Langsung ke konten utama

Dominasi Tanpa Cela: Mubarrok/Edsel Gilas Wakil Hong Kong, Amankan Tiket Semifinal U-19

Muh. Rizki Mubarrok/Raihan Daffa Edsel Pramono (Foto dok pbsi.id)

MENJUAL HARAPAN — Pasangan ganda putra U-19 unggulan ketiga Indonesia, Muhammad Rizki Mubarrok dan Raihan Daffa Edsel Pramono, melenggang mulus ke babak semifinal Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026.

Menghadapi wakil Hong Kong, Cheng Ying Kit/Cheung Sai Shing, ganda putra tuan rumah ini tampil sangat dominan untuk membungkus kemenangan telak straight game 21-11, 21-9 pada Sabtu (11/7/2026).

Kemenangan cepat ini menjadi bukti kesiapan taktis dan kematangan mental yang diusung oleh Mubarrok/Edsel.

Rencana Matang dan Ambisi Double Winner

Mubarrok/Edsel langsung memegang kendali permainan sejak servis pertama dilesakkan. Mereka tidak memberikan ruang sedikit pun bagi pasangan Hong Kong untuk mengembangkan permainan, dengan terus menekan lewat skema yang telah mereka rancang sebelum laga.

"Untuk pertandingan tadi, sudah sesuai dengan rencana kami. Jadi kami terus fokus dengan rencana itu," ujar Mubarrok menjelaskan kunci sukses permainan mereka.

Bagi pasangan ini, turnamen edisi kali ini merupakan momentum comeback setelah sempat absen pada tahun lalu. Pada edisi 2024, keduanya sukses naik podium tertinggi di kategori ganda putra U-17, sementara Mubarrok bahkan berhasil mengawinkan gelar lewat sektor ganda campuran U-17 bersama Yasintha Ristyna Putri.

Kembali bermain di ajang ini, Edsel menegaskan targetnya yang tidak main-main: membidik dua gelar sekaligus.

"Alhamdulillah pertandingan tadi berjalan dengan lancar dan tanpa ada cedera apapun," tutur Edsel. "Tahun ini pastinya saya mau double winner. Untuk lawan, siapapun saya siap untuk hadapi." (*Sjs_267)


Sumber Berita Utama: pbsi.id "Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026: Barrok/Edsel Melenggang Ke Semifinal"


Baca juga:

JRJIGP 2026: Zaira Octavia Redam Tembok Pertahanan Wakil Jepang 

Naik Kelas Bukan Halangan: Miftaqul Putri Tumbangkan Unggulan Thailand, Bidik Gelar Beruntun

Keluar dari Tekanan, Zamraliani Arifianto Melaju ke 8 Besar Demi Kejar Jejak Sang Kakak 

Misi Pertahankan Takhta: Double Duty Sukses, Maharishiel Melenggang ke Perempat Final U-19 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...