Langsung ke konten utama

Man United Tampil Menakjubkan Kalahkan Man City

 

MENJUAL HARAPAN - Pertandingan bergengsi dua Man ini, Manchester United versus Manchester City berlangsung digelar di Old Trafford, Minggu (17/1/2026).

Penampilan Manchester United menakjubkan dan mengejutkan pesaing gelar Premier League musim 2025/2026, dimana tuan rumah berhasil meraih kemenangan dengan skor gol 2-0.

Michael Carrick, arsitek pelatih Man United, dalam laga pertamanya yang belum sepekan berhasil membawa timnya menunjukkan performa menakjubkan, walau memang Man United versus man City ini saling memberi ancaman ke pertahanan dan gawang kiper tim maisng-masing.

Babak pertama penuh dengan saling menekan, kedudukan hingg turun minum tidak terjadi satu gol pun.

Babak kedua dimulai, kedua tim dengan ambisi memenangkan pertandingan, meningkatkan volume serangannya ke pertahanan lawannya, dan terjadi saling mengancam gawang.

Tuan rumah, dengan serangan balik cepat terus menekan pertahanan Manchester City, dan dimenit ke-65 Bryan Mbeumo atas umpan cantik teman setimnya berhasil menjebol gawang kiper Man City.

Usai unggul 1-0, tuan rumah Man United, tiada henti menekan pertahanan lawannya Man City, dan serangan demi serangan dilancarkan sehingga sembilan menit (‘75) dari gol pertama, kembali Manchester United menjebol gawang kiper Manchester City.

Gol kedua tuan rumah Manchester United dicetak oleh Patrick Dorgu, dan Man Unted unggul 2-0 dari Man City.

Tampak, Manchester City berusaha membalas ke bobolan gawangnya, akan tetapi serangannya acapkali digagalkan pemain tuan rumah. Dan pertandingan pun berakhir dengan kemenangan penuh Manchester United.

Memang, Manchester City dalam empat kali bertanding berakhir tidak meraih kemenangan. Sehingga jurang poin dengan Arsenal yang pimpin klasemen makin jauh. Arsenal dengan mengoleksi 50 poin, sedangkan Manchester City berada di urutan kedua dengan mengoleksi 43 poin pada klasemen ini, yang bisa dikudeta oleh Aston Villa berada di posisi ketiga dengan mengoleksi 43 poin dari 21 kali tanding.

Hasil pekan ke-22 Manchester United yang kini nempati urutan kelima dengan 35 poin, tentu memiliki harapan untuk lolos ke Liga Champions UEFA.

Tentu saja kemenangan ini bagi pelatih Man United, Michael Carrick yang belum sepekan mengartekinya, menjadi awal yang menggembirakan. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...