Langsung ke konten utama

Pekan Kedelapan Serie A: Milan Berbagi Poin Dengan Pisa

 


MENJUAL HARAPAN - AC Milan berada di puncak klasemen, dan pada pekan kedelapan menjamu tim Pisa pada laga lanjutan Serie A musim 2025/2026 berlangusng digelar di Stadion San Siro, Sabtu dini hari WIB (25/10/2025).

AC Milan berhadapan dengan Pisa, begitu kockoff langsung menggebrak pertahanan lawannya, bahkan pada menit ke-7 berhasil membobol gawang kiper Pisa yang dicetak oleh Rafael Leao.

Gol pembuka Milan yang dicetak Rafael Leao ini, tampaknya tidak berjalan mulus hingga babak pertama turun minum, tidak alami perubahan gol kembali.

Babak kedua dimulai, kedua kesebelasan kembali ke lapangan, tuan rumah yang telah memiliki modal unggul sementara, berusaha menambah gol dengan aksi-aksi serangannya, akan tetapi, para pemain Pisa, justru berusaha bangkit dengan rancang bangun serangan dari berbagai sisi yang massif.

Serangan demi serangan pemain-pemain Pisa ke pertahanan AC Milan, membawa pemain tuan rumah kelabakan menghadangnya, bahkan pada menit ke-60, membawa petakan AC Milan dikenai hukuman pinalti. Hadiah penalti diberikan pada Pisa, dan dieksekusi dengan baik oleh Juan Cuadrado, kedudukan menjadi 1-1.

Kedudukan sama 1-1, pemain Pisa makin antusias menggencarkan tekanan terhadap pertahanan AC Milan, dan AC Milan tampak makin kerepotan menghadang serangan pemain-pemain Pisa.

Akhirnya, pemain Pisa berhasil membubuhkan gol ke gawang kiper tuan rumah pada menit ke-88, M’Bala Nzola membawa keunggulan sementara Pisa menjadi 2-1 dari AC Milan.

AC Milan tertinggal 1-2 dari Pisa, berusaha meningkatkan taktik serangannya ke pertahanan Pisa, serangan demi serangan terus dilancarkan untuk menyamakan kedudukan gol, dan AC Milan berhasil menyamakan gol pada waktu tambahan, yaitu menit ke-90+3 yang disumbangkan oleh Zachary Athekame.

Kedudukan sama kuat 2-2 ini hingga pertandingan berakhir, Milan masih tetap berada di punca klasemen dengan koleksi 17 poin, sementara Pisa berada di urutan ke-17 dengan ngoleksi 4 poin pada klasemen sementara Liga Italia musim 2025/2026 pekan kedelapan. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...