Langsung ke konten utama

PEMBAJAKAN KEDAULATAN


Serangan AS ke Venezuela (Foto hasil tangkapan layar dari https://www.kbknews.id/)

MENJUAL HARAPAN - Sejarah hubungan internasional, baru saja mencatat tinta hitam yang paling kelam di awal tahun 2026. Tindakan pemerintahan Donald Trump yang menginstruksikan operasi militer untuk menangkap kepala negara berdaulat di tanahnya sendiri, bukan lagi sekadar kebijakan luar negeri yang keras, melainkan sebuah anarkisme global.

Apa yang terjadi di Caracas bukanlah sebuah pembebasan, melainkan "pembajakan kedaulatan" secara terang-terangan yang merobek paksa Piagam PBB dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan.

Narasi yang dibangun Washington sangatlah klasik: penegakan hukum terhadap narko-terorisme dan perlindungan hak asasi manusia. Akan tetapi, di balik tuduhan hukum tersebut, terdapat nafsu lama untuk mengamankan cadangan minyak terbesar di dunia.

Trump tidak sedang bertindak sebagai polisi dunia, melainkan sebagai eksekutor kepentingan korporasi yang menggunakan kekuatan militer untuk menata ulang pasar energi global sesuai kehendaknya.

Langkah ini menciptakan preseden yang mengerikan bagi ketertiban dunia. Jika hari ini seorang presiden AS bisa dengan bebas mengirim pasukan elit untuk menculik pemimpin negara lain tanpa mandat internasional, maka tidak ada satu pun negara di dunia ini yang benar-benar aman.

Kedaulatan, yang seharusnya menjadi tameng terakhir bagi negara bangsa, kini telah berubah menjadi konsep yang usang di bawah sepatu lars militer Amerika yang kembali menganut doktrin intervensionisme mentah.

Secara ekonomi, "pembajakan" ini menyandera rakyat Venezuela dalam penderitaan yang tak berujung. Blokade total yang menyertainya bukan hanya memutus urat nadi ekonomi negara tersebut, tetapi juga merupakan serangan terhadap hak asasi manusia yang paling mendasar: hak untuk hidup tanpa ancaman kelaparan dan penyakit.

Sanksi ekonomi sebagai senjata pemusnah massal kini telah mencapai puncaknya, menciptakan krisis kemanusiaan sistematis yang ironisnya diklaim sebagai upaya penyelamatan.

Reaksi dunia yang terbelah, menunjukkan betapa berbahayanya langkah ini bagi persatuan global. Di satu sisi, ada kelompok yang bersorak atas jatuhnya seorang diktator, namun di sisi lain—seperti Brasil dan Meksiko—ada ketakutan yang sangat beralasan. Ketakutan ini bukan karena cinta mereka pada rezim Maduro, melainkan karena mereka menyadari bahwa hancurnya kedaulatan satu negara tetangga adalah ancaman eksistensial bagi semua negara di kawasan Amerika Latin.

Kita tidak boleh lupa bahwa stabilitas kawasan tidak pernah lahir dari laras senapan asing. Sejarah di Irak dan Libya telah memberikan pelajaran pahit bahwa menjatuhkan seorang pemimpin adalah perkara mudah, namun menangani kekacauan (chaos) yang muncul setelahnya adalah bencana panjang. Dengan memenggal struktur kekuasaan di Venezuela secara paksa, Trump telah membuka kotak Pandora yang berpotensi melahirkan perang saudara dan fragmentasi kekuasaan di tangan kartel-kartel bersenjata.

Eksploitasi sumber daya alam menjadi motif yang tak bisa disembunyikan dalam narasi "pembajakan" ini. Pernyataan-pernyataan mengenai pengambilalihan aset PDVSA oleh perusahaan multinasional AS menunjukkan bahwa ini adalah imperialisme abad ke-21 yang memakai topeng penegakan hukum.

Kedaulatan energi Venezuela dirampas untuk dijadikan alat tawar politik dalam persaingan hegemonik AS melawan pengaruh China dan Rusia di belahan bumi barat.

Secara kritis, kita harus mempertanyakan peran lembaga internasional yang kini tampak tak berdaya. Ketika PBB hanya mampu mengeluarkan kecaman tanpa tindakan nyata, kita sedang menuju era di mana "kekuatan adalah kebenaran" (might is right). Dunia sedang bertransformasi menjadi rimba raya di mana negara-negara kuat bisa mendefinisikan ulang hukum sesuai kepentingan mereka sendiri, sementara negara kecil hanya bisa pasrah menjadi bidak di atas papan catur geopolitik.

Hak asasi manusia yang diteriakkan dari Washington terdengar hambar di tengah deru mesin perang. Bagaimana mungkin hak asasi bisa ditegakkan dengan melanggar hak kolektif sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri? Ini adalah kontradiksi moral yang paling nyata.

