Langsung ke konten utama

Keluar dari Tekanan, Zamraliani Arifianto Melaju ke 8 Besar Demi Kejar Jejak Sang Kakak


Zamriliani Arifianto (Foto dok pbsi.id)

MENJUAL HARAPAN — Drama menegangkan tersaji di sektor tunggal putri U-17. Pemain muda Indonesia, Zamraliani Arifianto, menunjukkan mental baja setelah berhasil membalikkan keadaan dan menumbangkan wakil Thailand, Pichayada Yooprasert, lewat pertarungan melelahkan tiga gim 18-21, 21-13, 23-21.

Kemenangan ini terasa sangat berharga bagi Zamraliani, mengingat Yooprasert merupakan pemain yang menjegal langkah wakil andalan Indonesia lainnya di babak sebelumnya.

Instruksi Pelatih dan Ketenangan di Poin Kritis

Zamraliani sempat terlambat panas di gim pertama. Ia mengaku kebingungan menghadapi intensitas serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Yooprasert, sehingga harus merelakan gim pertama lepas.

Titik balik terjadi di gim kedua berkat kejelian tim pelatih yang melihat celah pada pergerakan kaki lawan.

"Game pertama saya ketinggalan start, lawan banyak menyerang dan saya masih bingung akan bermain seperti apa," ungkap Zamraliani jujur. "Di game kedua pelatih bilang, lawan kakinya lambat dan pukulannya tidak terlalu tajam jadi saya diberikan instruksi untuk lebih yakin lagi."

Ketegangan memuncak di gim penentu. Setelah sempat berada di atas angin dengan keunggulan match point 20-16, Zamraliani justru kehilangan fokus hingga kedudukan mampu disamakan oleh lawan menjadi 20-20. Dalam situasi kritis tersebut, ketenangan yang diinstruksikan pelatih menjadi kunci penyelamat.

"Di game ketiga sempat unggul 20-16 namun terkejar, saat poin-poin kritis itu pelatih memberikan instruksi untuk lebih tenang dan akhirnya bisa menang," tuturnya lega.

Melompat Jauh dan Motivasi Menjadi Nomor Satu

Keberhasilan menembus babak 8 besar merupakan lonjakan prestasi yang luar biasa bagi Zamraliani, mengingat tahun lalu perjalanannya sudah terhenti jauh lebih awal di babak 32 besar.

Namun, ada motivasi lebih besar yang dipikul di pundaknya. Sebagai adik kandung dari pilar tunggal putri senior Indonesia, Putri Kusuma Wardani, Zamraliani memiliki impian besar untuk menyamai, bahkan melampaui prestasi sang kakak.

"Masuk babak 8 besar pastinya sangat senang, karena tahun lalu kalahnya di babak 32 besar," kata Zamraliani. "Sebagai adik dari Putri Kusuma Wardani pastinya senang dan bangga. Saya sendiri pastinya mau jadi nomor satu Indonesia seperti beliau."

Menghadapi laga perempat final esok hari, Zamraliani memilih fokus pada pemulihan fisik dan menjaga konsentrasi. "Besok saya mau makan dan istirahat yang cukup serta dijaga lagi fokusnya," pungkasnya. (*Sjs_267)


Sumber Berita Utama: pbsi.id "Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026: Zamraliani Ingin Susul Jejak Sang Kaka" (diakses, 14/7/2026)



Baca juga:

Misi Pertahankan Takhta: Double Duty Sukses, Maharishiel Melenggang ke Perempat Final U-19 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...