Langsung ke konten utama

Evaluasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo: Rieke Diah Pitaloka Soroti Kesenjangan Antara Regulasi dan Realisasi Implementasi

Rieke Diah Pitaloka, anggota DPR RI Fraksi PDIP(Foto dok dpr.go.id) 

MENJUAL HARAPAN — Memasuki tahun kedua kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, denyut nadi pembangunan nasional kembali diuji. Di tengah klaim kemajuan dalam agenda legislasi, persoalan mendasar justru mengadang di level akar rumput: eksekusi kebijakan yang lamban dan karut-marut tata kelola data.

Sorotan tajam ini dilontarkan oleh Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, saat menjadi narasumber utama dalam forum Dialektika Demokrasi bertema “Mengupas Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Kebijakan yang Berpihak pada Rakyat, Ekonomi Kuat Hingga Kemandirian Nasional” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Bagi politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut, tolok ukur keberhasilan sebuah rezim tidak boleh sekadar berhenti pada angka-angka pertumbuhan ekonomi makro atau megahnya proyek pembangunan fisik. Kompas moral dan konstitusional pembangunan, menurutnya, harus senantiasa merujuk pada Pembukaan UUD 1945: mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

"Maju itu belum tentu ada keadilan dan ada kemakmuran," tegas Rieke, mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi wajib berjalan linier dengan pemerataan kesejahteraan sosial.

Labirin Regulasi Turunan dan Ancaman Stagnasi Visi Presiden

Kritik paling fundamental yang diajukan Rieke tertuju pada lambannya birokrasi dalam merampungkan regulasi turunan dari berbagai undang-undang strategis. Kebijakan vital seperti implementasi Satu Data Indonesia, agenda reforma agraria, hingga payung hukum perlindungan ketenagakerjaan dinilai berjalan di tempat akibat tertundanya perangkat hukum pelaksana.

Sebagai seorang legislator, ia mempertanyakan efektivitas visi besar kepala negara jika instrumen hukum di tingkat operasional masih mangkrak atau saling tumpang tindih. Sinkronisasi antara Undang-Undang, Peraturan Presiden, hingga Instruksi Presiden menjadi harga mati agar kebijakan tidak kehilangan taji di lapangan.

Hantu "Data Fiktif" dan Kedaulatan Digital Negara

Persoalan krusial kedua yang dikupas secara mendalam adalah lemahnya basis data nasional dalam perencanaan pembangunan. Rieke menegaskan bahwa perencanaan yang mengabaikan validitas data riil hingga tingkat desa dan kelurahan hanya akan berujung pada pemborosan anggaran dan salah sasaran.

Meski mengapresiasi gagasan besar seperti kebijakan Satu Data Indonesia, ia mendesak pemerintah agar tidak setengah-setengah dalam mengeksekusinya. Terlebih, di era ekosistem digital saat ini, Rieke mewanti-wanti agar kendali atas data strategis negara tidak terfragmentasi. Fragmentasi data, menurutnya, bukan hanya melumpuhkan efektivitas pelayanan publik, tetapi juga mengancam kedaulatan nasional.

Menagih Substansi Ekonomi Kerakyatan

Dalam sektor ekonomi kerakyatan dan kesejahteraan, Rieke menyoroti program-program populis seperti inisiatif Koperasi Desa Merah Putih serta sistem pemenuhan gizi masyarakat. Ia menilai gagasan tersebut memiliki fondasi yang sejalan dengan cita-cita Trisakti, namun kerap terjebak pada formalitas seremonial proyek fisik dan penyaluran bantuan jangka pendek.

Ia mendesak agar tata kelola program diperkuat hingga menyentuh rantai produksi hulu dan jaminan kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Dalam pandangannya, kritik konstruktif harus senantiasa diiringi dengan tawaran solusi konkret.

"Saya tidak anti kritik, tetapi jangan cuma menjadi tukang kritik tanpa solusi," pungkasnya.

Di penghujung pandangannya, Rieke menyimpulkan bahwa nasib pembangunan nasional dalam sisa periode pemerintahan ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi pemerintah merajut keselarasan: menyatukan visi konstitusional, kepastian hukum, akurasi data, serta akuntabilitas eksekusi di tangan birokrasi. (***_267)

Sumber Berita: dpr.go.id “Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Rieke Soroti Persoalan Implementasi Kebijakan” (diakses dan direkonstruksi,23/10/2026)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres, Pratikno Jadi Ketua

Presiden Prabowo Subianto resmi menangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Istana Negara, Jakarta. Foto: BPMI Setpres/Kris MENJUAL HARAPAN — Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Dalam susunan baru tersebut, Pratikno ditetapkan sebagai Ketua merangkap anggota, Muhammad Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua merangkap anggota, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris merangkap anggota. Pengangkatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia . Pelantikan 26 anggota Wantimpres itu menandai terbentuknya susunan baru lembaga yang memiliki posisi sebagai bagian dari mekanisme pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan. 26 Nama dalam Susunan Wantimpres Berdasarka...

Politik Bongkar - Pasang Kabinet Prabowo

Oleh Silahudin MENJUAL HARAPAN -  MEMASUKI fase mendekati dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dinamika pemerintahan Indonesia diwarnai oleh fenomena instabilitas internal yang mencolok—bongkar-pasang pos kementerian yang berlangsung secara berulang. Memang, perombakan kabinet ( reshuffle ) merupakan hak prerogatif presiden untuk mengevaluasi kinerja menteri dan menyesuaikan arah kebijakan dengan dinamika zaman. Pakar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie (2021), reshuffle pada dasarnya adalah instrumen penyehat sistem presidensial agar eksekutif tidak terjebak dalam stagnasi birokrasi dan ego sektoral. Namun, ketika reshuffle terjadi hingga enam kali dalam waktu kurang dari dua tahun, makna normatif tersebut bergeser menjadi pertanyaan fundamental mengenai stabilitas manajerial dan arah tata kelola pemerintahan. Fenomena bongkar-pasang portofolio ini mencerminkan apa yang oleh ilmuwan politik Dan Slater (2018) disebut sebaga...

Polytron Surabaya International Challenge 2026: Kejutan Salsabila Tumbangkan Unggulan Utama, Wakil Indonesia Melenggang dari Babak 32 Besar

  Salsabila Amiradana (Foto dok pbsi.id) MENJUAL HARAPAN — Kejutan besar mewarnai gelaran Polytron Surabaya International Challenge 2026 di babak 32 besar (R32) yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026) . Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Salsabila Amiradana, sukses mencuri perhatian usai menumbangkan unggulan pertama asal Thailand, Passa-Orn Phannachet, dua gim langsung . Kemenangan mengejutkan Salsabila ini melengkapi raihan positif sejumlah wakil Merah Putih lainnya yang juga berhasil mengamankan tiket ke babak berikutnya . Kejutan Manis Salsabila Amiradana Tampil tanpa beban, Salsabila tampil memukau saat menghadapi unggulan teratas Passa-Orn Phannachet . Ia menyegel kemenangan 21-14, 21-18 dalam laga yang berlangsung disiplin . "Alhamdulillah hari ini bisa bermain sesuai rencana dan dijauhkan dari cedera. Di gim pertama saya langsung masuk mainnya dan lawan pun kurang panas," ungkap Salsabila usai laga . Kunci keberhasilannya mengunci gim kedua—meski sempat tertingga...