Pembajakan kedaulatan ini pada akhirnya bukan tentang siapa yang memimpin di Caracas, melainkan tentang keruntuhan nilai-nilai yang seharusnya menjaga peradaban kita dari kebiadaban perang terbuka.

Karenannya, dunia harus menyadari bahwa membiarkan tindakan anarkis ini berlalu tanpa konsekuensi berarti memberikan cek kosong kepada tirani global. Venezuela hanyalah titik awal; jika standar ini diterima, maka tatanan dunia yang berbasis aturan telah berakhir.

Pembajakan kedaulatan ini adalah lonceng kematian bagi perdamaian dunia yang rapuh, dan sejarah akan mencatatnya sebagai kegagalan kolektif kemanusiaan dalam menjaga martabat bangsa-bangsa. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pekan ke-19 Premier League: Chelsea Vs Bournemouth, West Ham Lawan Brighton, dan MU Vs Wolves, Hasilnya Imbang

  MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-19 Premier League atau Liga Inggris musim 2025-2026 menyuguhkan pertandingan lanjutan di antaranya Chelsea berhadapan dengan Bourneout, Manchester United versus Wolves, dan West Ham lawan Brighton. Chelsea Vs Bournemouth T uan rumah Chelsea kontra Bournemouth berakhir imbang dengan skor gol akhir 2-2. B ertanding langsung digelar di di Stadion Stamford Bridge, London,  Rabu dini hari WIB   (31/12/2025) , tuan rumah Chelsea kebobolah lebih dahulu di menit ke-6, dimana David Brooks menggetarkan gawang kiper Chelsea. S embilan menit kemudian (15’), Chelsea berhasil membalasnya lewat tendangan penalti Cole Palmer, sehingga kedudkan menjadi 1-1. D uel babak pertama kedua tim ini sungguh sangat menengangkan, adu serang tiada henti mengancam pertahanan dan gawang kiper maisng-masing. A ksi serangan terus terujadid, utamanya tuan yang tidak mau kehilangan poin, terus menekan, sehingga pada menit ke-23, Enzo Fernandez berhasil mencetak gol ke gawang ki...

Hegemoni Ekologis

Oleh Silahudin MENJUAL HARAPAN -  RETORITKA pembangunan berkelanjutan, dan jargon hijau tampak kian populer di ruang-ruang kebijakan, akan tetapi, di balik itu juga tersembunyi satu paradoks besar, yaitu alam terus mengalami kerusakan struktural, walau keberlanjutannya digembar-gemborkan.  Pergulatan hidup kita, dalam realitasnya dikonstruksi oleh bahasa, dan narasi yang seolah peduli terhadap lingkungan, namun, secara praksis terus-menerus melegitimasi eksploitasi. Pada titik simpul inilah, letak hegemoni ekologis, bukan hanya dominasi atas alam, tetapi juga dominasi atas cara berpikir tentang alam. Memang, hegemonis ekologis bekerja secara halus melalui wacana yang kita anggap netral, seperti istilah "pemanfaatan sumber daya", "optimalisasi kawasan", atau "efisiensi energi", dan lain sejenisnya. Dalam tataran kerangka tersebut, alam dikonstruksi sebagai objek pasif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Kepentingan ekonomi diselubungi bahasa sa...

Tuan Rumah Pekan ke-19 Premier League: Burnley Vs Newcastle, dan Nottingham Forest Vs Everton Derita Kekalahan

MENJUAL HARAPAN - Burnley menjamu Newcastle  pada pekan ke-19 Liga Inggris, begitu juga dengan Nottingham Foret versus Everton, pada Rabu dini hari WIB (31/12/2025). Burnley berhadapan dengan Newcastle berlangsung digelar di Turf Moor, harus kecewa alami kekalahan dengan skor gol akhir 1-3 dari Newcastle. Kickoff babak pertama, justru Newcastle langsung menekan pertahanan tuan urmah Burnley, dan pada menit ke-2 gawang tuan rumah kebobolan lewat tendangan Joelinton. Tidak lama dari kebobolan pertama, Burnley kembali kebobolan pada menit ke-7 lewat tusukan yang dilakukan oleh Yoane Wissa, sehingga tertinggal 0-2. Baca juga:  Dua Papan Atas Arsenal Vs Aston Villa, Arsenal Sukses Taklukkan Aston Villa Tuan rumah Burnley berusaha bangkit dari ketertinggalan gol dari lawannya, dengan terus melakukan aksi serangan yang menekan pertahanan Newcastle, sehingga pada menit ke-23 berhasil membobol gawang kiper Newcastle yang dicetak oleh Josh Laurent. Kedudukan berubah menjadi 1-2 ini hing...