Langsung ke konten utama

RD Kongo Unggul Lebih Dahulu, Inggris Petik Kemenangan

MENJUAL HARAPAN - Babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026, timnas Inggris berhadapan dengan timnas RD Kongo yang berlangsung digelar di Stadion Atlanta, Rabu malam WIB (1/7/2026).

Duel kedua timnas ini, sungguh menarik, dimana RD Kongo unggul lebih dahulu pada menit ke-7 melalui tendangan Brian Cipenga.

Keunggulan bagi RD Kongo 1-0 dari Inggris ini bertahan hingga pertandingan turun minum.

Usai jeda, dan memasuki babak kedua, kedua timnas peserta Piala Dunia 2026 ini berusaha bangkit. Utamanya timnas Inggris terus memberikan tekanan terhadap pertahanan RD Kongo.

Duel makin sengit dengan aksi-aksi pergerakan para pemain kedua tim dalam merancang bangun serangan.

Inggris baru berhasil menyamakan kedudukan gol menjadi 1-1 pada menit ke-75 melalui tendangan geledek Harry Kane ke gawang kiper RD Kongo.

Dalam kedudukan sama ini, akselerasi volume serangan yang dirancang kedua timnas terus mewarnai duel pertandingan babak 32 besar ini.

Seiring waktu terus berjalan, Inggris melalui Harry Kane pada menit ke-86 berhasil menggetarkan gawang kiper RD Kongo, dan unggul menjadi 2-1.

Kongo tertinggal 1-2 dari Inggris di sisa-sisa waktu normal pertandingan terus berusaha menekan pertahanan Inggris, namun para pemain Inggris begitu kokoh menghadang laju pergerakan pemain Kongo, dan serangannya buntu.

Waktu juga yang menuntaskan pertandingan antara Inggris versus Kongo, dan Inggris berhasil meraih kemenangan dengan skor gol akhir 2-1, sekaligus melaju ke babak 16 besar FIFA World Cup 2026. (S_267)

Baca juga:

Belgia Memenangkan Pertandingan Lawan Senegal 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...