Langsung ke konten utama

Spanyol Gulung Serbia di Laga Persahabatan

 

MENJUAL HARAPAN - Estadio de la Cerámica menjadi saksi ketangguhan Timnas Spanyol saat menjamu Serbia dalam laga uji coba internasional, Sabtu dini hari WIB (28/3/2026). 

Bertindak sebagai tuan rumah, La Furia Roja tampil dominan sejak menit awal dan menutup pertandingan dengan kemenangan meyakinkan 3-0.

Gol pertama lahir di menit ke-16 melalui aksi Mikel Oyarzabal yang memanfaatkan celah di lini pertahanan Serbia. Pemain Real Sociedad itu kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-44 lewat penyelesaian klinis yang membuat Spanyol unggul dua gol di babak pertama.

Baca juga: Pertandingan Persahabatan Belanda Vs Norwegia

Serbia sempat mencoba bangkit dengan intensitas permainan yang lebih agresif, namun rapatnya lini belakang Spanyol membuat upaya mereka tak membuahkan hasil.

Memasuki babak kedua, Spanyol tetap menjaga tempo permainan. Victor Muñoz menambah keunggulan pada menit ke-72 dengan tendangan keras dari luar kotak penalti yang tak mampu dihalau kiper Serbia. Gol tersebut sekaligus mengunci kemenangan telak bagi tuan rumah.

Baca juga: Italia Vs Irlandia Utara: Tonali dan Kean Menyalakan Asa Azzurri

Meski Serbia memperlihatkan perlawanan sengit, penguasaan bola dan kreativitas serangan Spanyol membuat mereka lebih unggul sepanjang laga. Hasil positif ini menjadi modal berharga bagi skuad Luis de la Fuente dalam mempersiapkan diri menuju Piala Dunia 2026.

Kemenangan 3-0 bukan sekadar angka di papan skor, melainkan sinyal bahwa Spanyol tengah berada di jalur yang tepat untuk menghadapi tantangan besar di turnamen akbar mendatang. (*S_267)

Baca juga: Republik Ceko Vs Irlandia: Malam Panjang di Praha



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Final Liga Champions UEFA: PSG Taklukkan Arsenal Lewat Drama Adu Penalti

MENJUAL HARAPAN – Arena Puskas, Budapest , Minggu (31/5/2026) dini hari WIB, menjadi saksi bisu pecahnya kebuntuan panjang Paris Saint-Germain (PSG) di kancah Eropa. Dalam laga final Liga Champions 2025-2026 yang menguras emosi, raksasa Prancis tersebut akhirnya sukses mengangkat trofi "Si Kuping Besar" setelah menundukkan perlawanan sengit Arsenal lewat drama adu penalti yang menegangkan. Bagi Arsenal, malam ini adalah mimpi yang tertunda. The Gunners sejatinya memulai laga dengan sempurna. Belum genap lima menit peluit dibunyikan, pendukung Arsenal sudah bergemuruh. Kai Havertz , dengan ketenangan kelas dunia, berhasil membungkam pertahanan PSG dan membuka keunggulan. Gol cepat tersebut seolah menjadi sinyal bahwa trofi Liga Champions akan segera mendarat di London Utara. Hingga turun minum, disiplin taktik Arsenal mampu meredam setiap upaya serangan dari lini depan PSG. Namun, sepak bola adalah permainan dua babak, dan PSG tidak berniat pulang dengan tangan hampa. Memas...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...