Langsung ke konten utama

Debut Manis Metta Hartono di Panggung Internasional: Tekuk Wakil Jepang, Tembus 8 Besar U-15

Metta Handayani Hartono (Foto dok pbsi.id)

MENJUAL HARAPAN — Panggung internasional perdana langsung menjadi pembuktian mental bagi tunggal putri U-15 Indonesia, Metta Handayani Hartono. Tampil di babak 16 besar Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026, Metta sukses memetik kemenangan dramatis lewat pertarungan rubber game melawan wakil Jepang, Rise Hino, dengan skor 21-13, 16-21, 21-15 pada Jumat (10/7/2026).

Kemenangan ini mengantarkan Metta melaju ke babak 8 besar sekaligus menegaskan potensinya di level junior.

Kematangan Taktis di Gim Penentu

Metta mengawali gim pertama dengan sangat meyakinkan lewat permainan bertempo cepat yang gagal diantisipasi oleh Hino. Namun, situasi berbalik di gim kedua saat Metta menurunkan intensitas serangan dan terjebak dalam pola permainan one-by-one yang dikembangkan wakil Jepang tersebut.

Beruntung, arahan pelatih di jeda menuju gim penentu berhasil membakar kembali semangat juang pebulu tangkis muda Indonesia ini.

"Tadi di game pertama saya mendahului untuk bermain cepat, di game kedua saya melambatkan permainan dan terbawa main satu-satu oleh lawan," ungkap Metta mengevaluasi jalannya laga. "Di game ketiganya pelatih meyakinkan untuk bermain maksimal dan menerapkan pola main seperti di game pertama."

Sebagai debutan di turnamen internasional, Metta mengaku sangat termotivasi setiap kali berhadapan dengan pemain luar negeri. Kunci kemenangannya hari ini bukan sekadar taktik, melainkan ketahanan mental untuk menyembunyikan rasa lelah di lapangan.

"Ini pertandingan internasional pertama saya. Senang bisa melawan atlet luar negeri dan semangat untuk mengalahkan mereka," kata Metta antusias. "Kunci kemenangan hari ini yakin dan main maksimal, jangan tunjukkan kalau lagi cape. Besok saya mau main maksimal dan nothing to lose aja."

Sumber Berita Utama: pbsi.id " Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026: Pertama Kali Pertandingan International Metta Melaju ke Babak 8 Besar" (diakses, 14/7/2026)


Baca juga:

Faza/Rachel Amankan Tiket Perempat Final, Hidupkan Kembali Chemistry Lama di Jaya Raya Junior 2026 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...