Langsung ke konten utama

Naik Kelas Bukan Halangan: Miftaqul Putri Tumbangkan Unggulan Thailand, Bidik Gelar Beruntun


Miftaqul Putri Ayudis (Foto dok pbsi.id)

MENUAL HARAPAN — Langkah impresif dipertontonkan oleh tunggal putri U-19 Indonesia, Miftaqul Putri Ayudis. Meski baru saja naik kategori, Putri sukses mengamankan tiket semifinal Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026 setelah menumbangkan unggulan keempat asal Thailand, Janyaporn Meepanthong, lewat drama rubber game 10-21, 21-16, 21-18 pada Sabtu (11/7/2026).

Kemenangan ini sekaligus menjaga asa Putri untuk mengulangi kejayaan tahun lalu di podium tertinggi.

Pembalikan Strategi Pasca-Kekalahan Gim Pertama

Putri sempat kewalahan di gim pembuka. Meepanthong yang diunggulkan di tempat keempat langsung mendikte permainan dengan memanfaatkan akurasi bola-bola atas serta penempatan bola setengah lapangan yang menyulitkan pertahanan Putri. Gim pertama pun lepas dengan skor telak 10-21.

Namun, mentalitas juara Putri berbicara di gim kedua. Sadar strateginya terbaca, ia langsung merombak pola permainan secara radikal untuk merebut gim kedua 21-16, sebelum akhirnya menuntaskan laga dengan serangan agresif di gim penentu.

"Tadi di game pertama saya kalah, namun di game kedua berhasil menang setelah merubah pola permainan dan di game ketiga saya bisa lebih fokus untuk menyerang, Alhamdulillah berhasil menang," ungkap Putri usai laga menegangkan tersebut.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap kualitas lawannya yang dinilai memiliki variasi pukulan yang merepotkan.

"Keunggulan lawan tadi, memiliki bola atas dan bola-bola setengah yang bagus," tambahnya.


Ambisi Back-to-Back Juara di Kategori Berbeda

Keberhasilan menembus babak empat besar ini memicu kebanggaan tersendiri bagi Putri, mengingat dirinya berstatus sebagai pemain yang baru saja naik ke kelas U-19. Sebagai pemegang takhta juara kategori U-17 pada edisi tahun lalu, ia menegaskan misinya untuk kembali naik ke podium tertinggi tahun ini.

"Masuk semifinal pastinya bangga karena saya baru naik kategori. Tahun lalu saya berhasil menjadi juara di kategori U17 dan tahun ini saya juga mau juara lagi," tegas Putri. "Kunci kemenangan hari ini tenang, fokus dan sabar." (*Sjs_267)

Sumber berita utama: pbsi.id "Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026: Putri Ingin Juara Lagi" (diakses, 14/7/2026)


Baca juga;

Keluar dari Tekanan, Zamraliani Arifianto Melaju ke 8 Besar Demi Kejar Jejak Sang Kakak 

Misi Pertahankan Takhta: Double Duty Sukses, Maharishiel Melenggang ke Perempat Final U-19 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...