Langsung ke konten utama

Rehan/Gloria Belum Maksimal, Momentum Hilang di Saat Genting

Foto hasil tangkapan layar dari pbsi.id

MENJUAL HARAPAN — Harapan pasangan ganda campuran Indonesia, Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja, untuk melangkah jauh di Polytron Indonesia Open 2026 harus tertunda. Mereka takluk dari wakil Malaysia, Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie, dalam pertarungan tiga gim yang dramatis: 21-17, 16-21, 21-23, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (3/6/2026).

Pertandingan berlangsung sengit, terutama di gim penentuan. Rehan/Gloria sempat tertinggal 16-19, lalu bangkit menyamakan kedudukan menjadi 20-20. Namun, di momen krusial mereka gagal memanfaatkan momentum.

“Kami memang merasa tidak dapat mengendalikan kondisi lapangan yang berangin, tapi sudah berusaha maksimal. Di poin-poin kritis, kami tidak bisa memanfaatkan momentum, finishing touch-nya masih kurang,” ujar Gloria sebaimana dikutip pbsi.id (3/6/2026).

Pasangan ini sebenarnya sudah menyiapkan strategi dengan menekankan permainan depan net dan menjaga tempo. “Banyak kesempatan seharusnya bisa jadi poin, tetapi malah kami buang. Pelatih menginstruksikan untuk unggul di permainan depan dan mencoba lebih banyak menyerang,” tambah Gloria.

Kekalahan ini terasa berat karena Polytron Indonesia Open 2026 menjadi turnamen kedua bagi mereka setelah Rehan pulih dari cedera ACL.

Sebelumnya, mereka sempat menguji kesiapan di Hydroplus Sirnas A Jatim 2026, lalu tampil di Singapore Open. Gloria mengakui proses adaptasi masih berjalan. “Saya berusaha mengerti posisi Rehan yang baru comeback. Kami saling komunikasi, saling imbangi keinginan dan harapan, begitu juga dengan pelatih. Masih banyak yang mesti ditingkatkan,” katanya.

Meski kecewa, Rehan/Gloria tak ingin larut dalam penyesalan. Fokus mereka kini beralih ke Australia Open 2026, dengan tekad memperbaiki kekurangan dan tampil lebih solid. Kekalahan di Istora menjadi pelajaran berharga, bahwa dalam level super 1000, detail kecil di momen genting bisa menentukan arah perjalanan sebuah pasangan. (*sjs_267)

Baca juga:

Polytron Indonesia Open 2026: Raymond/Joaquin Bangkit, Balas Kekalahan 

Polytron Indonesia Open 2026: Sabar/Reza Melaju ke Babak 16 Besar 

Dominasi Berlanjut Ana/Trias Jinakkan Wakil India Demi Tiket Babak Kedua Istora 

Terburu-buru dan Faktor Angin, Leo/Daniel Tersingkir Prematur

Alarm Sektor Tunggal Putra: Alwi Farhan Tantang Jonatan Christie di Tengah Badai Kelelahan Istora 

Misi Balas Dendam Putri KW di Istora: Siap Redam Michelle Li Usai Jinakkan Wakil Taiwan 

Polytron Indonesia Open 2026: Menguji Semangat Gotong Royong Ekosistem Bulu Tangkis dan Modernisasi Sportainment Nasional  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...