Langsung ke konten utama

Misi Penebusan Ghina Khairani: Bungkam Wakil Thailand, Putus Tren Negatif Babak 8 Besar


Ghina Khairani Guniandi (Foto dok pbsi.id)

MENJUA HARAPAN — Tunggal putri U-19 Indonesia, Ghina Khairani Guniandi, sukses mengamankan tempat di babak perempat final Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026.

Tiket 8 besar tersebut diraih Ghina setelah menyudahi perlawanan sengit wakil Thailand, Pimchanok Sutthiviriyakul, lewat kemenangan straight game 21-11, 21-18 pada Jumat (10/7/2026).

Kemenangan ini sekaligus membuka jalan bagi Ghina untuk melampaui pencapaian buruknya pada edisi tahun lalu.

Mengatasi Lonjakan Ritme Lawan

Ghina langsung tampil menggebrak sejak awal gim pertama. Mengandalkan pola permainan menyerang yang agresif, ia berhasil mendikte jalannya pertandingan dan menutup gim pembuka dengan skor mencolok 21-11.

Namun memasuki gim kedua, Sutthiviriyakul mulai menunjukkan perlawanan dengan mempercepat tempo permainan dan memanfaatkan kekuatan pukulannya.

"Pertandingan tadi lumayan ketat, apalagi di game kedua. Alhamdulillah saya bisa mengatasi lawan," kata Ghina mengevaluasi laganya. "Di game pertama saya cukup percaya diri dengan pola main saya yang menyerang. Di game kedua saya sempat kendor dan lawan juga mempercepat tempo jadi saya agak kurang siap."

Ghina juga memberikan catatan khusus mengenai kekuatan fisik sang lawan yang sempat menyulitkan pertahanannya di gim kedua.

"Lawan tangannya cukup kuat kalau banting bola, drive, dan smash-nya," tambahnya.

Kini, fokus Ghina langsung tertuju pada laga krusial esok hari. Berkaca pada kegagalannya tahun lalu yang harus tersingkir di perempat final, ia bertekad untuk tampil lebih siap, baik dari segi fisik maupun mental.

"Besok saya mau jaga kondisi dan menyiapkan mental karena sudah masuk babak 8 besar," tegas Ghina. "Tahun lalu saya kalah di babak 8 besar, semoga saya bisa lebih baik tahun ini." (Sjs_267)

Sumber berita utama: pbsi.id " Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026: Ghina Kandaskan Wakil Thailand"  (diakses, 14/7/2026)



Baca juga:

Misi Pertahankan Takhta: Double Duty Sukses, Maharishiel Melenggang ke Perempat Final U-19 

Debut Manis Metta Hartono di Panggung Internasional: Tekuk Wakil Jepang, Tembus 8 Besar U-15 

Faza/Rachel Amankan Tiket Perempat Final, Hidupkan Kembali Chemistry Lama di Jaya Raya Junior 2026 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...