Langsung ke konten utama

Drama Enam Gol Duel Roma Vs Juventus, Berakhir Imbang

MENJUAL HARAPAN - AS Roma versus Juventus di pekan ke-27 Serie A atau Liga Italia musim 2026 sungguh duel yang menegangkan dan penuh emosional yang berlangsung di Stadion Olimpico, Roma, Senin dini hari WIB (2/3/2026).

Enam gol terjadi pada laga Roma kontra Juventus ini dengan silih berganti menggolkan ke gawang kiper lawannya.

Tuan rumah Roma, memang sejak kick off terus menekan pertahanan Juventus, sehingga pada menit ke-39 baru menggoyangkan gawang kiper Juve yang dicetak melalui tendangan Wesley Franca.

Roma, unggul sementara 1-0, terus berlanjut hingga babak pertama berakhir, dan turun minum.

Tampak usai jeda, Juventus yang sudah tertinggal 0-1 dari tuan rumah, berisaha bangkit dengan melakukan pergerakan menyerang ke pertahanan Roma, dan babak kedua baru berjalan dua menit (47’), Francisco Consecilo membobol gawang kiper Roma, sehingga kedudukan gol sama 1-1.

Usai keddukan gol sama, tuan rumah Roma kembali meningkatkan volume menekan pertahanan Juventus dengan terus menerus, sehingga pada menit ke-54 Evan Ndicka berhasil melakukan tusukan bola ke gawang kiper Juve.

Roma kemebali unggul menjadi 2-1, namun kedudukan gol ini masih belum aman bagi tuan rumah, sehingga intensitas serangan pemain Roma makin masif menekan pertahanan Juventus, dan di menit ke-64, Donyell Malen menggetarkan gawang kiper Juventus, sehingga Roma unggul 3-1.

Juventus yang kembali tertinggal dari tuan rumah, berusaha mendesain ulang aksi-aksi serangannya ke pertahanan Roma, namun masih belum berhasil karena hadangan pemain tuan rumah terus mengganggunya.

Akan tetapi, para pemain Juve tidak berhenti terus menekan pertahanan Roma, dan Juve baru menambahkan gol pada menit ke-78. Jeremie Boga berhasil membobol gawang kiper Roma, dan menjadikan kedudukan gol Roma 3-2 Juventus.

Duel kedua kesebelasan makin menegangkan dengan tensi tinggi terus terjadi, utamanya tuan rumah yang masih unggul terus berusaha mempertahankan kunggulan sementaranya. Sedangkan Juventus sendiri terus melakukan aksi-aksi menekan dengan serangan dari berbagai lini.

Tampaknya, usaha terus menekan dengan serangan demi serangan pemain Juventus, membuahkan hasil gol ketiganya pada menit ke-90+3 lewat tendangan Federico Gatti.

Federico Gatti menjadi pahlawan Juve yang akhirnya berhaisl menyamakan kedudukan gol menjadi 3-3. Dan posisi ini tidak alami perubahan hingga pertandingan berakhir.

Roma, harus menerima kenyataan pahit ini dengan berbagi poin dengan Juventus di pekan ke-27 Liga Italia musim 2025-2026.

Hasil berbagi poin ini, Roma masih berada di papan atas urutan ke-4 dengan mengoleksi 51 poin, sedangkan Juventus berada di urutan ke-6 dengan mengoleksi 47 poin. (S_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...