Langsung ke konten utama

Kolombia Ditaklukkan Prancis dalam Laga FIFA Matchday

 

MENJUAL HARAPAN - Timnas Kolombia, menjamu timnas Prancis pada laga FIFA Matchday yang berlangsung digelar di Maryland, amerika Serikat, Senin dini hari WIB (30/3/2026).

Timnas Prancis tumbangkan timnas Kolombia dengan skor gol akhir 3-1. Dan gol-gol Prancis terjadi pada menit ke-29 dan 56 yang dicetak oleh Desire Doue, dan menit ke-41 oleh Marcus Thuram.

Sementara Kolombia berhasil menggolkan pada menit ke-77 lewat tendangan Jaminton Campaz.

Baca juga: Meksiko Vs Portugal Tanpa Gol Uji Coba Persahabatan

Prancis pada babak pertama berhasil menggolkan dua gol, dan hingga turun minum tidak alami perubahan.

Kemudian, usai jeda timnas Prancis tampak tidak mengendorkan tekananan terhadap pertahanan timnas Kolombia. Dan baru menghasilkan gol di menit ke-56.

Kolombia tertinggal 0-3, berusaha keluar dari tekanan pemain Prencis, dan melakukan aksi serangannya ke pertahanan Prancis, dan baru berhasil membuahkan gol di menit ke-77.

Baca juga: Spanyol Gulung Serbia di Laga Persahabatan

Kendati usai mencetak gol ke gawang kiper Prancis di menit ke-77, Kolombia berusaha menekan dengan aksi-aksi serangannya ke pertahanan Prancis, namun tidak bertambah gol.

Pertandingan hingga berakhhir yang dimenangkan oleh Prancis pada laga FIFA Matchday ini tentu menjadi modal yang berarti bagi kedua tim sebelum nanti berlaga di ajang piala dunia 2026. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Final Liga Champions UEFA: PSG Taklukkan Arsenal Lewat Drama Adu Penalti

MENJUAL HARAPAN – Arena Puskas, Budapest , Minggu (31/5/2026) dini hari WIB, menjadi saksi bisu pecahnya kebuntuan panjang Paris Saint-Germain (PSG) di kancah Eropa. Dalam laga final Liga Champions 2025-2026 yang menguras emosi, raksasa Prancis tersebut akhirnya sukses mengangkat trofi "Si Kuping Besar" setelah menundukkan perlawanan sengit Arsenal lewat drama adu penalti yang menegangkan. Bagi Arsenal, malam ini adalah mimpi yang tertunda. The Gunners sejatinya memulai laga dengan sempurna. Belum genap lima menit peluit dibunyikan, pendukung Arsenal sudah bergemuruh. Kai Havertz , dengan ketenangan kelas dunia, berhasil membungkam pertahanan PSG dan membuka keunggulan. Gol cepat tersebut seolah menjadi sinyal bahwa trofi Liga Champions akan segera mendarat di London Utara. Hingga turun minum, disiplin taktik Arsenal mampu meredam setiap upaya serangan dari lini depan PSG. Namun, sepak bola adalah permainan dua babak, dan PSG tidak berniat pulang dengan tangan hampa. Memas...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...