Langsung ke konten utama

BAJC 2026: Tampil Dominan, Atresia/Aurelia Segel Tiket 16 Besar di Jepang


atresia Naufa Candani/Aurelia Syakira Putri (Foto hasil tangkapan layar dari djarumbadminton.com)

MENJUAL HARAPAN – Sektor ganda putri Indonesia sukses mengamankan tempat di babak 16 besar turnamen bergengsi Badminton Asia Junior Championships (BAJC) 2026. Kepastian ini diraih oleh pasangan Atresia Naufa Candani/Aurelia Syakira Putri setelah membukukan kemenangan meyakinkan atas wakil Malaysia, Lee Joinne/Tan Xin Yu.

Bertanding di Yatsushiro City General Gymnasium, Yatsushiro, Jepang, pada Kamis (2/7), duet Merah Putih menyudahi perlawanan rival serumpun lewat permainan straight game 21-14, 21-13 dalam durasi 38 menit.

Evaluasi Pertandingan: Antisipasi Keunggulan Lawan

Sejak awal laga, Atresia/Aurelia langsung memegang kendali permainan. Meski demikian, mereka mengakui bahwa pasangan Malaysia sempat memberikan perlawanan yang cukup alot berkat akurasi pukulan pembuka mereka.

"Alhamdulillah pertandingan hari ini berjalan lancar, kami bisa bermain dengan baik dan tidak ada cedera apapun. Keunggulan lawan sendiri mereka memiliki bola satu dua yang lebih safe," ujar Atresia kepada tim Humas dan Media PP PBSI.

Tantangan Jadwal Padat dan Strategi Pemulihan

Kemenangan ini tidak membuat Atresia/Aurelia bisa bersantai. Berdasarkan jadwal turnamen, mereka harus kembali turun bertanding pada hari yang sama untuk memperebutkan tiket perempat final. Lawan berat sudah menanti di babak 16 besar, yakni unggulan keenam asal Taiwan, Chen Han/Liang Ching Sun.

Mengingat jeda waktu yang singkat, fokus utama pasangan Indonesia saat ini adalah mengembalikan kebugaran fisik. Terlebih bagi Atresia yang harus membagi fokusnya di dua nomor berbeda.

Fokus Pemulihan: Keduanya memprioritaskan pemulihan kondisi fisik sebelum meracik strategi terbaik bersama jajaran pelatih demi tampil maksimal di laga berikutnya.

Tantangan Dua Sektor: Atresia mengungkapkan bahwa bermain di dua sektor menuntut kesiapan yang jauh lebih besar. "Karena main dua sektor, persiapan saya juga harus lebih ekstra dan harus menjaga komunikasi dengan kedua partner aja," tuturnya.

Target Besar, Langkah Demi Langkah

Sementara itu, sang partner, Aurelia Syakira Putri, menegaskan bahwa ambisi besar mereka di ajang BAJC 2026 ini adalah keluar sebagai kampiun. Namun, ia memilih untuk tidak terbebani oleh target tersebut dan ingin fokus menghadapi setiap laga secara bertahap.

"Target utama kami adalah meraih gelar juara BAJC 2026. Meski demikian, kami memilih untuk tetap fokus menjalani pertandingan selangkah demi selangkah dan tampil maksimal di setiap laga," pungkas Aurelia.

Sumber: djarumbadminton.com BAJC 2026 - Atresia/Aurelia ke 16 Besar" (diakses, 3/7/2026)


Baca juga:

BAJC 2026: Jinakkan Wakil Korea, Barrok/Edsel Jaga Asa Ganda Putra Indonesia 

BAJC 2026: Tunggal Putra Indonesia Radithya Gugur di Babak 16 Besar 

Langkah Jolin Angelia Terhenti Dini di Yatsushiro: Catatan Evaluasi untuk Penggawa Baru Pelatnas 

Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Portugal Melaju Babak 16 Besar Taklukkan Kroasia 

Ramson Siagian: Kepatuhan DMO Batubara Harus Diawasi Ketat, PLN Diminta Lebih Proaktif 

Retorika ‘Bebas Padam’ versus Realitas ‘Menyala Bergilir’: Menyoal Keadilan Energi di Luar Jawa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...