Langsung ke konten utama

Laga Melelahkan 76 Menit, Mayla Cahya Lolos dari Hadangan Korsel di BAJC 2026


Mayla Cahya Afilian Pratiwi (foto tangkapan layar dari djarumbadminton.com)
MENJUAL HARAPAN — Tunggal putri Indonesia, Mayla Cahya Afilian Pratiwi, harus memeras keringat lebih awal demi mengamankan tiket ke babak 32 besar Badminton Asia Junior Championships (BAJC) 2026.

Bertanding di Yatsushiro City General Gymnasium, Jepang, pada Rabu (1/7/2026), pebulu tangkis muda tanah air ini dipaksa bermain rubber game yang menguras fisik.

Mayla sukses menumbangkan perlawanan sengit wakil Korea Selatan, Seol A In. Melalui duel sengit berdurasi 76 menit, atlet asal klub Mutiara Cardinal Bandung tersebut menyudahi pertandingan dengan skor tipis 22-20, 17-21, 21-19.

"Hari ini di babak 64 besar memang lawannya cukup berat dan sangat susah untuk dimatikan," ujar Mayla melalui rilis resmi Humas dan Media PP PBSI.

"Saya tidak cukup satu kali pukulan untuk mematikan dia, jadi harus lebih sabar dan harus kuat fisiknya." Ujarnya.

Tantangan Perubahan Format Pertandingan

Bukan hanya faktor lawan yang menjadi tantangan bagi Mayla, melainkan juga adaptasi sistem poin. Berbeda dengan nomor beregu pekan lalu yang mengadopsi sistem reli poin hingga angka 11, nomor perorangan BAJC 2026 kembali menggunakan format tradisional 21 poin.

Perubahan ini menuntut para atlet untuk pintar dalam mengatur strategi serta menjaga bensin stamina agar tidak habis di tengah jalan. "Bersyukur hari ini bisa memenangkan pertandingan," tambah Mayla yang legawa mampu melewati ujian pertama format panjang ini.

Misi Emas di Panggung Junior Terakhir

Ajang yang berlangsung pada 1–5 Juli ini memuat misi besar bagi Mayla. Menjadi salah satu dari empat srikandi tunggal putri Indonesia—bersama Jolin Angelia (Pelatnas), Christabel Calista Purwanto, dan Raisya Affatunisa (PB Djarum)—Mayla mengusung target tertinggi.

Pemain kelahiran Bandung ini menegaskan ingin menutup masa juniornya dengan memori manis. "Saya ingin meraih medali emas karena ini AJC terakhir saya, tapi sebisa mungkin dimaksimalkan dulu setiap pertandingannya, step by step," pungkasnya mantap.

Langkah Mayla selanjutnya akan diuji oleh wakil Vietnam, Nguyen Thi Thu Huyen, di babak 32 besar. Ketangguhan fisik dan mental Mayla kembali akan dinanti demi menjaga asa podium tertinggi untuk Merah Putih. (*Sjs_267)

Sumber Berita: djarumbadminton.com BAJC 2026 - Mayla Lewati Ujian Pertama" (diakses, 1/7/2026)

Baca juga:

Meksiko Raih Kemenangan Lawan Ekuador 

BWF Rilis Kalender 2027-2028, Terapkan Skor Baru dan Format Maraton Super 1000 

Pantai Gading Vs Norwegia Berskor Gol 1-2 

Eksklusif: Restrukturisasi Besar-Besaran Cipayung, PBSI Bongkar Pasang Ganda Campuran dan Ganda Putri, Ester Nurumi Hijrah Sektor! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...