Langsung ke konten utama

Coppa Italia: Atalanta Buat Juventus Tak Berbalas


MENJUAL HARAPAN - Juventus saat tandang ke markas Atalanta di Bergamo  pada laga Coppa Italia, Jumat dini hari WIB (6/2/2026).

Si Nyonya besar-Juventus dipermalukan dengan kekalahan 0-3 dari tuan rumah Atalanta.

Tiket semifinal Coppa Italia, diraih oleh Atalanta sebagai pembuktian kedua tim yang memang sama-sama paling impresif sepanjang babak 16 besar sebelumnya.

Tiga gol kemenangan Atalanta atas Juventus dicetak melalui penalti pada menit ke-27 oleh Gianluca Scamacca.

Babak pertama unggul sementara hingga turun minum dipegang oleh Atalanta.


Usai turun minum, Juventus berusaha untuk menyamakan kedudukan gol dengan aksi-aksi penyerangannya ke pertahanan Atalanta, akan tetapi para pemain Atalanta sigap mengganggu pergerakan pemain Si Nyonya besar.

Alih-alih menyamakan kedudukan gol, justru Juventus pada menit ke-77 gawang kipernya kebobolan lewat tusukan Kamaldeen Sulemana.

Tuan rumah kembali unggul 2-0 atas Juventus terus bertahan selama pertengahan babak kedua.

Juventus makin berusaha meningkatkan serangannya ke pertahanan tuan rumah Atalanta, namun lagi-lagi usaha membobol gawang kiper tuan rumah gagal.

Waktu normal makin menipis, Juve yang sudah tertinggal 0-2 dari tuan rumah, tampak tidak berhenti untuk melakukan serangan ke pertahanan Atalanta, namun serangan balik Atalanta justru membuahkan gol ke gawang Juventus pada menit ke-85 lewat tendangan Mario Palasic.

Juventus kembali tertinggal 0-3 dari tuan rumah Atalanta, bahkan hingga pertandingan berakhir, Juve yang tandang ke markas Atalanta tidak mampu membalas satu gol pun dari kebobolan gawangnya 0-3.

Pertandingan yang memang sengit ini, akhirnya Atalanta melenggang ke semifinal piala Coppa Italia musim 2025-2026. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tatap Pemilu 2029, PDIP Perluas Struktur Rakernas Jadi 7 Komisi

  Foto dok. DPP PDI Perjuangan JAKARTA , MENJUAL HARAPAN   – Bertepatan dengan peringatan HUT ke-53, PDI Perjuangan resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara. Rakernas kali ini tampil beda dengan membawa format organisasi yang lebih gemuk dan substansial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa forum tertinggi partai ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum krusial untuk melakukan evaluasi total melalui kritik dan otokritik. Hal ini dilakukan guna mempertajam arah perjuangan partai dalam menjawab berbagai persoalan bangsa yang kian kompleks. Fokus pada Persoalan Rakyat Langkah nyata dari penguatan struktur ini terlihat dari pembentukan **tujuh komisi kerja**, melonjak signifikan dari format sebelumnya yang biasanya hanya terdiri dari tiga komisi utama. “Penambahan komisi ini adalah bukti bahwa partai menaruh skala priori...

PEMBAJAKAN KEDAULATAN

Serangan AS ke Venezuela (Foto hasil tangkapan layar dari https://www.kbknews.id/) MENJUAL HARAPAN - Sejarah hubungan internasional , baru saja mencatat tinta hitam yang paling kelam di awal tahun 2026. Tindakan pemerintahan Donald Trump yang menginstruksikan operasi militer untuk menangkap kepala negara berdaulat di tanahnya sendiri , bukan lagi sekadar kebijakan luar negeri yang keras, melainkan sebuah anarkisme global. Apa yang terjadi di Caracas bukanlah sebuah pembebasan, melainkan "pembajakan kedaulatan" secara terang-terangan yang merobek paksa Piagam PBB dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Narasi yang dibangun Washington sangatlah klasik: penegakan hukum terhadap narko-terorisme dan perlindungan hak asasi manusia. Akan tetapi, d i balik tuduhan hukum tersebut, terdapat nafsu lama untuk mengamankan cadangan minyak terbesar di dunia. Trump tidak sedang bertindak sebagai polisi dunia, melainkan sebagai eksekutor kepentingan korporasi yang menggunakan kekuatan militer ...

Populisme Fiskal Vs Rasionalitas Teknis: Pelajaran dari Jawa Barat

Gedung Satu (Foto hasil tangkapan layar dari  https://koran.pikiran-rakyat.com ) K risis fiskal Jawa Barat akibat gaya kepemimpinan populis menunjukkan pentingnya keseimbangan antara populisme dan teknokratisme . P opulisme memberi legitimasi politik , dan kedekatan dengan rakyat, sementara teknokratisme menjaga rasionalitas, akuntabilitas, dan keberlanjutan kebijakan. Tanpa sintesis keduanya, populisme berisiko jatuh pada janji berlebihan tanpa realisasi, sedangkan teknokratisme murni bisa kehilangan dukungan rakyat. Kepala daerah idealnya merangkul rakyat sekaligus disiplin fiskal agar kebijakan tetap populer, efektif, dan berkelanjutan. Oleh: Silahudin Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung   MENJUAL HARAPAN - KEGAGALAN Pemerintah Provinsi Jawa Barat membayar kontraktor sebesar Rp 621 miliar pada akhir tahun anggaran 2025, bukan sekadar angka di neraca keuangan. Hal ini, cermin besar yang memperlihatkan bagaimana gaya kepemimpinan populis, meski mampu membangun kedekatan ...