Langsung ke konten utama

Kai Havertz Gemilang, Jerman Tundukkan Amerika Serikat di Chicago

Timnas Jerman (Foto hasil tangkapan dari sport.detik.com)

MENJUAL HARAPAN – Tim nasional Jerman berhasil menutup rangkaian laga uji coba jelang Piala Dunia 2026 dengan hasil positif setelah menundukkan tuan rumah Amerika Serikat 2-1 di Soldier Field, Minggu dini hari WIB (7/6/2026).

Kai Havertz tampil sebagai sosok sentral dalam kemenangan Die Mannschaft. Penyerang tersebut membuka keunggulan Jerman dengan cepat, tepatnya saat laga baru berjalan dua menit, melalui sundulan yang gagal diantisipasi kiper Matthew Freese.

Tuan rumah sempat memberikan perlawanan sengit. Setelah beberapa kali mengancam, Amerika Serikat akhirnya menyamakan kedudukan pada menit ke-37 melalui sepakan keras Antonee Robinson dari luar kotak penalti. Skor imbang 1-1 bertahan hingga memasuki jeda babak pertama.

Memasuki babak kedua, pasukan Julian Nagelsmann mengambil kendali permainan dengan tempo yang lebih agresif. Ketajaman lini serang Jerman membuahkan hasil pada menit ke-57, di mana Havertz kembali menjadi kreator dengan memberikan assist matang yang dituntaskan dengan apik oleh Leroy Sane. Keunggulan 2-1 untuk tim tamu pun bertahan hingga pertandingan berakhir.

Hasil ini menjadi suntikan moral berharga bagi Jerman menjelang perhelatan Piala Dunia, sementara bagi Amerika Serikat, kekalahan ini menjadi catatan evaluasi krusial sebelum turnamen resmi dimulai pekan depan.

Data Pertandingan

·         Hasil: Amerika Serikat 1-2 Jerman

·         Stadion: Soldier Field, Chicago

·         Pencetak Gol:

·         Jerman: Kai Havertz (2'), Leroy Sane (57')

·         Amerika Serikat: Antonee Robinson (37')

Susunan Pemain:

·         Amerika Serikat: Matthew Freese, Alex Freeman, Miles Robinson, Tim Ream, Antonee Robinson, Serginho Dest, Malik Tillman, Christian Pulisic, Weston McKennie, Tyler Adams, Folarin Balogun.

·         Jerman: Oliver Baumann, Joshua Kimmich, Jonathan Tah, Nico Schlotterbeck, Nathaniel Brown, Leroy Sane, Jamal Musiala, Florian Wirtz, Felix Nmecha, Aleksandar Pavlovic, Kai Havertz.

(SJS_267)

Baca juga: 

Kane Jadi Pembeda, Inggris Amankan Kemenangan Tipis atas Selandia Baru 

Piala Dunia 2026: Menelusuri Peta Kekuatan Awal, Dinamika Grup A dan Grup B 

Rachel/Febi Amankan Tiket Semifinal, Pastikan Duel Sesama Wakil Indonesia di Polytron Indonesia Open 2026 

Catatan Sejarah "Ikkyu": Panitchaphon Teeraratsakul Tembus Semifinal Super 1000 Pertama di Jakarta  

Pesta Gol Meksiko Warnai Persiapan Jelang Piala Dunia 2026 

Hungaria dan Finlandia, Bangkit dari Keterpurukan 

Putri KW Sukses Revans Atas Michelle Li, Amankan Tiket Perempat Final 

Ganda Putra Indonesia Berjaya: Raymond/Joaquin Beri Kejutan, Sabar/Reza Melaju ke Perempat Final 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Eksklusif: Restrukturisasi Besar-Besaran Cipayung, PBSI Bongkar Pasang Ganda Campuran dan Ganda Putri, Ester Nurumi Hijrah Sektor!

Foto dok pbsi.id MENJUAL HARAPAN – Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) resmi mengambil langkah ekstrem demi mendongkrak daya saing tim nasional di panggung internasional . Lewat evaluasi menyeluruh pasca-turnamen, otoritas tertinggi bulutangkis Indonesia ini melakukan penataan ulang besar-besaran yang melibatkan lintas sektor, mulai dari ganda campuran, ganda putri, hingga tunggal putri . Langkah strategis ini diambil demi memperkuat kedalaman skuad, mempercepat proses regenerasi, dan memaksimalkan potensi para atlet elite yang dinilai stagnan . Proyek Dejan/Apriyani: Berdurasi Enam Turnamen Internasional Melanjutkan kabar kepindahan Apriyani Rahayu ke sektor ganda campuran untuk berduet dengan Dejan Ferdinansyah, PBSI kini mengungkap alasan teknis di balik keputusan tersebut . Kepala Pelatih Ganda Campuran PP PBSI, Rionny Mainaky, secara blak-blakan mengakui bahwa performa Apriyani di sektor asalnya saat berpasangan dengan Lanny Tria Mayasari belum memen...