Langsung ke konten utama

Rembun Merayap di Hulu Citarum


Hulu Sungai Citarum di Situ Cisanti (Foto hasil tangkapan layar dari Tempo.co) 

MENJUAL HARAPAN - Rembun pagi itu turun dengan laku yang amat santun, merayap perlahan dari puncak-puncak Gunung Wayang seakan takut membangunkan mata air yang sedang terlelap. Di hulu Citarum, ia bertindak sebagai selimut sutra perak yang memeluk lekuk-lekuk tebing, menjaga rahasia kesucian alam yang belum terjamah oleh ketamakan. Air yang lahir dari rahim batu mengalir bening bagai air mata malaikat, meliuk bebas tanpa beban, menyapa akar-akar pohon besar yang meminumnya dengan rasa hormat.

Dahulu kala, sungai ini merupakan sebuah altar peribadatan suci bagi kehidupan. Arusnya menyanyikan tembang purba tentang kesetiaan bumi kepada manusia, sebuah simfoni alam yang dideru oleh kepak sayap elang dan kecipak ikan-ikan yang menari riang di dasar lubuk. Setiap tetes airnya adalah darah kehidupan yang memberi napas pada hamparan sawah di hilir, menyuburkan peradaban yang tunduk pada hukum semesta.

Manusia masa lalu, memperlakukan hulu ini bagaikan seorang ibu kandung. Mereka mendekat dengan telapak kaki telanjang, dan hati yang bersih, mencedok airnya dengan batok kelapa seolah-olah sedang mereguk berkah langsung dari langit.

Rembun yang merayap di sela jemari mereka bukan sekadar uap dingin, melainkan restu gaib yang meyakinkan bahwa harmoni ini akan abadi selama langit masih menjunjung bumi. Akan tetapi, makhluk bermata satu yang tak pernah tidur itu, mulai menggiring rombongan manusia jenis baru ke tepiannya. Mereka datang tidak membawa madah syukur, melainkan kapak bergigi baja, dan mimpi-mimpi tentang beton yang menjulang. Perlahan namun pasti, hutan-hutan penyangga penyaring rembun mulai digunduli, ditelanjangi hingga menyisakan tanah merah yang terluka dan menangis saat hujan tiba.

Kini, rembun yang merayap di hulu Citarum, tak lagi menemukan dedaunan hijau tempatnya bersandar di kala fajar. Ia merayap limbung di atas tanah-tanah kritis, mencoba mengenali kembali wajah sang hulu yang kini bopeng dan ringkih.

Air yang dahulu mengalir dengan keanggunan seorang permaisuri, kini kerap berubah menjadi amukan cokelat berlumpur, membawa dendam tanah yang kehilangan pelindungnya.

Panggung allegori ini kian kelam ketika raksasa-raksasa modern bermulut corong mulai berparade di sepanjang tubuh sang sungai. Mereka adalah mesin-mesin industri yang haus, yang meminum air bersih di satu sisi, lalu memuntahkan kembali racun berwarna-warni di sisi lain.

Citarum yang semula adalah urat nadi kehidupan, secara perlahan namun pasti, diubah paksa menjadi pembuluh darah yang mengalirkan nanah peradaban.

Lihatlah warna arusnya dewasa ini: tidak lagi bening berkilau memantulkan cahaya rembulan, melainkan hitam pekat, terkadang merah tembaga atau berbusa putih bagai mulut orang yang sekarat akibat racun.

Ikan-ikan purba yang dahulu menjadi saksi kejayaan kerajaan di bantaran sungai, kini mengambang dengan perut putih menghadap langit—sebuah protes bisu atas kolam kematian yang diciptakan oleh anak cucu mereka sendiri.

Aroma mistis hulu yang dahulu wangi oleh wewangian tanah basah dan pakis hutan, kini telah menguap, berganti bau busuk zat kimia yang menusuk hidung hingga ke hulu angan.

Udara di sekitarnya terasa berat, seolah-olah partikel rembun yang turun dari langit langsung terkontaminasi oleh uap keserakahan yang mengepul dari cerobong-cerobong pabrik di kejauhan.

Rembun pagi, kini merayap dengan kesedihan yang teramat sangat, seperti seorang ibu tua yang meraba-raba tubuh anaknya yang sedang sekarat di ranjang pesakitan. Ia menyaksikan sampah plastik dari peradaban instan tersangkut di batu-batu hulu, menjadi monumen-monumen kecil atas kedangkalan spiritual manusia modern terhadap ekologi.

Sungai ini telah dijadikan tempat pembuangan dosa yang paling murah.

Manusia-manusia di sekitarnya pun telah berubah watak; mereka tak lagi memandang sungai sebagai kawan spiritual, melainkan sebagai saluran pembuangan raksasa yang tak punya rasa.

Mereka mencuci, membuang hajat, dan mengalirkan limbah domestik ke dalam tubuhnya tanpa secuil pun rasa bersalah, melupakan bahwa air yang mereka racuni hari ini adalah air yang akan membasahi tenggorokan anak cucu mereka esok hari.

Di bawah tatapan rembun yang kian menipis akibat pemanasan global, Citarum kini tampak seperti naga legendaris yang kehilangan sisik indahnya, merayap payah di antara himpitan pemukiman kumuh, dan kawasan industri.

Jeritannya diredam oleh deru mesin pabrik, dan air matanya disamarkan oleh limbah detergen yang berbuih-buih di sepanjang aliran.

