Langsung ke konten utama

Ganda Putri Indonesia, Rachel/Febi Tak Tembus Final Usai Kalah dari Liu/Tan


Ganda Putri Indonesia, Rachel/Febi (Foto hasil tangkapan layar dari djarumbadminton.com)

MENJUAL HARAPAN – Harapan ganda putri Indonesia Rachel Allesya Rose/Febi Setianingrum untuk menembus final Polytron Indonesia Open 2026 harus kandas di tangan pasangan nomor satu dunia asal China, Liu Sheng Shu/Tan Ning. Dalam semifinal yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, mereka kalah dua gim langsung 17-21, 16-21.

Pertemuan perdana kedua pasangan ini langsung memperlihatkan dominasi Liu/Tan. Serangan tajam dan tempo agresif membuat Rachel/Febi kesulitan mengembangkan permainan. Meski sempat memimpin 7-3 di gim kedua, keunggulan itu tak bertahan lama.

“Kami beberapa kali salah pengertian di lapangan, komunikasinya lost di sini dan sudah dikoreksi sama pelatih,” ungkap Rachel.

Febi menambahkan bahwa pengalaman menghadapi pasangan peraih medali perak Olimpiade Paris 2024 sekaligus juara dunia 2025 memberi pelajaran berharga.

“Cukup banyak dapat pengalaman dari mereka juga. Mereka punya tekanan yang bikin kami kewalahan. Dari serangannya juga mereka sangat bagus,” ujarnya.

Meski gagal ke final, pencapaian Rachel/Febi tetap patut diapresiasi. Baru berpasangan sejak September 2025, mereka sudah mampu menembus semifinal Super 1000 pertama.

“Ini kesempatan yang bagus, apalagi di rumah sendiri juga bisa. Menurut saya pribadi bukan hal yang mudah sampai sejauh ini. Tapi ada faktor dukungan dari penonton. Banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa diambil dari pertandingan ini,” kata Rachel. (S_267)

Sumber berita: djarumbadminton.com "Polytron Indonesia Open 2026 - Rachel/Febi Gagal Bendung Liu/Tan"

Baca juga:

Raymond/Joaquin Tembus Final Usai Kalahkan Sabar/Reza 

Brasil Atasi Perlawanan Sengit Mesir 

Tensi Tinggi di Lisbon, Portugal Atasi Perlawanan Cile dalam Duel Berdarah 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Eksklusif: Restrukturisasi Besar-Besaran Cipayung, PBSI Bongkar Pasang Ganda Campuran dan Ganda Putri, Ester Nurumi Hijrah Sektor!

Foto dok pbsi.id MENJUAL HARAPAN – Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) resmi mengambil langkah ekstrem demi mendongkrak daya saing tim nasional di panggung internasional . Lewat evaluasi menyeluruh pasca-turnamen, otoritas tertinggi bulutangkis Indonesia ini melakukan penataan ulang besar-besaran yang melibatkan lintas sektor, mulai dari ganda campuran, ganda putri, hingga tunggal putri . Langkah strategis ini diambil demi memperkuat kedalaman skuad, mempercepat proses regenerasi, dan memaksimalkan potensi para atlet elite yang dinilai stagnan . Proyek Dejan/Apriyani: Berdurasi Enam Turnamen Internasional Melanjutkan kabar kepindahan Apriyani Rahayu ke sektor ganda campuran untuk berduet dengan Dejan Ferdinansyah, PBSI kini mengungkap alasan teknis di balik keputusan tersebut . Kepala Pelatih Ganda Campuran PP PBSI, Rionny Mainaky, secara blak-blakan mengakui bahwa performa Apriyani di sektor asalnya saat berpasangan dengan Lanny Tria Mayasari belum memen...