Langsung ke konten utama

Chelsea di Markas Sendiri Tumbang Lawan Manchester United

 

MENJUAL HARAPAN - Chelsea tidak mampu mampu memenangkan pertandingan lawan Manchester United di pekan ke-33 Liga Inggris. Justru sebaliknya, Manchester United berhasil raih tinga poin dengan memenangkannya.

Duel Chelsea versus Manchester United berlangsung digelar di Stadon Bridge, Minggu dini hari WIB (19/4/2026).

Silih berganti menekan di babak pertama terus menghiasi atmosfer pertandingan ini, dan makin sengit saling jual beli serangan dan mengancam pertahanan masing-masing.

Akan tetapi, serangan manchester United memasuki menit ke-43 berhasil merobek gawang kiper Chelsea melalui tendangan Matheus Cunha dari hasil proses pergerakan dan umpan Bruno Fernandes di sisi kiri pertahanan Chelsea.

Chelsea tertinggal 0-1 dari Manchester United hingga bertahan turun minum.

Usai jeda, memasuki babak kedua, Chelsea berusaha bangkit dengan meningkatkan serangannya ke pertahanan Manchester United, dan Manchester United meladeni tekanan para pemain tuan rumah dengan penuh percaya diri.

Terus silih berganti menekan dan penguasaan bola yang tidak jauh berbeda, namun Chelsea harus menerima pil pahit kekalahan di kandang sendiri dari Man United.

Tiga poin terbuang, kini Chelsea berada di urutan ke-6 dengan 48 poin, dan Manchester United berada di urutan ke-3 dengan 58 poin klasemen Liga Inggris pekan ke-33 ini. (S_267) 

Baca juga: 

Tottenham Hotspur Ditahan Imbang Lawan Brighton

Persebaya Surabaya Derita Kekalahan dari Madura United

Bhayangkara FC Merangkak ke Lima Besar, Usai Tumbangkan PSIM

Sassuolo Menang Tipis Tumbangkan Como

Skor Gol Inter Milan Vs Cagliari 3-0 di Pekan ke-33 Serie A

Freiburg Menyalakan Api Semifinal Usai Bantai Tuan Rumah Celta

Aston Villa Hantam Bologna, Tiket Semifinal Digenggam

Nottingham Forest Melaju ke Semifinal Liga Eropa Usai Taklukkan Porto

Bayern Muenchen ke Semifinal Usai Tumbangkan Real Madrid

Skor Gol Perempat Final Betis Vs Braga 2-4, Braga Melenggang ke Semifinal Liga Eropa



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...