Upaya-upaya penyelamatan yang sering digelorakan di mimbar-mimbar megah terdengar tak lebih dari sekadar mantra kosmetik yang kehilangan kesaktian.

Mereka menanam pohon di satu sudut, sementara di sudut lain ekskavator terus mengeruk isi bumi; mereka membersihkan permukaan, namun membiarkan racun tetap meresap ke dalam sumsum tanah. Sebuah sandiwara teatretikal ‘inohong’ yang ditonton oleh rembun dengan senyum getir.

Citarum, engkau tak pernah bisa berbohong tentang rasa sakit, dan balada luka yang ditulis dengan tinta limbah beracun. Setiap riak airnya yang menghantam batu hulu terdengar seperti rintihan minta tolong yang diabaikan oleh telinga-telinga yang telah tersumbat oleh gemerincing mata uang.

Keindahan masa lalu kini hanya hidup dalam dongeng pengantar tidur yang dituturkan oleh para tetua yang rindu.

Malam hari tiba, ketika manusia-manusia modern tertidur dalam kepompong kenyamanan artifisial mereka, Citarum tetap mengalir dalam kesunyian yang mencekam. Ia mengalir membawa beban merkuri dan plastik, melintasi kota-kota yang mengabaikannya, menuju muara yang juga telah kehilangan harapan untuk melihat air jernih kembali.

Rembun yang merayap di hulu, kini sering kali terpaksa menyingkir lebih cepat sebelum matahari benar-benar terbit. Ia malu menampakkan diri di atas bentang alam yang telah cacat, tak sudi menyinari permukaan air yang tak lagi mampu memantulkan kesucian wajah langit. Kehadirannya kini tak lebih dari sekadar hantu masa lalu yang bergentayangan di bekas surga yang runtuh.

Kendati, di tengah segala keputusasaan ini, alam memiliki caranya sendiri untuk mengingat. Akar-akar pohon purba yang masih tersisa di sudut-sudut hulu yang tersembunyi tetap mencengkeram tanah dengan sisa-sisa kekuatan mereka, berbisik pada rembun agar jangan pernah berhenti datang, sebab selamanya rembun adalah harapan terakhir bagi kesembuhan sang hulu.

Fajar kembali menyingsing, dan di hulu Citarum yang terluka, rembun tipis itu kembali merayap dengan sisa-sisa keanggunannya, berjuang melubangi pekatnya kabut polusi. Ia melintas seolah membawa pesan allegoris yang abadi bagi kita semua: bahwa selama manusia belum mampu memurnikan kembali hatinya, maka aliran Citarum akan tetap menjadi cermin retak dari peradaban kita yang sakit.(Silahudin_267)

Keterangan: "Ide cerita, judul, dan konsep filosofis oleh Silahudin, dinarasikan bersama Asisten AI atas arahan penulisnya"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Presiden Prabowo Subianto Lantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional

  Presiden Prabowo Subianto lantik Sudaryono sebagai BGNdi Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 22 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Cahyo   MENJUAL HARAPAN — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (22/7/2026) sore . Pelantikan ini menandai dimulainya kepemimpinan baru di lingkungan BGN untuk memperkuat akselerasi dan pelaksanaan program strategis Makan Bergizi Gratis (MBG) . Pengangkatan Sudaryono tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional . Dalam prosesi tersebut, Presiden Prabowo memandu langsung pengambilan sumpah jabatan yang diucapkannya secara khidmat oleh pejabat terlantik . “Bahwa saya, akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Repub lik Indonesia tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi...

Mengabdi di Cangkuang, Mahasiswa Universitas Nurtanio Akselerasi Program "Desa Cerdas dan Masyarakat Berdaya"

  Sekdes Cangkuang, dalam memberikan sambutan penerimaan KKNMT Universitas Unnur Bandung dan didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (kiri), Selasa, 28/7/2026 BANDUNG, MENJUAL HARAPAN  – Dalam upaya mereduksi kesenjangan teknologi serta mendorong kemandirian masyarakat perdesaan, mahasiswa Universitas Nurtanio (Unnur) menggelar program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Terintegrasi (KKNMT) 2026 di Desa Cangkuang, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Mengusung tema besar "Desa Cerdas, Masyarakat Berdaya: Digitalisasi, Literasi Menuju Desa Mandiri Berkelanjutan" , kehadiran puluhan mahasiswa berjaket almamater biru ini disambut hangat oleh pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat dalam acara pembukaan dan sosialisasi program yang berlangsung di Aula Desa Cangkuang. Sinergi Mahasiswa KKNMT Universitas Nurtanio 2026 bersama Perangkat Desa dan Warga Cangkuang di Aula Desa Transformasi Digital hingga Pemberdayaan Ekonomi Program KKNMT kali ini berfokus pada penerjemahan konsep ...

Donny Ernawan dan Yos Sunitiyoso Dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia

Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Donny Ermawan dan Yos Sunitiyoso sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI) di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 22 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr MENJUAL HARAPAN JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi melantik Donny Ermawan Taufanto dan Yos Sunitiyoso masing-masing sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI) . Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (22/7/2026) sore . Pengangkatan kedua pimpinan perguruan tinggi tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Gubernur dan Wakil Gubernur Universitas Republik Indonesia . Dalam prosesi pengucapan sumpah jabatan yang dipandu langsung oleh Presiden Prabowo, kedua pejabat yang dilantik menegaskan komitmen mereka untuk menjalankan amanah dengan penuh integri tas dan tanggung jawab . “Bahwa saya ...