.com ) K risis fiskal Jawa Barat akibat gaya kepemimpinan populis menunjukkan pentingnya keseimbangan antara populisme dan teknokratisme . P opulisme memberi legitimasi politik , dan kedekatan dengan rakyat, sementara teknokratisme menjaga rasionalitas, akuntabilitas, dan keberlanjutan kebijakan. Tanpa sintesis keduanya, populisme berisiko jatuh pada janji berlebihan tanpa realisasi, sedangkan teknokratisme murni bisa kehilangan dukungan rakyat. Kepala daerah idealnya merangkul rakyat sekaligus disiplin fiskal agar kebijakan tetap populer, efektif, dan berkelanjutan. Oleh: Silahudin Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung   MENJUAL HARAPAN - KEGAGALAN Pemerintah Provinsi Jawa Barat membayar kontraktor sebesar Rp 621 miliar pada akhir tahun anggaran 2025, bukan sekadar angka di neraca keuangan. Hal ini, cermin besar yang memperlihatkan bagaimana gaya kepemimpinan populis, meski mampu membangun kedekatan ...