Langsung ke konten utama

Uji Coba Bertajuk FIFA Matchday: Jerman Taklukkan Ghana

MENJUAL HARAPAN - Uji coba bertajuk FIFA Matchday mempertemukan Timnas Jerman menghadapi Timnas Ghana yang berlangsung digelar di MHP Arena, Stuttart, Selasa dini hari WIB (31/3/2026), Timnas Jerman tmbangkan Timnas Ghana dengan skor gol 2-1.

Gol pembuka timnas Jerman dicetak ditambahan waktu babak pertama, menit 45+3 melalui tendangan penalti Kai Havertz.

Timnas Jerman unggul 1-0 dari Ghana di babak pertama ini tidak terbalas hingga turun minum.

Babak kedua dimulai, kedua kesebelasan ini berusaha saling menekan pertahanan lawannya.

Baca juga: Kolombia Titaklukkan Prancis dalam Laga FIFA Matchdaya

Timnas Ghana terus menekan pertahanan timnas Jerman, sehingga pada menit ke-70 gawang kiper timnas Jerman kebobolan. Gol balasan Ghana dicetak oleh Abdul Fatawu Issahak.

Kedudukan sama 1-1 ini, membuat kedua timnas saling menekan dan jual beli serangan ke pertahanan lawan.

Sejalan dengan waktu, timnas Jerman kembali membuat gol pada menit ke-88 lewat tendangan Deniz Undav, dan Jerman kembali unggul menjadi 2-1 dari timnas Ghana.

Pertandingan uji coba persahabatan internasional ini sebagai upaya membaca strategi dan taktik timnas lawan untuk berlaga di piala dunia 2026 beberapa bulan mendatang.

Baca juga: Meksiko Vs Portugal Tanpa Gol Uji Coba Persahabatan

Rangkaian ini penting dalam persiapan kedua timnas negara dalam berlaga di putaran final piala dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...