Langsung ke konten utama

Liga Jerman: Bayern Tekuk Tuan Rumah Bremen, Hoffenheim Gunduli Freiburg

MENJUAL HARAPAN - Tuan rumah Bremen telak kalah di kandang sendiri oleh Bayern Muenchen pada laga pekan ke-22 Liga Jernman atau Bundesliga 2025-2026.

Bayern Muenchen menggunduli tuan rumah Bremen dengan skor gol 3-0, yang berturut-turut gol dicetak pada menit ke-22 lewat tendangan penalti Harry Kane, dan menit ke-25, dan gol ketiganya dicetak oleh Leon Goretzka pada menit ke-70.

Bermain di kandang sendiri, di Weserstadion, Bremen pada Sabtu (14/2/2026) waktu setempat, tuan rumah tidak berdaya berhadapan dengan bayern Muenchen.

Gol kemenangan Bayern tanpa balas ini, membawanya makin kokoh di puncak klasemen dengan mengoleksi 57 poin, sementara Bremen berada di urutan ke- 16 dengan 19 poin klasemen Bundelsliga pekan ke-22.

Adapun pertandingan lainnya Hoffenheim versus Freiburg yang berlangsung digelar di FreZero Arena, Sinsheim pada Sabtu (14/2/2026).

Duel antara Hoffenheim versus Freiburg ini berjalan sengit sejak kick-off babak pertama, dan hingga turun minum tidak ada gol yang terjadi.

Usai jeda dan kedua kesebelasan kembali ke lapangan, yang sama-sama memiliki ambisi memenangkan pertandingan.

Satu menit babak kedua dimulai, tuan rumah Hoffenheim langsung menyerang ke pertahanan Freiburg dan berhasil mencetak gol melalui tendangan Fisnik Asilani.

Kemudian, lima menit berikutnya (51’) Ozan Muhammed Kabak menambah pundi golnya untuk timnya menjadi 2-0.

Freiburg tertinggal 0-2 berusaha bangkit dengan aksi-aksi menyerangnya ke pertahanan Hoffenheim, namun gagal membuahkan gol.

Seiring jalannya waktu pertandingan makin memasuki detik-detik akhir pertanidngan, kedudukan maish belum berubah lagi.

Akan tetapi, ada tambahan waktu pertandingan, dan dioptimalkan oleh para pemain tuan rumah Hoffenheim sehingga pada menit ke-90+5 Valentin Gendrey menambah pundi golnya untuk Hoffenheim menjadi 3-0 hingga pertandingan berakhir tanpa balas.Hasil tiga poin ini, Hoffenheim mengoleksi 45 poin dan berada di urutan papan atas posisi ke-3 klasemen Bundesliga. Sedangkan Freiburg berada di urutan ke-8 dengan mengoleksi 30 poin. (S_267) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...