Langsung ke konten utama

Arsenal Makin Kokoh di Puncak Klasemen Usai Kalahkan Chelsea, MU Taklukkan Crystal Palace

 

MENJUAL HARAPAN - Arsenal pada pekan ke-29 Premier League 2025-2026, tampak makin menjauh meninggalkan klub-klub di bawahnya usai taklukkan Chelsea dengan skor gol 2-1.

Berlaga Arsenal versus Chelsea ini berlangusng digelar di Stadion Emirates London, pada Minggu (1/3/2026).

Dua gol Arsenal dicetak pada babak pertama menit ke-21 oleh William Saliba, dan gol kedua dicetak Jurrien Timber pada menit ke-66. Sedangkan satu gol Chelsea pada menit ke-45+2 gol bunuh diri (GBD) Piero Hancapei.

Kedudkan 2-1 itu hingga pertandingan berakhir, namun sebelum berakhir Chelsea harus kehilangan pemainnya pada menit ke-70 karena terkena kartu merah.

Arsenal makin kokoh di puncak klasemen dengan mengoleksi 64 poin, sedangkan Chelsea sendiri berada di urutan ke-6 dengan 45 poin klasemen Liga Inggris pekan kedua puluh sembilan.

Sementara, Setan Merah - Manchester United berhadapan dengan Crystal Palace, dan setan merah menang dengan skor gol 2-1.

Duel manchester United versus Crystal Palace berlangsung digelar di Old Trafford, Stretford pada Minggu (1/3/2026).

Pada duel pekan ke-29 ini, Manchester United terlebih dahulu kebobolan gawangnya pada menit ke-4. Crystal Palace yang unggul sementara menit ke-4 lewat tendangan Maxence Lacroix hingga jeda.

Usai jeda, tuan rumah Manchester United bangkit dengan aksi-aksi serangannya ke pertahanan Crystal palace.

Serangan demi serangan para pemain tuan rumah, menghasilkan hadiah penalti bagi Manchester United pada menit ke-57 yang dieksekusi dengan baik oleh Bruno Fernandez, dan kedudukan sama 1-1.

Selanjutnya, delapan menit berikutnya (65’), Manchester United kembali membobol gawang kiper Crystal Palace. Gol kedua Manchester United dicetak oleh Benjamin Sesko.

Tuan rumah Manchester United akhirnya menang dengan sor gol akhir 2-1 hingga pertandingan usai.

Tiga poin diraih Manchester United, dan kini Manchester United berada di papan atas urutan ke-3 dengan mengoleksi 51 poin, dan Crystal Palace berada di urutan ke-14 dengan 35 poin klasemen Premier League 2025-2026 pekan kedua puluh sembilan. (S_267)  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...