Langsung ke konten utama

DPR Ingatkan Sisi Krusial di Balik Moratorium Rekrutmen ASN Daerah: Sektor Esensial Jangan Terancam

MENJUAL HARAPAN — Kebijakan pemerintah pusat yang melarang Pemerintah Daerah (Pemda) merekrut Aparatur Sipil Negara (ASN) baru mendapatkan dukungan dari Parlemen. Akan tetapi, DPR RI memberi catatan krusial: larangan ini wajib dibarengi dengan pemetaan kebutuhan pegawai di sektor-sektor esensial, seperti pendidikan dan kesehatan, agar tidak melumpuhkan pelayanan publik di daerah.

Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhammad Khozin, menilai bahwa langkah pusat mengunci rekrutmen ASN baru di daerah sebenarnya merupakan upaya konkret untuk menertibkan tata kelola kepegawaian nasional. Langkah ini sekaligus mencegah pembengkakan alokasi belanja pegawai dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Meski mendukung moratorium tersebut, legislator yang akrab disapa Gus Khozin ini menggarisbawahi pentingnya sense of crisis terhadap ketersediaan personel pelayanan dasar di lapangan.

"Kami mendukung kebijakan pemerintah pusat melarang Pemda merekrut pegawai baru demi tertibnya tata kelola ASN di lingkungan pemerintah," kata Gus Khozin di Jakarta sebagiamana dikutip dpr.go.id (20/8/2026).

Lanjutnya, kebijakan ini mesti diikuti pemetaan personalia ASN, khususnya di sektor esensial seperti kesehatan dan pendidikan. Jangan sampai di sektor esensial justru terjadi krisis atau kekurangan personel.

Menyiapkan Peta Pegawai Menuju Rekrutmen CASN 2027

Legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur IV (Jember–Lumajang) tersebut menegaskan, pemetaan yang ia maksud harus mencakup inventarisasi mendalam mengenai jumlah ASN yang eksisting (aktif) serta formasi jabatan yang kosong di tiap-tiap daerah.

Hasil audit dan pemetaan personalia ini vital karena akan menjadi pondasi utama saat rekrutmen Calon ASN (CASN) kembali dibuka pada tahun 2027 mendatang. Dengan demikian, pemenuhan ASN di masa depan tidak lagi berdasarkan ajuan administratif belaka, melainkan berbasis pada kebutuhan riil di lapangan serta daya dukung anggaran.

"Pemetaan itu berfungsi sebagai basis rekrutmen CASN pada tahun 2027. Rekrutmen nanti harus benar-benar dihitung berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan serta kemampuan fiskal daerah yang tersedia," jelasnya.

Perlunya Pedoman Rigid agar Tidak Bingungkan Daerah

Lebih lanjut, Politisi PKB ini mendesak pemerintah pusat untuk segera menerbitkan regulasi atau pedoman teknis yang konkret dan rigid. Tanpa panduan operasional yang jelas, pelarangan rekrutmen berpotensi memicu multitafsir di daerah atau bahkan kebocoran rekrutmen secara informal.

"Pemerintah pusat mesti membuat pedoman yang konkret dan rigid agar menjadi pegangan baku bagi Pemda untuk tidak merekrut pegawai baru," tegasnya.

Konteks Kebijakan: Rasionalisasi Beban APBD dan Penataan Non-ASN

Larangan penerimaan ASN baru bagi Pemda merupakan bagian dari skema kesepakatan besar antara DPR dan Pemerintah Pusat terkait penataan tenaga honorer dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Dalam kebijakan tersebut, terdapat penataan status PPPK di daerah yang dialihkan ke pemerintah pusat, serta percepatan pengangkatan PPPK Paruh Waktu (part-time) menjadi PPPK Penuh Waktu (full-time). Sebagai imbangannya, Pemda dikunci dari rekrutmen pegawai baru.

Kebijakan pembatasan ini membawa dua misi utama:

  1. Perlindungan Fiskal Daerah: Menahan beban belanja pegawai APBD agar tidak menggerus alokasi belanja modal dan pembangunan infrastruktur publik di daerah.
  2. Penyelesaian Tenaga Non-ASN: Menuntaskan penataan dan kepastian status hukum bagi tenaga honorer serta PPPK paruh waktu yang selama ini menggantung, tanpa menambah beban baru di masa mendatang.

 (Sjs_267)

Sumber & Referensi Berita: dpr.go.id – “Pemda Dilarang Rekrut ASN Baru, Gus Khozin: Perlu Pemetaan di Sektor Esensial” (diakses dan direkonstruksi, 20/8/2026)


Komentar