Langsung ke konten utama

Stadion H Agus Salim, Sumatera Barat, Saksi Bisu Kehancuran Kabau Sirah

MENJUAL HARAPAN - Malam yang dingin di Padang menjadi saksi bisu salah satu pembantaian paling tragis dalam sejarah modern sepak bola Indonesia. Semen Padang, tim kebanggaan Ranah Minang yang sedang sekarat di papan bawah, menjamu Persebaya Surabaya dalam lanjutan pekan ke-33 BRI Super League 2025-2026.

Alih-alih menyuguhkan perlawanan sengit demi harga diri dan napas terakhir di kasta tertinggi, skuad Kabau Sirah justru tampil tanpa gairah, lunglai, dan membiarkan tamunya mengobrak-abrik rumah mereka sendiri.

Skor akhir 7-0 untuk keunggulan Bajul Ijo bukan sekadar angka, melainkan tamparan keras yang menegaskan bahwa Semen Padang kini sedang berada di titik nadir, makin terpuruk dan nyaris tanpa harapan.

Sejak peluit pertama dibunyikan, aroma dominasi Persebaya sudah tercium tajam. Anak-anak asuh Surabaya bermain dengan determinasi tinggi, mengalirkan bola dari kaki ke kaki dengan presisi yang membuat lini belakang Semen Padang tampak seperti sekumpulan amatir.

Petaka tuan rumah dimulai pada menit ke-15 ketika Francisco Rivera, dirigen serangan Persebaya, melepaskan tembakan melengkung yang gagal dihalau kiper lawan. Gol pembuka ini runtuh seketika mental bertanding Semen Padang, memicu kepanikan massal di lini pertahanan mereka yang rapuh.

Belum sempat membasuh luka dari gol pertama, jala gawang Semen Padang kembali bergetar hanya tiga menit berselang. Tepat pada menit ke-18, giliran Catur yang mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan tuan rumah yang salah mengantisipasi umpan silang.

Unggul dua gol di awal babak pertama membuat Persebaya bermain di atas angin, mendikte permainan seolah-olah Stadion H Agus Salim, Sumatera Barat adalah Gelora Bung Tomo. Sementara itu, Semen Padang hanya bisa meratap, mengandalkan serangan balik sporadis yang dengan mudah dipatahkan sebelum menyentuh sepertiga lapangan.

Memasuki babak kedua, situasi tidak membaik bagi tuan rumah; yang terjadi justru sebaliknya, sebuah mimpi buruk yang kian menjadi nyata. Pada menit ke-49, sang kapten sekaligus ikon Persebaya, Bruno Moreira Soares, memperlebar jarak setelah aksi individu gemilangnya mengoyak jala Semen Padang untuk ketiga kalinya.

Papan skor berganti menjadi 3-0, dan atmosfer stadion kian mencekam bagi pendukung lokal yang terdiam seribu bahasa, menyaksikan tim kesayangan mereka dibongkar tanpa ampun oleh agresivitas tak kenal kendur dari anak-anak Surabaya.

Pesta gol Persebaya kian tak terbendung ketika penyerang asing mereka, Mhalo Perovic, turut menyumbang gol pada menit ke-62 lewat penyelesaian akhir yang klinis.

Tertinggal empat gol, koordinasi permainan Semen Padang benar-benar lumpuh, menyisakan lubang menganga di setiap lini yang siap dieksploitasi kapan saja. Pertandingan ini bukan lagi drama taktis dua tim besar, melainkan sebuah eksekusi dingin di mana Persebaya bertindak sebagai algojonya dan Semen Padang pasrah menerima nasib.

Panggung paruh akhir babak kedua kemudian sepenuhnya menjadi milik Bruno Paraiba. Striker haus gol ini memulai pertunjukan pribadinya pada menit ke-67 melalui eksekusi penalti yang tenang namun mematikan, setelah bek Semen Padang melakukan pelanggaran konyol di kotak terlarang akibat frustrasi.

Gol kelima ini seolah meruntuhkan sisa-sisa martabat yang dimiliki tuan rumah, meninggalkan rasa sesak bagi siapa saja yang mendukung panji Kabau Sirah.

Tidak puas dengan satu gol, Bruno Paraiba kembali menghukum rapuhnya koordinasi pertahanan Semen Padang pada menit ke-73 melalui sontekan akurat di dalam kotak penalti.

Puncak penderitaan tuan rumah akhirnya digenapi pada masa injury time, tepatnya menit ke-90+2, saat Paraiba mencetak gol ketiganya malam itu sekaligus mengukir hat-trick gemilang.

Peluit panjang berbunyi, papan skor raksasa berkedip menyakitkan bagi publik Padang: Semen Padang 0, Persebaya Surabaya 7.

Bagi Persebaya, kemenangan masif tujuh gol tanpa balas ini adalah berkah luar biasa yang melontarkan mereka ke posisi keempat klasemen sementara dengan koleksi 55 poin, sekaligus membuka lebar peluang ke kompetisi Asia.

Namun bagi Semen Padang, kekalahan memalukan di pekan ke-33 ini adalah cermin retak dari pengelolaan klub yang harus segera dibenahi total. Mereka kini makin terpuruk di dasar jurang klasemen, menanggung beban malu yang mendalam, dan harus menerima kenyataan pahit bahwa level mereka saat ini memang terpaut teramat jauh dari jajaran elite sepak bola tanah air. (Sjs_267)

Baca juga:

Arema FC Raih Tiga Poin Di Markas PSBS Biak 

Aston Villa Menangkan Pertandingan Lawan Liverpool, Liverpool Masih Berharap Cemas Lolos ke Liga Champions 

Madrid Pulihkan Harga Diri, Oviedo Kian Terpatri di Dasar Klasemen 

Valencia Mampu Menyamakan Gol Vs Rayo, Girona Berakhir Imbang Lawan Real Sociedad 

Getafe Berskor Gol 3 Vs Mallorca Berbalas 1 Gol

Alaves Tumbangkan Penghuni Puncak Klasemen Barcelona  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Komisi III DPR RI Sampaikan Laporan RUU Polri dalam Rapat Paripurna, Tekankan Reformasi Berkelanjutan

JAKARTA , MENJUAL HARAPAN – Komisi III DPR RI resmi menyampaikan laporan terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (RUU Polri) dalam Rapat Paripurna DPR RI yang digelar pada Selasa, 9 Juni 2026. Dalam laporan yang dibacakan oleh Ketua Komisi III DPR RI, Dr. H. Habiburohman , S.H., M.H., ditegaskan bahwa RUU ini merupakan langkah lanjutan untuk menyempurnakan reformasi Polri agar lebih profesional, transparan, dan berintegritas. Proses Pembahasan yang Partisipatif Habiburohman memaparkan bahwa proses pembentukan RUU ini telah melalui mekanisme yang panjang dengan mengedepankan meaningful participation atau partisipasi publik yang bermakna. Komisi III tercatat telah melakukan 12 kali rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan melibatkan sedikitnya 15 pakar/guru besar, 6 kelompok masyarakat, dan 3 kelompok mahasiswa. Selain itu, Panitia Kerja (Panja) RUU Polri juga telah m...