Langsung ke konten utama

Dominasi Rekor Pertemuan Berlanjut, Alvin Jefferson Amankan Tiket Final U-15 demi Emas Tuan Rumah

MENJUAL HARAPAN — Tunggal putra U-17 andalan Indonesia, Alvin Jefferson Kusuma, sukses menembus babak final setelah memenangi laga "perang saudara" kontra Muhamad Derajat Maulana. Bertanding di babak semifinal pada Sabtu (11/7), Alvin menyudahi perlawanan kompatriotnya tersebut dua gim langsung dengan skor 21-14, 21-16.

Meski skor akhir menunjukkan selisih poin yang cukup berjarak, Alvin mengakui sempat didera ketegangan di tengah lapangan.

Unggul Fisik dan Dukungan Suporter

Alvin, yang mendominasi rekor pertemuan atas Derajat, sempat membuat laga menegangkan bagi dirinya sendiri ketika beberapa kali kehilangan fokus dan membiarkan perolehan poinnya didekati lawan. Namun, keunggulan kebugaran fisik akhirnya menjadi pembeda utama yang membantunya mengunci kemenangan.

"Puji Tuhan bisa kembali ke final lagi setelah dua tahun lalu saya juara di kategori U15," kata Alvin penuh syukur.

"Main hari ini sebenarnya poinnya jauh, namun saya sedikit tegang, jadi gampang tersusul. Dengan Derajat sudah sering bertemu dan saya mendominasi kemenangan. Kunci kemenangan tadi, fisik saya lebih unggul jadi saya bisa menguasai jalannya permainan," jelas Alvin.

Kini, fokus Alvin langsung mengarah ke partai puncak. Tampil sebagai tuan rumah, ia berharap atmosfer dukungan suporter dari rekan-rekannya di tribun bisa menjadi energi tambahan untuk mewujudkan impian mempersembahkan medali emas.

"Harapan saya bisa menyumbang emas dan membanggakan kedua orang tua, pelatih dan orang-orang yang sudah mendukung saya. Sebagai tuan rumah, besok pasti akan ada suporter dari rekan-rekan dan ini akan menjadi suntikan semangat untuk saya," pungkasnya. (S_267)


Sumber utama berita; pbsi.id "Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026: Alvin Ingin Berjaya Di Kandang


Baca juga:

Dominasi Tanpa Cela: Mubarrok/Edsel Gilas Wakil Hong Kong, Amankan Tiket Semifinal U-19 

JRJIGP 2026: Zaira Octavia Redam Tembok Pertahanan Wakil Jepang 

Naik Kelas Bukan Halangan: Miftaqul Putri Tumbangkan Unggulan Thailand, Bidik Gelar Beruntun

Keluar dari Tekanan, Zamraliani Arifianto Melaju ke 8 Besar Demi Kejar Jejak Sang Kakak 

Misi Pertahankan Takhta: Double Duty Sukses, Maharishiel Melenggang ke Perempat Final U-19

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...