Langsung ke konten utama

Uji Coba Jelang Piala Dunia 2026: Spanyol Ditahan Irak, Prancis Tersandung


Spanyol vs Irak (Foto hasil tangkapan layar dari pdiperjuanganbali.id)
MENJUAL HARAPAN — Laga uji coba menjelang Piala Dunia 2026 menghadirkan kejutan. Spanyol harus puas bermain imbang 1-1 melawan Irak, sementara Prancis tumbang 1-2 dari Pantai Gading.

Spanyol Bereksperimen, Irak Percaya Diri

Pelatih Luis de la Fuente memanfaatkan laga di Stadion Riazor untuk melakukan eksperimen komposisi tim. Spanyol sempat unggul cepat lewat gol Ferran Torres menit ke-16, namun Irak membalas melalui Merchas Doski di menit ke-27. Skor imbang bertahan hingga akhir.

Bagi Irak, hasil ini menjadi catatan bersejarah sekaligus modal kepercayaan diri menghadapi turnamen besar.

Prancis Kalah, Pantai Gading Bersinar

Di laga lain, Prancis yang sempat unggul lewat gol Rayan Cherki harus mengakui keunggulan Pantai Gading. Dua gol balasan dari Guela Doue dan Amad Diallo di babak kedua memastikan kemenangan 2-1 bagi wakil Afrika.

Kekalahan ini menjadi bahan evaluasi penting bagi Didier Deschamps, sementara Pantai Gading mendapat dorongan moral besar menuju Piala Dunia.

Hasil Lain: Swedia vs Yunani

Pertandingan uji coba lainnya memperlihatkan Swedia bermain imbang 2-2 melawan Yunani. Gol Swedia dicetak oleh Viktor Gyokeres dan Gustaf Nilsson. S_267)



Baca juga:

Polytron Indonesia Open 2026: Dukungan Penonton Jadi Energi Fadia/Tiwi 
Fadia/Tiwi Kembali Buktikan Kualitas Tumbangkan Lee So Hee/Baek Ha Na 
Devin/Faathir Kalah Lawan Zhi-We Hei/Huang Jui-Hsuan di Polytron Indonesia Open 2026 
Jafar/Felisha Bangkit, Pulangkan Wakil Korea 
Rehan/Gloria Belum Maksimal, Momentum Hilang di Saat Genting
Polytron Indonesia Open 2026: Raymond/Joaquin Bangkit, Balas Kekalahan
Polytron Indonesia Open 2026: Sabar/Reza Melaju ke Babak 16 Besar 
Dominasi Berlanjut Ana/Trias Jinakkan Wakil India Demi Tiket Babak Kedua Istora 
Terburu-buru dan Faktor Angin, Leo/Daniel Tersingkir Prematur
Alarm Sektor Tunggal Putra: Alwi Farhan Tantang Jonatan Christie di Tengah Badai Kelelahan Istora 
Misi Balas Dendam Putri KW di Istora: Siap Redam Michelle Li Usai Jinakkan Wakil Taiwan 
Polytron Indonesia Open 2026: Menguji Semangat Gotong Royong Ekosistem Bulu Tangkis dan Modernisasi Sportainment Nasiona 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...