Langsung ke konten utama

Persijap Vs Borneo FC Imbang, PSIM Taklukkan Madura United

MENJUAL HARAPAN - Persijap Jepara kontra Borneo FC pada pekan ke-33 BRI Super Legua 2025-2026, dan digelar langsung di Stadion Gelora Bumi Kartini pada Minggu (17/5/2026).

Persijap sebagai tuan rumah dan disaksikan pendukungnya, tampak ambil inisiatif menekan pertahanan Borneo FC, kendati terus menekan tuan rumah tidak berhasil mencetak gol.

Borneo FC juga tidak tinggal diam, berusaha memenangkan duel ini, dan ambisinya untuk melangkahi Persib Bandung, namun juga di pertandingan ini tidak berhasil menorehkan tiga poin.

Persijap Jepara versus Borneo FC berakhir tanpa gol, alias 0-0 dan berbagi poin dengan lawannya.

Persijap, kini berada di urutan ke-13 dengan mengoleksi 35 poin pada klasemen BRI Super League pekan ke-33, sementara Bornoe FC berada di urutan ke-2 dengan mengumpulkan 76 poin.

Sementara pada pertandingan lainnya, PSIM Yogyakarta berhadapan dengan Madura United yang berlangsung digelar di Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta, pada Minggu (17/5/2026).

PSIM Yogyakarta berhasil taklukkan lawannya Madura United dengan skor gol 2-1.

Dua gol tuan rumah dicetak di babak pertama menit ke-17 oleh Ezequiel Vidal, dan menit ke-33 Muhammad Iqbal.

Kedudukan gol 2-0 di babak pertama tidak terbalas oleh lawannya hingga turun minum.

Usai turun minum, memasuki babak kedua, Madura United berusaha keras dengan aksi-aksi serangan masifnya ke pertahanan PSIM, dan baru menghasilkan gol pada menit ke-61 lewat tendangan Junior Brandao, sehingga kedudukan berubah menjadi 1-2.

Animo pemain Madura United makin meningkat usai memasukkan gol ke gawang kiper PSIM Yogyakarta, dan terus menekan berusaha menyamakan kedudukan gol.

Usaha para pemain Madura United untuk menyamakan gol, tampak tak berhaisl menembus ancaman ke pertahanan PSIM, karena para pemain PSIM juga berusaha menghadangnya, dan sesekali melakukan aksi serangan balik ke pertahanan Madura United.

Waktu pertandingan terus berjalan, dan posisi gol masih unggul PSIM Yogyakarta, para pemain PSIM juga terus mengulur waktu pertanidngan, dan tiba saatnya wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertanidngan.

Hasil tiga poin ini, PSIM Yogyakarta kini berada di urutan ke-11 dengan mengoleksi 45 poin, sedangkan Madura United berada di urutan ke-15 dengan kumpulkan 32 poin pada klasemen Liga Ssuper 2025-2026 pekan ini. (S_267)

Baca juga:

Skor Gol PSM Makasar Vs Persib Bandung 1-2, Persib Selangkah Lagi Juara  

Juventus Dibantai Fiorentina 0-2, Mimpi Tiket Eropa Si Nyonya Tua Terancam? 

Bayern Makin Kokoh di Puncak Klasemen Usai Taklukkan Koln 

Persija Bawa Pulang Tiga Poin Usai Kalahkan Persik 

Malut United Berakhir Imbang Vs Persita, Persis Menang Vs Dewa United  

Stadion H Agus Salim, Sumatera Barat, Saksi Bisu Kehancuran Kabau Sirah 

Arema FC Raih Tiga Poin Di Markas PSBS Biak 

Aston Villa Menangkan Pertandingan Lawan Liverpool, Liverpool Masih Berharap Cemas Lolos ke Liga Champions 

Madrid Pulihkan Harga Diri, Oviedo Kian Terpatri di Dasar Klasemen 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...