Langsung ke konten utama

Membaca Kecemasan Politik Jokowi di Era Prabowo

Oleh Silahudin

MENJUAL HARAPAN - Mencermati dinamika dan kondisi politik nasional saat ini, pernyataan dukungan Jokowi untuk "dua periode" bagi pasangan Prabowo-Gibran bukanlah sekadar optimisme prematur, melainkan sebuah manuver defensif yang strategis.

Oleh karena itu, dapat dibaca dari beberapa lapisan masalah yang perlu kita bongkar, yaitu pertama, "Separation of Interests". Mengapa Hanya Prabowo? Fenomena partai politik yang mulai menyuarakan dukungan dua periode hanya kepada Prabowo (tanpa menyebut Gibran) mencerminkan realitas realpolitik.

Kedua, kemandirian figur Prabowo sebagai Presiden petahana, memiliki instrumen kekuasaan penuh. Partai-partai melihat Prabowo sebagai pusat gravitasi baru.

Ketiga, Gibran sebagai "Beban" Politik. Bagi partai-partai mapan, Gibran sering kali dilihat sebagai representasi langsung dari pengaruh Jokowi.

Menghilangkan nama Gibran dalam narasi dua periode adalah cara halus partai-partai untuk "lepas kendali" dari bayang-bayang Jokowi dan mulai membangun relasi murni dengan Prabowo.

Kegelisahan Jokowi: Strategi Penyelamatan Diri

Dukungan Jokowi yang sangat vokal terhadap duet ini di saat pemerintahan baru berjalan kurang dari dua tahun menunjukkan adanya high-level anxiety (kecemasan tingkat tinggi).

Bisa jadi bagi Jokowi, keberadaan Gibran di kursi Wakil Presiden adalah "asuransi" agar kebijakan strategisnya (seperti IKN) tetap aman, dan keluarganya terlindungi dari potensi marginalisasi politik di masa depan.

Jika Gibran ditinggalkan oleh koalisi pada periode kedua (2029), maka pengaruh politik "Klan Jokowi" akan meredup seketika. Pernyataan Jokowi adalah upaya untuk mengunci komitmen partai-partai sejak dini agar tidak terjadi pembangkangan koalisi di tengah jalan.

Dampak terhadap Kepentingan Umum

Secara kritis, fokus pada diskursus "dua periode" di tahun kedua pemerintahan sangat merugikan masyarakat.

Pertama, distrkasi kebjakan. Energi pemerintah tersedot untuk konsolidasi kekuasaan ketimbang menyelesaikan masalah struktural seperti ketimpangan ekonomi atau penegakan hukum.

Kedua, erosi demokrasi. Narasi dua periode yang dipaksakan sejak dini menutup ruang bagi munculnya pemimpin alternatif yang mungkin lebih kompeten, menciptakan kesan bahwa sirkulasi kepemimpinan hanyalah soal kesepakatan elit, bukan pilihan rakyat.

Catatan Reflektif

Kita sedang menyaksikan pergeseran dari demokrasi substansial menuju demokrasi transaksional-dinastik.

Refleksinya adalah, jika seorang pemimpin merasa perlu "mengamankan" masa depan keluarganya melalui struktur kekuasaan formal, itu menandakan adanya krisis kepercayaan terhadap institusi hukum dan politik yang ada.

Pernyataan Jokowi bukan tentang efektivitas pemerintahan Prabowo, melainkan tentang ketakutan akan hilangnya relevansi politik setelah ia tidak lagi berada di puncak kekuasaan. Ini adalah upaya "memahat" masa depan sebelum semen politiknya mengeras dan ia kehilangan kendali. *

*)Silahudin, Pemerhati Sosial Politik, Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tatang Sudrajat, Dosen USB YPKP Terpilih Jadi Ketua Umum IDoKPI

BANDUNG, MENJUAL HARAPAN  - Bandung kembali mengukir sejarah dalam dinamika keilmuan pendidikan tinggi. Sabtu 9 Mei  2026, bertempat di Politeknik STIA LAN Bandung , para dosen kebijakan publik dari 114 perguruan tinggi se Indonesia, mendeklarasikan berdirinya Ikatan Dosen Kebijakan Publik Indonesia (IDoKPI). Dalam forum itu, Dr. Tatang Sudrajat, yang pernah jadi Dekan FISIP Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung, secara aklamasi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IDoKPI, sekaligus sebagai formatur pengurus tahun 2026-2030.        Menurut Tatang, latar belakang terbentuknya organisasi intelektual level nasional ini berkaitan dengan tuntutan terhadap peran aktif dosen kebijakan publik dalam merespon berbagai permasalahan publik. Hal ini termasuk dalam kaitan dengan beragam kebijakan pembangunan nasional pada berbagai bidang saat ini. Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini, dihadiri oleh 195 dari 252 dosen anggota IDoKPI ...

Semifinal Leg Kedua Liga Champions UEFA 2025/2026: Bayern Muenchen 1 – 1 Paris Saint-Germain

MENJUAL HARAPAN - Allianz Arena, Kamis dini hari WIB (7/5/2026), menjadi panggung drama penuh emosi. Bayern Muenchen dan Paris Saint-Germain saling beradu strategi dalam duel penentuan tiket ke final Liga Champions. Babak Pertama: Kejutan Cepat PSG   Pertandingan baru berjalan beberapa menit, Ousmane Dembélé memecah kebuntuan  berhasil membobol gawang kiper Bayern . Umpan terukur dari lini tengah PSG disambut dengan penyelesaian klinis, membuat publik Allianz Arena terdiam. Bayern yang tertinggal langsung meningkatkan intensitas serangan, namun kokohnya barisan pertahanan PSG membuat peluang demi peluang kandas.   Babak Kedua: Bayern Mengejar Waktu   Bayern tampil lebih agresif di paruh kedua. Serangan sayap, umpan silang, hingga tembakan jarak jauh dilancarkan, tetapi Gianluigi Donnarumma tampil gemilang di bawah mistar PSG. Waktu terus bergulir, dan seolah tiket final semakin menjauh dari genggaman Die Roten. Detik-Detik Menegangkan: Gol Kane di Ujung Laga   ...

Pekan ke-31 BRI Super League 2025/2026, Persib dan Borneo FC Pacuan Dua Kuda Yang Menegangkan

MENJUAL HARAPAN  - Melihat pekan ke-31 BRI Super League 2025/2026 ini bukan sekadar rutinitas jadwal, melainkan "pekan penegasan" . Persaing an menuju takhta juara kini telah mengerucut menjadi pacuan dua kuda ( two-horse race ) yang sangat menegangkan, sementara di papan bawah, nafas kehidupan mulai berembus bagi mereka yang sempat tercekik zona degradasi. Dualisme Takhta: Persib dan Borneo FC Tak Terbendung Puncak klasemen saat ini adalah cermin dari konsistensi yang luar biasa. Baik Persib Bandung  maupun Borneo FC Samarinda  sama-sama mengoleksi 72 poin . Persib (Menang 1-0 vs PSIM):  Pasukan Maung Bandung menunjukkan mentalitas juara yang pragmatis. Gol cepat Patricio Matricardi di menit ke-2 sudah cukup untuk mengamankan poin penuh. Meskipun Thom Haye menyebut mereka seharusnya bisa menang lebih besar, namun di fase krusial seperti ini, tiga poin lebih berharga daripada permainan cantik yang berisiko. Borneo FC (Menang 2-0 vs Persita):  Pesut Etam menjaw...