Langsung ke konten utama

Tuan Rumah Girona Kalah Lawan Celta, Betis Vs Sevilla Imbang 2-2

 

MENJUAL HARAPAN - Girona menjamu Celte pada pekan ke-26 La Liga 2025-2026 berlangsung digelar di Montilivi, Senin dini hari WIB (2/3/2026).

Tuan rumah Girona unggul lebih dulu pada menit ke-35 lewat tendangan Vladyslav Vanat. Keduduan gol 1-0 ini bertahan hingga turun minum.

Namun, usai jeda, tampaknya Celta jauh lebih siap dalam empat puluh lima menit kedua ini. Serangan demi serangannya ke pertahanan tuan rumah, merepotkannya.

Baca juga: Arsenal Makin Kokoh di Puncak Klasemen Usai Kalahkan Chelsea, MU Taklukkan Crystal Palace

Serangan Celta akhirnya berhasil membobol gawang kiper Girona pada menit ke-58 lewat tendang Ferran Jutgla.

Kedudukan sama 1-1 ini terus berlanjut hingga pada menit ke-70 serangan para pemain Celta membawa petakan di kotak penalti tuan rumah, yang mana pemainnya lakukan gol bunuh diri (GBD).

Atas gol bunuh diri itulah, akhirnya Celta memenangkan pertandingan pekan ke-26 ini di markas Girona.

Celta dengan raih tiga poin ini, berada di urutan ke-6 dengan 40 poin, sedangkan Girona sendiri berada di posisi ke-12 dengan 30 poin klasemen Liga Spanyol pekan kedua puluh enam.

Baca juga: Torino Berhasil Taklukkan Lazio, Sassuolo Kalahkan Atalanta, dan Cremonese Vs Milan 0-2

Sedangkan Betis menjamu Sevilla terjadi empat gol selama duel pekan ke-26 ini. Drama empat gol ini, tuan rumah Betis lebih dahulu unggul di menit ke-16 dan ke-37.

Dua gol Betis dicetak oleh pemainnya: Antony dan Alvaro Fidalgo, dan keunggulan sementara ini hingga turun minum bertahan.

Akan tetapi usai jeda, Betis tidak berhasil mempertahankan keunggulannya, justru di babak kedua, Sevilla mendominasi penguasaan bola dan menghasilkan dua gol di menit ke-62 dan ke-85 berturut-turut dicetak oleh Alexis Sanchez dan Isaac Romero.

Baca juga: Drama Enam Gol Duel Roma Vs Juventus, Berakhir Imbang

Keduduan gol sama 2-2 ini, duel keduanya makin seru dan sengit saling menekan pertahanan lawannya untuk memenangkan pertandingan. Akan tetapi, hingga pertandingan ini berkahir, posisi gol tidak alami perubahan lagi.

Hasil berbagi poin ini, Betis kini berada di urutan papan atas ke-5 dengan mengoleksi 43 poin, sedangkan Sevilla berada di posisi ke-11 dengan mengoleksi 30 poin klasemen Liga Spanyol pekan kedua puluh enam. (S_267) 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...