"Kontrak Sosial" Delapan Pilar dalam RUU Polri

MENJUAL HARAPAN - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) baru saja memasuki babak baru. Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Ketiga atas UU Nomor 2 Tahun 2002, telah disahkan dalam Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (9/6/2026).

Tentu, dokumen setebal ratusan halaman, menjanjikan transformasi besar. Akan tetapi, pertanyaannya tetap sama: apakah ini benar-benar revolusi mental institusional, atau sekadar tambal sulam birokrasi?

RUU tersebut, bukan sekadar revisi pasal-pasal mati. Hal ini merupakan "kontrak sosial" baru antara polisi dan rakyat.

Setidaknya ada delapan pilar yang menjadi tulang punggung perubahan ini, mulai dari usia pensiun yang lebih adaptif, hingga internalisasi kurikulum yang humanis.

Delapan Fokus Pembaruan

Poin pertama hingga kedelapan dalam revisi ini, sejatinya sedang mencoba melakukan "operasi jantung" terhadap kultur Polri. Dengan menegaskan arah transformasi yang transparan dan profesional, Polri ingin keluar dari bayang-bayang masa lalu yang kaku.

Lihatlah bagaimana digitalisasi pengawasan (poin 2), diusung sebagai obat mujarab bagi praktik penyelewengan yang selama ini sering dilakukan di balik pintu tertutup. Atau, bagaimana jaminan netralitas dan meritokrasi dalam karier (poin 3) berusaha memutus rantai "nepotisme institusional" yang sering menghambat perwira-perwira berbakat namun minim koneksi.

Yang tak kalah menarik adalah perubahan paradigma dari pola represif ke arah pelayanan masyarakat (poin 4). Dalam KUHP dan KUHAP baru, polisi bukan lagi "tukang pukul" hukum, melainkan penegak keadilan yang harus mengedepankan pendekatan restoratif. Ini tentu lompatan besar bagi sebuah institusi yang selama puluhan tahun terbiasa dengan gaya command and control.

Kendati demikian, pembaca yang kritis tentu akan bertanya: apa jaminan bahwa semua ini tidak berhenti sebagai teks hukum?

Penguatan peran Kompolnas (poin 8) adalah jawaban yang diberikan RUU ini. Jika Kompolnas benar-benar diberdayakan dengan kewenangan pengawasan eksternal yang nyata, bukan sekadar pemberi saran, maka kita memiliki check and balances yang sehat. Begitu pula dengan pengaturan ketat anggota Polri yang bertugas di luar instansi (poin 5), yang selama ini sering menjadi celah bagi politisasi institusi.

Kemudian, poin 6 dan 7 yaitu tentang usia pension dan penataan pendidikan, merupakan bagian yang penting untuk membangun "manusia polisi" yang lebih matang secara emosional, dan intelektual. Dengan kurikulum yang demokratis, kita sedang mendidik generasi polisi yang tidak takut pada kritik dan menghargai hak asasi manusia.

Bukan Akhir, Melainkan Awal

Pada tataran itu, aturan yang indah hanyalah fatamorgana, jika tidak dibarengi dengan kemauan politik (political will) di level terbawah. Tantangan terbesarnya adalah mengikis mentalitas "penguasa" menjadi "pelayan".

Persoalannya, kritik mengenai potensi tumpang tindih kewenangan atau efektivitas pengawasan eksternal tetap akan membayangi.

Memang, kita tidak bisa menafikan bahwa revisi ini merupakan upaya paling serius dalam dua dekade terakhir untuk mendefinisikan ulang apa itu polisi bagi Indonesia yang demokratis.

Polri kini berada di persimpangan jalan. Satu arah menuju institusi modern yang dicintai masyarakat, dan arah lain adalah jebakan birokrasi yang hanya mengganti bungkus tanpa mengubah isinya.

RUU ini telah memberikan peta jalannya. Waktu jua akan menjawab, akan tetapi satu hal yang pasti, yaitu pengawasan publik harus tetap menyala. Sebab, polisi yang baik adalah polisi yang diawasi oleh rakyat yang cerdas.* (Silahudin)


Komentar

Postingan Populer