Langsung ke konten utama

Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Portugal Melaju Babak 16 Besar Taklukkan Kroasia

MENJUAL HARAPAN - Stadion Toronto, menjadi saksi dimana timnas Portugal berhasil tumbangkan timnas Kroasi dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026, Jumat pagi WIB (3/7/2026).

Keberhasil timnas Portugal melenggang ke babak 16 besar FIFA World Cup 2026 usai taklukkan Kroasi dengan skor gol 2-1.

Sesungguhnya, timnas Kroasia unggul lebih dahulu membobol gawang kiper Portugal pada menit ke-53 lewat tendangan Ivan Persic. Akan tetapi, serangan dan tekanan para pemain Portugal usai kebobolan makin massif mengancam pertahanan Kroasia, sehingga pada menit ke-68 Kroasia dikenai hukuman penalty akibat terjadi pelanggaran.

Tendangan penalti untuk Portugal dipercayakan kepada Cristiano Ronalda, dan dia berhasil mengeksekusi dengan baik mengecoh penjaga gawang Kroasia. Kedudukan gol pun manjadi sama 1-1.

Sepanjang duel kedua tim ini setelah sama posisi gol, makin meningkat dengan aksi-aksi jual beli serangan dan menekan pertahanan lawan. Akan tetapi, usaha serangan kedua timnas ini tidak berhasil membuahkan gol.

Seiring dengan jalannya waktu normal pertandingan, dan kedudukan maish sama, intensitas kedua timnas terus menerus saling menekan dan mengancam gawang kiper lawannya.

Waktu normal pertandingan tuntas, dan keadaan masih belum ada perubahan lagi, namun pada waktu tambahan atau injury time tampak para pemain Portugal makin menjadi-jadi memberikan tekanan terhadap pertahanan Kroasia, sehingga pada menit ke-90+4, Goncalo Ramos menjadi pahlawan Portugal yang berhasil membobol gawang kiper Kroasia.

Kedudukan berubah, dimana Portugal unggul 2-1 Kroasia ini bertahan hingga pertandingan berakhir. Dan Portugal berhasil raih tiket melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. (S_267)

Baca juga:

Ramson Siagian: Kepatuhan DMO Batubara Harus Diawasi Ketat, PLN Diminta Lebih Proaktif 

Retorika ‘Bebas Padam’ versus Realitas ‘Menyala Bergilir’: Menyoal Keadilan Energi di Luar Jawa 

Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Spanyol Vs Austria Berskor Gol 3-0 

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan 

RD Kongo Unggul Lebih Dahulu, Inggris Petik Kemenangan

Belgia Memenangkan Pertandingan Lawan Senegal

Laga Melelahkan 76 Menit, Mayla Cahya Lolos dari Hadangan Korsel di BAJC 2026 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...