| Bagas Mualan/Indah Cahya Sari Jami (Foto dok pbsi.id) |
Bertanding di GOR Pangsuma, Pontianak, Bagas/Indah menyerah lewat pertarungan rubber game yang sengit melawan wakil China, Ma Xi Xiang/Qin Hui Zhi, dengan skor 11-21, 22-20, dan 17-21.
Meski gagal melangkah ke babak semifinal, pencapaian ini memberikan modal berharga sekaligus bahan evaluasi mendalam bagi pasangan yang baru dipadukan tersebut.
Jalannya Pertandingan: Bangkit dari Tekanan hingga Momen Krusial
Bagas/Indah mengawali gim pertama dengan performa yang kurang maksimal. Tekanan tajam dari pasangan Ma/Qin membuat wakil Merah-Putih kesulitan mengembangkan permainan hingga harus menyerah cukup jauh 11-21.
Memasuki gim kedua, kendala serupa sempat membayangi Bagas/Indah hingga interval. Namun, komunikasi intensif di lapangan serta arahan dari pelatih untuk bermain lebih tenang menjadi titik balik. Lewat adu mental yang ketat, Bagas/Indah berhasil mengamankan gim kedua dengan skor tipis 22-20 untuk memaksa dilakukannya gim penentuan.
Pertarungan sengit berlanjut ke gim ketiga. Kedua pasangan saling kejar poin hingga kedudukan imbang 17-17. Sayangnya, di poin-poin kritis tersebut, Bagas/Indah justru kehilangan fokus.
Gaya permainan lawan yang tak terduga serta besarnya hasrat untuk memberikan yang terbaik di hadapan publik sendiri membuat kontrol permainan sedikit goyah, hingga akhirnya harus merelakan kemenangan untuk wakil China.
Evaluasi Pasca Laga: Pembelajaran Penting untuk Masa Depan
Usai laga, Bagas Maulana mengungkapkan bahwa adaptasinya di sektor ganda campuran memberikan banyak pelajaran penting.
"Kami tidak memulai pertandingan dengan baik, sampai interval gim kedua masih kesulitan. Tapi setelah itu kami komunikasi dan berusaha lebih baik lagi, pelatih juga mengingatkan untuk lebih tenang," ujar Bagas.
Lanjutnya, hasil dua turnamen ini cukup baik menurut saya, bisa sampai ke perempat final di ganda campuran yang tidak mudah buat saya yang baru merasakan. Saya tetap akan berbenah dan latihan lagi untuk turnamen berikutnya.
Sementara itu, Indah Cahya Sari Jamil menyoroti kurangnya kesabaran di momen-momen penentu pada gim ketiga.
"Di gim ketiga setelah kejar-kejaran sampai poin 17-17, kami malah kurang sabar dan terlalu terburu-buru," tutur Indah.
"Gerakan mereka banyak yang tidak perlu tapi malah membuat kami kagok. Kami berusaha untuk tenang, tapi mungkin terbawa hawa di lapangan apalagi dengan dukungan penonton. Tapi kami kurang bisa control," pungkasnya. (S_267)
Sumber Berita: PBSI “POLYTRON Pontianak Indonesia Masters 2026: Bagas/Indah Ingin Lebih Baik” (diakses dan direkonstruksi, 5/9/2026)
Komentar