Langsung ke konten utama

Aston Villa Melenggang Ke Babak 16 Besar Liga Eropa

MENJUAL HARAPAN - Liga Eropa musim 2025-2026 telah usai putaran terakhir dari delapan pertandingan. Aston Villa pada lagi puncak Liga Eropa ini menjamu RB Salzburg berlangsung digelar di Villa Park pada Jumat dini hari WIB (30/1/2026).

Pekan terakhir UEFA Europa League musim 2025-2026 ini, Aston Villa sempat tertinggal 0-2 pada babak pertama.

Babak pertama tampaknya milik Tim RB Salzburg berhasil membobol gawang kiper tuan rumah Aston Villa.

Tertinggal 0-2 dari RB Salzburg, tuan rumah Aston Villa pada babak kedua berusaha bangkit untuk membalikkan keadaan.

Baca juga: Panathinaikos Vs Roma, dan FCSB Vs Fenerbahce Imbang

Kendati tidak mudah menundukkan pertahanan dan gawang RB Salzburg, akhirnya Aston Villa berkat serangat yang terus menerus ke pertahanan lawannya, berhasil membobol gawang kiper RB Salzburg pada menit ke-64 lewat tendangan Morgan Rogers.

Kemudian, dua belas menit berikutnya (76’) Aston Villa kembali menggetarkan gawang kiper lawannya melalui tendangan Tyrone Mings, sehingga kedudukan sama menjadi 2-2.

Duel makin seru dan sengit antar dua kesebelasan ini, utamanya setelah kedudukan sama kuat 2-2 ini, bahkan asntusiasme pemain Aston Villa makin meningkat untuk memenangkannya.

Waktu normal pertandingan mendekati akhir, akhirnya Aston Villa berhasil menambah golnya pada menit ke-87 lewat tusukan pemainnya Jamaludeen Jimoh, dan Aston Villa berhasil membalikkan keadiaan menjadi kedudukan gol 3-2 hingga pertandingan ini berakhir.

Baca juga: Real Betis Taklukkan Feyenoord di Pekan Pamungkas Liga Eropa

Hasil tiga poin di puncak pertandingan Liga Eropa ini, Aston Villa melenggang ke babak berikutnya dengan mengumpulkan 21 poin dan berada di urutan ke-2 klasemen fase Liga Eropa 2025-2026.

Sedangkan RB Salzburg tersingkir melanjutkan pertandingan di play-off untuk merebut ke babak 16 besar. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...