Langsung ke konten utama

Magis Poin Kritis: Alvin Jefferson Lolos dari Lubang Jarum, Segel Gelar Juara U-17

Alvin Jefferson Kusuma (Foto dok pbsi.id)

MENJUAL HARAPAN — Ketebalan mental luar biasa dipertontonkan oleh tunggal putra U-17 Indonesia, Alvin Jefferson Kusuma. Tampil di partai puncak, Alvin sukses merengkuh gelar juara setelah memenangi laga sarat drama dua gim langsung dengan skor ketat 24-22, 22-20 atas wakil Jepang, Taisei Kushima.

Kemenangan ini terasa sangat manis karena Alvin sukses membuktikan tajinya setelah resmi naik kelompok usia.

Membalikkan Keadaan dari Posisi Match Point

Pertandingan berjalan sangat alot sejak gim pertama. Kushima yang berkarakter main kuat dan rapi terus menempel ketat perolehan poin Alvin. Kejar-mengejar angka memaksa terjadinya deuce sebelum akhirnya Alvin mengamankan gim pembuka 24-22.

"Di game pertama lawan jiwa tidak mau kalahnya kuat banget, mainnya maksa terus," aku Alvin tentang militansi sang lawan. "Saya juga tidak mau kalah, masa sudah unggul jauh malah kalah. Saya mencoba untuk menenangkan pikirannya aja."

Drama sesungguhnya terjadi di gim kedua saat Alvin tertinggal kritis di angka 17-20. Di ambang kekalahan gim, ia justru tampil lepas tanpa beban. Eksploitasi taktis pada kelemahan bola atas Kushima yang goyah saat diberi variasi menjadi kunci Alvin mencetak lima angka beruntun untuk membalikkan keadaan.

"Di game kedua saya bermain tanpa beban aja karena sudah tertinggal 17-20, puji Tuhan bisa menyusul dan memenangkan pertandingan," tutur Alvin penuh rasa syukur. "Keunggulan lawan mainnya kuat dan rapi, namun kalau bola atasnya diberikan variasi dia sedikit goyah."

Gelar ini langsung melambungkan ambisi Alvin ke tingkat nasional. Setelah mempersembahkan kemenangan untuk orang tua, keluarga, pelatih, dan teman-teman, ia kini menatap kompetisi yang lebih besar. "Target saya tahun ini semoga bisa main di kejuaraan nasional dan seleksi nasional," pungkasnya.

Sumber Berita Utama: pbsi.id "Jaya Raya Junior International Grand Prix 2026: Alven Memenangkan Laga Dramatis" (diakses, 14/7/2026)


Baca juga: 

Dominasi di Partai Puncak: Zilazik/Afizzah Segel Gelar Juara Ganda Campuran U-17 

Dominasi Rekor Pertemuan Berlanjut, Alvin Jefferson Amankan Tiket Final U-15 demi Emas Tuan Rumah

Dominasi Tanpa Cela: Mubarrok/Edsel Gilas Wakil Hong Kong, Amankan Tiket Semifinal U-19 

JRJIGP 2026: Zaira Octavia Redam Tembok Pertahanan Wakil Jepang 

Naik Kelas Bukan Halangan: Miftaqul Putri Tumbangkan Unggulan Thailand, Bidik Gelar Beruntun


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...