Langsung ke konten utama

Juventus Dibantai Fiorentina 0-2, Mimpi Tiket Eropa Si Nyonya Tua Terancam?

MENJUAL HARAPAN  — Malam kelam di Allianz Stadium. Juventus dipaksa bertekuk lutut di hadapan publiknya sendiri setelah dibantai Fiorentina dua gol tanpa balas dalam laga lanjutan pekan ke-37 Serie A 2025/2026, Minggu malam WIB  (17/5/2026).

Kekalahan tragis ini menjadi pukulan telak bagi Bianconeri yang tengah berjuang mengamankan zona Eropa, sekaligus menjadi bukti kepiawaian taktik La Viola yang tampil spartan meski harus menyudahi laga dengan 10 pemain.

Babak Pertama: Ndour Bungkam Allianz Stadium

Bertindak sebagai tuan rumah, Juventus awalnya mencoba mengambil inisiatif serangan. Namun, koordinasi lini tengah yang rapuh dan transisi yang lambat membuat aliran bola mudah dipatahkan oleh tekanan tinggi (pressing) yang diterapkan Fiorentina.

Malapetaka bagi tuan rumah datang di menit ke-33. Memanfaatkan kelengahan lini pertahanan Juventus yang gagal mengantisipasi serangan balik cepat, Cher Ndour sukses menceploskan bola ke dalam gawang.

Gol tersebut seketika membungkam riuh publik Turin dan mengubah papan skor menjadi 0-1 untuk keunggulan tim tamu. Skor ini bertahan hingga turun minum, meninggalkan pekerjaan rumah yang menumpuk bagi pelatih Juventus.

Babak Kedua: Kartu Merah Hingga Tikaman Mandragora

Memasuki paruh kedua, Juventus mencoba menaikkan intensitas serangan demi mengejar ketertinggalan. Harapan bagi publik Turin sempat membubung tinggi pada menit ke-71 ketika wasit mengusir salah satu pemain Fiorentina keluar lapangan akibat hukuman kartu merah langsung.

Unggul jumlah pemain, Juventus mengurung pertahanan Fiorentina. Namun, alih-alih mencetak gol penyeimbang, kepanikan justru melanda lini belakang Si Nyonya Tua.

Melalui skema serangan balik yang sangat efektif di menit ke-82, Rolando Mandragora melakukan tusukan mematikan ke jantung pertahanan Juventus. Dengan sepakan keras yang terukur, ia sukses menaklukkan kiper tuan rumah untuk kedua kalinya.

Skor 0-2 mengunci kemenangan dramatis Fiorentina yang bermain dengan 10 orang.

Implikasi Klasemen: Juventus Tertahan, Fiorentina Bernapas Lega

Hasil minor ini membuat posisi Juventus di papan atas tertahan, sementara Fiorentina berhasil membawa pulang tiga poin krusial untuk menjauh dari zona merah.

Klasemen

Klub

Main

Poin

Status di Pekan ke-37

6

Juventus

37

68

Terancam gagal maksimalkan posisi zona Eropa

15

Fiorentina

37

41

Aman dari ancaman degradasi


Catatan penutup

Kekalahan ini memunculkan pertanyaan besar terkait mentalitas juara Juventus di laga-laga krusial akhir musim. Gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dan justru kebobolan di menit-menit akhir mencerminkan adanya masalah kedisiplinan taktik yang mendalam.
Sebaliknya, Fiorentina layak mendapat apresiasi tinggi atas kedisiplinan dan efisiensi serangan balik mereka yang luar biasa malam ini. (S_267)


Baca juga:
Bayern Makin Kokoh di Puncak Klasemen Usai Taklukkan Koln 
Persija Bawa Pulang Tiga Poin Usai Kalahkan Persik 
Malut United Berakhir Imbang Vs Persita, Persis Menang Vs Dewa United  
Stadion H Agus Salim, Sumatera Barat, Saksi Bisu Kehancuran Kabau Sirah 
Arema FC Raih Tiga Poin Di Markas PSBS Biak 
Aston Villa Menangkan Pertandingan Lawan Liverpool, Liverpool Masih Berharap Cemas Lolos ke Liga Champions 
Madrid Pulihkan Harga Diri, Oviedo Kian Terpatri di Dasar Klasemen 
Valencia Mampu Menyamakan Gol Vs Rayo, Girona Berakhir Imbang Lawan Real Sociedad




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...