Langsung ke konten utama

Man United Terus Merangkak Ke Papan Atas, Liverpool Berada di Papan Tengah

MENJUAL HARAPAN - Manchester United berada dalam tren positif, dan terus bergerak ke papan atas klasemen.

Pada pekan kesembilan, Man United menjamu lawannya Brighton yang berlangsung tanding digelar di Stadion Old Trafford, Sabtu (25/10/2025).

Duel ini dimenangkan oleh Manchester United dengan skor gol akhir 4-2. empat gol kemenangan Manchester United dicetak berturut-turut pada babapertama menit ke-24 oleh Matheus Cunha, dan Cesemiro pada menit ke-34, dan dua gol babak pertama hingga turun minun tidak ada perubahan gol lagi.

Pada babak kedua, tuan rumah Manchester United kembali membobol gawang kiper Brighton di menit 61 yang dicetak Bryan Mbeumo, dan Bryan juga kembali mencetak di menit ke-90+7.

Sementara dua gol balasan Brighton dicetak di menit ke-74 lewat tusukan Danny Welbeck, dan menit ke-90+2 yang dicetak oleh Charalampos Kostoulas.

Tiga poin diraih Mancerster United ini membawanya ke posisi ke-4 klasemen Premier League 2025/2026 dengan ngantongi 16 poin, sementara lawannya Brighton berada di urutan ke-13 dengan 12 poin pekan kesembilan Liga Inggris ini.

Lain Man United, lain pula dengan Liverpool. Liverpool pada pekan kesembilan ini, tandang ke markas Brentford, dan pertandingan digelar di Gtech Community Stadion, Minggu dini hari WIB (26/10/2025).

Liverpool dikalahkan Brentford dengan skor gol 2-3, dan kini Liverpool berada di urutan ke-6 dengan koleksi 15 poin pada klasemen sementara Premier League ini.

Sednagkan Brintford berada di urutan ke-10 dengan koleksi 13 poin.

Pada pertandingan ini, Brentford langsung menggetarkan gawang kiper Liverpool di menit ke-5 yang ditendang oleh Dango Quattara, kemudian gol kedunya terjadi di menit ke-45 yang dicetak Kevin Schade.

Namun, pada menit ke-45+5 Liverpool berhasil memperkecil ketertinggalannya yang menggoyangkan gawang kiper Brentford atas tendangan Milios Kerkez, hingga turun minum.

Di babak kedua, tuan rumah Brintford kembali membobol gawangk kiper Liverpool di menit ke-60 oleh Igor Tiago melalui tendangan dari titik penalti, dan tuan rumah berhaisl mengantongi 3 gol, namun Liverpool kembali memperkecil ketertinggalannya di menit ke-89 lewat tendangan Muhamed Salah, sehingga keduudkan hingga pertandingan ini berakhir menjadi 3-2. (S_267)

Baca juga: Chelsea Ditumbangkan Sunderland, Newcastle Raih Kemenangan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...